RADARBANYUWANGI.ID - Berakhirnya bulan suci Ramadan menjadi penanda datangnya Hari Raya Idulfitri yang penuh berkah dan kebahagiaan.
Momen kemenangan ini selalu disambut dengan suka cita oleh umat Islam di seluruh dunia, sebagaimana dicontohkan oleh Nabi Muhammad SAW.
Namun, di balik suasana perayaan, umat Islam tetap diingatkan untuk menjaga nilai-nilai spiritual, meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT, serta mempererat hubungan sosial di tengah masyarakat.
Rasulullah SAW sendiri telah memberikan teladan bagaimana merayakan Idulfitri dengan penuh makna tanpa berlebihan.
Berikut tujuh kebiasaan atau sunnah Rasulullah SAW saat Hari Raya Idulfitri yang patut diteladani:
- Makan Sebelum Salat Idulfitri
Salah satu sunnah yang dilakukan Rasulullah SAW adalah makan sebelum berangkat salat Idulfitri. Hal ini menjadi pembeda dengan Iduladha yang dianjurkan makan setelah salat.
Rasulullah SAW biasanya mengonsumsi kurma dalam jumlah ganjil sebelum berangkat salat. Kebiasaan ini memiliki makna simbolis sebagai penanda berakhirnya puasa Ramadan.
- Mengenakan Pakaian Terbaik
Pada hari raya, Rasulullah SAW mengenakan pakaian terbaik yang dimiliki. Bahkan, disebutkan bahwa beliau memiliki pakaian khusus yang hanya digunakan pada momen tertentu seperti Idulfitri dan hari Jumat.
Meski demikian, Islam tetap mengatur batasan, terutama bagi laki-laki yang dilarang mengenakan pakaian berbahan sutra.
- Membayar Zakat Fitrah Sebelum Salat
Rasulullah SAW menunaikan zakat fitrah sebelum pelaksanaan salat Idulfitri. Zakat ini bertujuan untuk menyucikan diri setelah Ramadan sekaligus membantu masyarakat yang membutuhkan.
Pembayaran zakat fitrah sebelum salat menjadi syarat agar zakat tersebut bernilai sempurna sebagai ibadah, bukan sekadar sedekah biasa.
- Membaca Surah Tertentu Saat Salat Id
Dalam pelaksanaan salat Idulfitri, Rasulullah SAW terbiasa membaca surah tertentu pada setiap rakaat, yakni Surah Qaf dan Al-Qamar.
Kedua surah ini mengandung pesan penting tentang keimanan, tanggung jawab manusia, serta peringatan agar tetap menjaga perilaku meski dalam suasana hari raya.
- Menempuh Rute Berbeda Saat Pergi dan Pulang
Kebiasaan unik lainnya adalah Rasulullah SAW menempuh rute yang berbeda saat berangkat dan pulang dari salat Id.
Tradisi ini memiliki hikmah untuk memperluas syiar Islam serta memperbanyak pertemuan dan silaturahmi dengan sesama umat.
- Bersuka Cita Tanpa Berlebihan
Hari Raya Idulfitri merupakan momen kebahagiaan yang diperbolehkan untuk dirayakan. Rasulullah SAW pun membolehkan adanya hiburan selama tidak melanggar syariat.
Beliau menegaskan bahwa setiap umat memiliki hari raya, dan Idulfitri adalah hari kebahagiaan bagi umat Islam. Namun, perayaan tetap harus dilakukan secara wajar dan tidak berlebihan.
- Silaturahmi dan Mengunjungi yang Sakit
Momentum Idulfitri juga dimanfaatkan Rasulullah SAW untuk mempererat silaturahmi. Beliau mengunjungi sahabat, menerima tamu, hingga menjenguk orang sakit.
Dalam ajaran Islam, menjaga hubungan sosial dan peduli terhadap sesama menjadi amalan yang sangat dianjurkan dan bernilai pahala besar.
Meneladani Makna Idulfitri yang Sebenarnya
Idulfitri bukan hanya tentang perayaan, tetapi juga refleksi diri setelah menjalani ibadah Ramadan.
Apa yang dicontohkan Rasulullah SAW menunjukkan bahwa kebahagiaan sejati terletak pada keseimbangan antara ibadah, kesederhanaan, dan kepedulian sosial.
Dengan meneladani sunnah-sunnah tersebut, umat Islam diharapkan dapat merayakan Idulfitri dengan lebih bermakna, tidak hanya meriah secara lahir, tetapi juga mendalam secara spiritual.
Hari kemenangan pun menjadi momen untuk kembali pada fitrah, memperbaiki diri, serta memperkuat hubungan dengan Allah SWT dan sesama manusia. (*)
Editor : Ali Sodiqin