Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Mars Tidak Beruntung, Mengapa Keseimbangan Oksigen di Bumi Sangat Berbeda dari Planet Lain?

Lugas Rumpakaadi • Rabu, 11 Maret 2026 | 12:58 WIB

Bumi beruntung karena kadar oksigen tepat saat inti terbentuk.
Bumi beruntung karena kadar oksigen tepat saat inti terbentuk.

RADARBANYUWANGI.ID - Mengapa Bumi begitu istimewa bagi kehidupan? Penelitian terbaru dari ETH Zurich memberikan jawaban mengejutkan.

Kunci utamanya bukan sekadar air atau jarak dari matahari, melainkan kadar oksigen yang sangat tepat saat inti Bumi terbentuk sekitar 4,6 miliar tahun lalu.

Studi yang dipimpin Craig Walton, peneliti pascadoktoral di Centre for Origin and Prevalence of Life ETH Zurich bersama Profesor Maria Schonbachler, mengungkap bahwa keseimbangan oksigen saat pembentukan inti planet menentukan apakah fosfor dan nitrogen, dua elemen kunci bagi kehidupan, akan tetap berada di mantel dan kerak bumi, atau justru terperangkap di inti maupun hilang ke atmosfer.

Fosfor berperan vital dalam pembentukan DNA, RNA, dan metabolisme energi sel, sementara nitrogen menjadi komponen utama protein.

Keduanya hanya dapat tersedia dalam jumlah cukup jika oksigen saat fase pembentukan inti berada dalam rentang yang sangat sempit, tidak terlalu rendah dan tidak terlalu tinggi, yang oleh para peneliti disebut sebagai chemical Goldilocks zone.

"Selama pembentukan inti planet, harus ada jumlah oksigen yang benar-benar tepat agar fosfor dan nitrogen dapat tetap berada di permukaan planet," jelas Walton.

"Jika kita memiliki sedikit lebih banyak atau sedikit lebih sedikit oksigen selama pembentukan inti, tidak akan ada cukup fosfor atau nitrogen untuk perkembangan kehidupan," tambahnya.

Temuan ini memiliki implikasi besar bagi pencarian kehidupan di luar Bumi. Kadar oksigen saat pembentukan planet ditentukan oleh komposisi kimia bintang induknya, sehingga pencarian planet layak huni harus difokuskan pada sistem bintang yang menyerupai Matahari.

"Hal ini membuat pencarian kehidupan di planet lain menjadi jauh lebih spesifik. Kita harus mencari sistem tata surya dengan bintang yang menyerupai Matahari kita sendiri," kata Walton.

Hasil penelitian ini telah dipublikasikan di jurnal Nature Astronomy pada 9 Februari 2026.

Editor : Lugas Rumpakaadi
#ETH Zurich #bumi