Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Fenomena Langka: Komet ATLAS Terbelah Tepat Saat Diamati Hubble

Lugas Rumpakaadi • Jumat, 20 Maret 2026 | 05:15 WIB

Ilustrasi komet.
Ilustrasi komet.

RADARBANYUWANGI.ID - Teleskop luar angkasa Hubble Space Telescope milik NASA dan European Space Agency berhasil merekam peristiwa langka: pecahnya inti komet C/2025 K1 (ATLAS). Penemuan ini membuka wawasan baru tentang betapa rapuhnya struktur komet dan bagaimana mereka berevolusi hingga akhirnya hancur.

Peristiwa ini terjadi secara tak terduga. Profesor John Noonan dari Auburn University, salah satu penulis studi, mengungkapkan bahwa pengamatan tersebut bermula dari kondisi yang tidak direncanakan.

“Kadang-kadang sains terbaik terjadi secara tidak sengaja,” ujarnya. “Komet ini diamati karena target awal kami tidak dapat dilihat akibat kendala teknis baru. Kami harus mencari target baru, dan tepat saat diamati, komet itu justru pecah, sebuah peluang yang sangat kecil.”

Komet tersebut mencapai titik terdekatnya dengan Matahari (perihelion) pada 8 Oktober 2025, dengan jarak sekitar 0,33 AU, bahkan berada di dalam orbit Merkurius. Pada fase ini, komet mengalami pemanasan ekstrem dan tekanan maksimum yang dapat memicu keretakan inti.

Pengamatan lanjutan oleh Hubble pada 8–10 November 2025 berhasil mengidentifikasi lima fragmen komet. Ini menjadi salah satu dokumentasi resolusi tinggi paling awal dari proses kehancuran inti komet.

“Belum pernah sebelumnya Hubble menangkap komet yang terfragmentasi sedekat ini dengan waktu pecahnya,” kata Noonan. “Biasanya, pengamatan baru dilakukan beberapa minggu hingga sebulan setelahnya. Kali ini, kami melihatnya hanya dalam hitungan hari.”

Temuan ini memberikan petunjuk penting mengenai proses fisika di permukaan komet, khususnya pembentukan lapisan debu yang kemudian terlepas akibat tekanan gas dari dalam.

Saat ini, C/2025 K1 (ATLAS) telah menjadi kumpulan fragmen yang berada sekitar 400 juta kilometer dari Bumi, di rasi Pisces, dan sedang bergerak keluar dari Tata Surya—kemungkinan tidak akan pernah kembali.

Para astronom mencatat bahwa komet periode panjang seperti ini lebih rentan pecah dibandingkan komet periode pendek, seperti 67P/Churyumov-Gerasimenko yang pernah diteliti misi Rosetta. Namun, penyebab pasti perbedaan tersebut masih belum diketahui.

Profesor Colin Snodgrass dari University of Edinburgh menyatakan bahwa pengamatan ini akan sangat berharga bagi penelitian di masa depan.

“Pengamatan kebetulan Hubble terhadap C/2025 K1 (ATLAS) akan membantu kita memahami mengapa beberapa komet periode panjang terpecah dan memberi gambaran awal tentang bagian dalamnya,” katanya.

Ia menambahkan bahwa hasil ini akan melengkapi misi Comet Interceptor milik ESA yang direncanakan meluncur pada akhir dekade ini, sekaligus membantu para ilmuwan menentukan target pengamatan yang tepat.

Studi terkait temuan ini telah dipublikasikan pada 6 Februari 2026 dalam jurnal ilmiah Icarus.

Editor : Lugas Rumpakaadi
#Komet #atlas #hubble