Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Komet 41P Bikin Ilmuwan Tercengang, Rotasinya Nyaris Berhenti lalu Berbalik Arah

Lugas Rumpakaadi • Jumat, 20 Maret 2026 | 07:15 WIB

Ilustrasi komet.
Ilustrasi komet.

RADARBANYUWANGI.ID - Sebuah komet yang melintas cepat di Tata Surya menarik perhatian ilmuwan setelah menunjukkan perilaku rotasi yang tidak biasa. Komet bernama 41P/Tuttle–Giacobini–Kresák diketahui mengalami perlambatan putaran ekstrem hingga nyaris berhenti, sebelum akhirnya diduga berputar kembali ke arah sebaliknya.

Fenomena ini diamati saat komet mendekati Matahari pada awal 2017. Dengan periode orbit sekitar 5,4 tahun, komet tersebut menjadi salah satu objek paling menarik dalam studi dinamika benda langit kecil.

Menurut astronom David Jewitt dari University of California, Los Angeles, perubahan arah rotasi pada komet sebenarnya bukan hal yang sepenuhnya baru. Namun, kasus yang terjadi pada komet 41P tergolong sangat ekstrem.

“Perubahan arah putaran bukan hal asing, tetapi kecepatan dan skalanya pada komet ini sangat luar biasa,” ujar Jewitt.

Pengamatan sepanjang 2017 menunjukkan perubahan yang sangat cepat. Pada Maret 2017, komet 41P memiliki periode rotasi sekitar 20 jam. Namun hanya dalam beberapa minggu, tepatnya Mei, rotasinya melambat drastis menjadi sekitar 53 jam.

Kejutan berikutnya terjadi pada akhir tahun. Pada Desember 2017, periode rotasi justru memendek menjadi sekitar 14,4 jam. Perubahan ini memunculkan dugaan bahwa komet sempat berhenti berputar sekitar Juni sebelum akhirnya berputar kembali ke arah berlawanan.

Fenomena ini dapat dijelaskan melalui proses sublimasi, yakni perubahan es menjadi gas saat komet mendekati Matahari. Gas yang menyembur keluar dari permukaan komet menciptakan gaya puntir atau torsi.

Pada komet kecil seperti 41P, yang berdiameter sekitar satu kilometer, efek ini menjadi sangat signifikan. Semburan gas dapat mempercepat, memperlambat, bahkan mengubah arah rotasi komet.

Dalam kondisi ekstrem, dorongan ini bahkan bisa membuat komet berputar terlalu cepat hingga terpecah.

Komet sendiri merupakan sisa-sisa pembentukan Tata Surya sekitar 4,5 miliar tahun lalu. Meski rapuh, objek ini terus berevolusi akibat paparan panas Matahari.

Perubahan drastis pada komet 41P memberi indikasi bahwa objek ini kemungkinan merupakan fragmen dari tubuh yang lebih besar di masa lalu. Seiring waktu, materialnya terkikis akibat proses sublimasi yang terus berlangsung.

Perilaku unik komet 41P memberikan wawasan baru bagi ilmuwan dalam memahami dinamika dan evolusi komet. Studi terhadap objek seperti ini diharapkan dapat membantu mengungkap lebih banyak rahasia tentang pembentukan dan perubahan Tata Surya.

Editor : Lugas Rumpakaadi
#Komet #tata surya