RADARBANYUWANGI.ID - Umat Muslim di berbagai penjuru dunia kini larut dalam suasana haru dan penuh syukur saat memasuki detik-detik terakhir Ramadan 1447 Hijriah atau Ramadan 2026.
Bulan suci yang selama ini dipenuhi ibadah perlahan menuju penghujung, menyisakan harapan dan doa yang terus dipanjatkan.
Suasana syahdu begitu terasa di masjid maupun musala. Para jemaah tampak khusyuk memperbanyak zikir, istigfar, serta melangitkan doa-doa terbaik.
Mereka berharap seluruh amal ibadah selama Ramadan, mulai dari puasa, salat tarawih, membaca Al-Qur’an, hingga sedekah, dapat diterima oleh Allah SWT.
Tak hanya itu, umat Islam juga memohon agar diberikan kesempatan untuk kembali dipertemukan dengan Ramadan di tahun-tahun mendatang.
Harapan tersebut menjadi doa yang hampir selalu terucap di penghujung bulan penuh berkah ini.
Momentum akhir Ramadan juga identik dengan upaya menjemput keberkahan 10 malam terakhir, termasuk malam yang paling dinantikan, yakni Lailatul Qadar.
Pada fase ini, banyak umat Muslim yang meningkatkan ibadah, salah satunya dengan melaksanakan iktikaf di masjid.
Di tengah suasana penuh perenungan tersebut, sejumlah doa dari para ulama dan tokoh Islam kembali digaungkan sebagai pengingat untuk memaksimalkan sisa waktu Ramadan.
Salah satunya adalah pesan dari Hasan al-Bashri yang menyentuh hati:
أَحْسِنْ فِيمَا بَقِيَ يُغْفَرْ لَكَ مَا مَضَى، فَاغْتَنِمْ مَا بَقِيَ فَلَا تَدْرِي مَتَى تُدْرِكُ رَحْمَةَ اللَّهِ
Artinya:
“Perbaiki apa yang tersisa, agar kesalahan yang telah lalu diampuni. Manfaatkan sebaik-baiknya apa yang masih tersisa, karena kamu tidak tahu kapan rahmat Allah itu akan dapat diraih.”
Pesan tersebut menjadi pengingat kuat bahwa akhir Ramadan bukan waktu untuk mengendurkan ibadah, melainkan momentum terakhir untuk memperbaiki diri dan menutup bulan suci dengan amalan terbaik.
Doa penuh makna juga diriwayatkan dari Abu Bakar Ash-Shiddiq yang memohon kebaikan di penghujung kehidupan:
اللَّهُمَّ اجْعَلْ خَيْرَ عُمْرِي آخِرَهُ، وَخَيْرَ عَمَلِي خَوَاتِمَهُ، وَخَيْرَ أَيَّامِي يَوْمَ أَلْقَاكَ
Artinya:
“Ya Allah, jadikan usia terbaikku ada di penghujungnya, amal terbaikku ada di penutupnya, dan hari terbaikku ketika aku bertemu dengan-Mu.”
Doa ini mengandung makna mendalam tentang pentingnya mengakhiri setiap perjalanan—termasuk Ramadan—dengan kebaikan dan kesempurnaan amal.
Para ulama juga menekankan bahwa kualitas penutup Ramadan sangat menentukan nilai ibadah seseorang.
Oleh karena itu, umat Islam dianjurkan untuk tidak menyia-nyiakan waktu yang tersisa, melainkan mengisinya dengan ibadah terbaik.
Beberapa amalan yang dianjurkan di akhir Ramadan antara lain memperbanyak doa, berdzikir, membaca Al-Qur’an, serta memohon ampunan dengan sungguh-sungguh.
Selain itu, muhasabah atau introspeksi diri juga menjadi bagian penting untuk mengevaluasi perjalanan spiritual selama sebulan penuh.
Dalam hitungan jam ke depan, umat Islam akan menyambut Hari Raya Idulfitri sebagai simbol kemenangan.
Namun, kemenangan sejati bukan hanya tentang perayaan, melainkan tentang hati yang kembali bersih, penuh keikhlasan, serta kesiapan untuk saling memaafkan.
Ramadan mungkin akan segera pergi, tetapi nilai-nilai yang telah ditanamkan selama bulan suci diharapkan tetap hidup dalam keseharian.
Harapan terbesar umat Muslim adalah agar seluruh amal diterima, dosa diampuni, dan diberikan kesempatan untuk kembali bertemu Ramadan di masa mendatang.
Di penghujung yang penuh haru ini, satu hal yang pasti: doa-doa terbaik terus melangit, membawa harapan akan rahmat dan ampunan dari Allah SWT. (*)
Editor : Ali Sodiqin