Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Pink Moon Kembali Hiasi Langit Awal April 2026, Ini Penjelasan Ilmiahnya

Lugas Rumpakaadi • Rabu, 25 Maret 2026 | 20:15 WIB

Ilustrasi pink moon.
Ilustrasi pink moon.

RADARBANYUWANGI.ID - Fenomena langit yang dikenal sebagai Pink Moon akan kembali menghiasi langit pada awal April 2026. Peristiwa ini terjadi saat Bulan memasuki fase purnama dan tampak bulat sempurna dari Bumi, tepatnya pada 1 hingga 2 April 2026.

Berdasarkan perhitungan astronomi, puncak fase purnama diperkirakan terjadi pada 2 April 2026 pukul 09.13 WIB. Meski demikian, masyarakat Indonesia tetap dapat menikmati keindahan fenomena ini sejak malam sebelumnya, yaitu 1 April setelah Matahari terbenam.

Istilah Pink Moon kerap menimbulkan kesalahpahaman di masyarakat. Banyak yang mengira Bulan akan berubah warna menjadi merah muda. Namun, secara ilmiah hal tersebut tidak benar.

Peneliti dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menegaskan bahwa nama tersebut tidak berkaitan dengan perubahan warna Bulan.

“Nama Pink Moon diambil dari bunga phlox yang bermekaran saat musim semi. Jadi, ini murni istilah budaya, bukan fenomena perubahan warna bulan,” jelas peneliti astronomi BRIN.

Senada dengan itu, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyatakan bahwa Bulan purnama tetap memantulkan cahaya Matahari sehingga tampak putih terang atau sedikit kekuningan, seperti purnama pada umumnya.

Jika dalam kondisi tertentu Bulan terlihat jingga atau kemerahan, hal tersebut disebabkan oleh efek atmosfer. Ketika Bulan berada rendah di cakrawala, cahaya yang dipantulkan akan mengalami hamburan oleh partikel seperti debu dan polusi udara. Fenomena ini serupa dengan proses yang membuat Matahari tampak kemerahan saat terbit dan terbenam.

Secara historis, penamaan Pink Moon berasal dari tradisi masyarakat asli Amerika Utara. Mereka menamai bulan purnama berdasarkan fenomena alam musiman. Pada April, bunga liar berwarna merah muda, dikenal sebagai moss pink atau wild ground phlox, mulai bermekaran, sehingga purnama bulan tersebut disebut Pink Moon.

Selain itu, purnama April juga memiliki sejumlah julukan lain di dunia Barat, seperti Sprouting Grass Moon, Growing Moon, Egg Moon, dan Fish Moon. Nama-nama tersebut mencerminkan perubahan musim, mulai dari tumbuhnya tanaman hingga aktivitas migrasi hewan.

Fenomena Pink Moon bukanlah peristiwa langka dan terjadi setiap tahun tanpa dampak khusus bagi Bumi. Meski demikian, momen ini tetap menarik untuk diamati karena menghadirkan pemandangan langit malam yang indah.

Waktu terbaik untuk menyaksikannya adalah saat Bulan mulai terbit di ufuk timur hingga menjelang tengah malam, terutama di lokasi dengan langit cerah dan minim polusi cahaya. Saat berada dekat horizon, Bulan biasanya tampak lebih besar dan dramatis, menjadikannya objek yang menarik bagi pengamat langit maupun pecinta fotografi.

Selain memiliki nilai astronomi, Pink Moon juga memiliki makna budaya dan religius. Dalam tradisi Kristen, bulan purnama pertama setelah ekuinoks musim semi menentukan tanggal perayaan Paskah. Pada 2026, Paskah diperingati pada 5 April, menjadikan Pink Moon tahun ini sebagai penanda penting dalam kalender keagamaan.

Editor : Lugas Rumpakaadi
#bulan #purnama #pink moon