Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Crocodylus lucivenator, Predator Raksasa yang Mungkin Memburu Leluhur Manusia

Lugas Rumpakaadi • Sabtu, 14 Maret 2026 | 01:15 WIB

Ilmuwan menemukan spesies buaya purba Crocodylus lucivenator.
Ilmuwan menemukan spesies buaya purba Crocodylus lucivenator.

RADARBANYUWANGI.ID - Para ilmuwan mengidentifikasi spesies baru buaya purba yang kemungkinan menjadi salah satu predator paling berbahaya bagi leluhur manusia di Afrika Timur lebih dari tiga juta tahun lalu. Spesies tersebut dinamai Crocodylus lucivenator, yang secara harfiah berarti “pemburu Lucy”.

Penemuan ini dipublikasikan pada 12 Maret dalam jurnal Journal of Systematic Palaeontology melalui penelitian yang dipimpin oleh University of Iowa. Nama tersebut merujuk pada Lucy, fosil terkenal dari spesies Australopithecus afarensis yang ditemukan pada 1974 di Ethiopia dan menjadi salah satu temuan paling penting dalam studi evolusi manusia.

Buaya purba ini hidup sekitar 3,4 juta hingga 3 juta tahun lalu, pada masa yang sama ketika Australopithecus afarensis menjelajahi lanskap Afrika Timur. Para peneliti memperkirakan panjang tubuhnya mencapai 3,6 hingga 4,5 meter dengan berat antara 270 hingga hampir 600 kilogram, menjadikannya predator puncak di ekosistemnya.

Profesor Christopher Brochu dari University of Iowa, penulis utama penelitian, mengatakan ancaman predator ini terhadap hominin awal kemungkinan sangat besar. “Buaya ini adalah predator terbesar di ekosistem tersebut, bahkan lebih dominan daripada singa dan hyena,” ujarnya. Ia menambahkan, “Hampir pasti buaya ini memangsa spesies Lucy. Jika melihat individu seperti Lucy, kemungkinan besar ia akan menganggapnya sebagai makan malam.”

Crocodylus lucivenator memiliki ciri khas berupa tonjolan besar di bagian tengah moncong, struktur yang diduga digunakan untuk menarik pasangan. Peneliti menduga pejantan memamerkan tonjolan itu saat ritual kawin, perilaku yang juga ditemukan pada beberapa buaya modern.

Identifikasi spesies ini dilakukan melalui analisis 121 fosil yang sebagian besar berupa tengkorak, gigi, dan fragmen rahang dari situs Hadar di wilayah Afar, Ethiopia. Lokasi ini terkenal karena menghasilkan banyak fosil penting terkait evolusi manusia dan telah ditetapkan sebagai Situs Warisan Dunia UNESCO.

Menurut para peneliti, penemuan Crocodylus lucivenator memberi gambaran baru tentang kerasnya kehidupan manusia purba. Sungai dan danau yang menjadi sumber air bagi leluhur manusia ternyata juga merupakan tempat persembunyian predator raksasa yang siap menyerang kapan saja.

Editor : Lugas Rumpakaadi
#Crocodylus lucivenator