Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Pengajian dengan Bahasa Isyarat di Masjid Al-Fauz Banyuwangi, Pertama Kali Libatkan Jemaah Tuli

Tim Redaksi Radar Banyuwangi • Selasa, 10 Maret 2026 | 03:00 WIB

Para penyandang disabilitas tunarungu sedang berdiskusi setelah mendengarkan tausiah di Masjid Al-Fauz, kompleks Al-Irsyad Banyuwangi, Kamis (5/3).
Para penyandang disabilitas tunarungu sedang berdiskusi setelah mendengarkan tausiah di Masjid Al-Fauz, kompleks Al-Irsyad Banyuwangi, Kamis (5/3).

RADARBANYUWANGI.ID – Suasana pengajian Ramadan di Masjid Al-Fauz, kompleks Al-Irsyad Banyuwangi, terasa berbeda dari biasanya.

Selain penceramah yang menyampaikan tausiah, kegiatan tersebut juga menghadirkan penerjemah bahasa isyarat agar jemaah tunarungu dapat memahami materi ceramah secara langsung.

Pengajian yang digelar pada Kamis (5/3) sore itu menjadi salah satu langkah menghadirkan kegiatan keagamaan yang lebih inklusif bagi penyandang disabilitas, khususnya komunitas tuli di Banyuwangi.

Di samping penceramah, seorang penerjemah bahasa isyarat tampak berdiri dan menerjemahkan setiap kalimat tausiah melalui gerakan tangan, jari, serta ekspresi wajah yang jelas dan komunikatif.

Photo
Photo

Gerakan tersebut bukan sekadar gestur biasa. Setiap gerakan merupakan bentuk terjemahan dari pesan ceramah yang disampaikan penceramah agar dapat dipahami oleh para jemaah tunarungu yang hadir.

Jemaah Tunarungu Ikuti Pengajian dengan Khusyuk

Beberapa penyandang tunarungu terlihat duduk di barisan depan jemaah sambil memperhatikan dengan serius gerakan penerjemah bahasa isyarat.

Mata mereka terus mengikuti setiap gerakan tangan penerjemah yang berdiri di samping penceramah agar tidak melewatkan isi tausiah yang disampaikan.

Suasana tersebut menunjukkan antusiasme para jemaah tunarungu untuk ikut menimba ilmu agama bersama masyarakat umum selama bulan Ramadan.

Alfian, yang bertugas sebagai juru bahasa isyarat dalam kegiatan tersebut, mengatakan pengajian dengan penerjemah bahasa isyarat di Masjid Al-Fauz telah berlangsung selama tiga pekan terakhir.

Kegiatan tersebut digelar secara rutin setiap hari Kamis selama bulan Ramadan.

“Kegiatan mengaji di sini sudah berjalan tiga minggu setiap hari Kamis dengan adanya translator bahasa isyarat yang juga dihadiri teman-teman tuli di Masjid Al-Fauz,” ujarnya.

Pengajian Inklusif Pertama di Banyuwangi

Alfian mengaku sempat terkejut ketika pertama kali diminta menjadi penerjemah bahasa isyarat dalam pengajian tersebut.

Pasalnya, selama ini kegiatan mengaji bagi penyandang tunarungu biasanya dilakukan secara terpisah dalam forum khusus komunitas tuli.

“Saya waktu itu ditelepon untuk menjadi juru bahasa isyarat di Masjid Al-Fauz saat pengajian. Saya cukup kaget karena biasanya teman-teman tuli kalau mengaji mengadakan forum sendiri. Tapi di sini mereka bisa berkumpul dan mendapatkan kesempatan yang sama dengan jemaah lainnya,” katanya.

Menurut Alfian, pengajian dengan menghadirkan penerjemah bahasa isyarat ini menjadi yang pertama kali digelar di Banyuwangi.

“Di Banyuwangi baru kali ini ada pengajian dengan juru bahasa isyarat, walaupun di kota lain sebenarnya sudah ada sejak lama,” ujarnya.

Komunitas Tuli Ingin Belajar Agama Bersama

Sekretaris Gerakan untuk Kesejahteraan Tunarungu Indonesia (Gergatin) Banyuwangi, Abdullah, mengatakan kehadiran komunitas tuli dalam pengajian tersebut bertujuan untuk menimba ilmu agama bersama masyarakat umum.

Pria yang akrab disapa Dollah itu menjelaskan bahwa para penyandang tunarungu juga memiliki semangat yang sama untuk belajar agama dan memahami ajaran Islam.

“Teman-teman tuli yang hadir di sini ingin ikut mengaji bersama masyarakat lainnya dan mencari ilmu yang bermanfaat untuk dipraktikkan serta disampaikan kepada teman tuli lainnya,” ujarnya.

Menurut Dollah, sebelumnya para penyandang tunarungu belajar mengaji dengan cara membaca gerak bibir penceramah tanpa adanya penerjemah bahasa isyarat.

Metode tersebut tentu tidak mudah karena membutuhkan konsentrasi tinggi untuk memahami setiap kata yang diucapkan.

“Sebelumnya teman-teman tunarungu belajar mengaji hanya dengan memahami gerak bibir penceramah tanpa ada translator bahasa isyarat,” katanya melalui bahasa isyarat.

Belajar Mengaji dengan Bahasa Isyarat

Dollah menambahkan bahwa komunitas tuli Banyuwangi mulai mempelajari metode mengaji dengan bahasa isyarat sejak mengikuti pelatihan di Surabaya pada 19 Januari 2025.

Dalam pelatihan tersebut, para peserta mempelajari cara membaca huruf hijaiyah, melantunkan ayat Al-Qur’an, hingga memahami bacaan surat menggunakan bahasa isyarat khusus.

“Tanggal 19 Januari 2025 kami mulai latihan mengaji dengan bahasa isyarat di Surabaya, mulai dari huruf hijaiyah hingga membaca surat Al-Qur’an,” ungkapnya.

Ia menjelaskan bahwa bahasa isyarat untuk membaca Al-Qur’an memiliki aturan tersendiri yang berbeda dengan bahasa isyarat sehari-hari.

Dengan metode tersebut, proses belajar mengaji bagi penyandang tunarungu menjadi lebih mudah dipahami.

“Sekarang belajar melantunkan huruf hijaiyah serta ayat Al-Qur’an ada bahasa isyarat yang mempermudah dibandingkan hanya memahami secara verbal,” ujarnya.

Sosialisasi Mengaji bagi Teman Tuli

Ketua Gergatin Banyuwangi, Ricky Malevhy Reksatama, mengatakan pihaknya terus melakukan sosialisasi mengenai pembelajaran mengaji bagi penyandang tunarungu di berbagai wilayah Banyuwangi.

Menurutnya, komunitas tuli memiliki tanggung jawab untuk memperluas akses pembelajaran agama bagi sesama penyandang tunarungu.

“Kami punya tugas untuk mensosialisasikan bahasa isyarat mengaji kepada teman-teman tuli lainnya agar bisa belajar bersama,” ujarnya.

Saat ini kegiatan belajar mengaji bagi komunitas tuli telah dilaksanakan di beberapa lokasi di Banyuwangi.

Di antaranya di Desa Sumberberas, Kecamatan Muncar, serta di Shelter Dinas Sosial Banyuwangi yang rutin digelar setiap hari Minggu.

“Di sana teman-teman tuli belajar huruf hijaiyah, mengaji, hingga membaca surat Al-Qur’an bersama,” jelas Ricky.

Harapan Banyuwangi Lebih Inklusif

Ricky juga menceritakan pengalaman pribadinya ketika pernah mengikuti pengajian umum di wilayah Genteng.

Saat itu ia mengalami kesulitan memahami isi ceramah karena tidak ada penerjemah bahasa isyarat yang mendampingi kegiatan tersebut.

“Dulu pernah ikut pengajian dengan jemaah umum di Genteng, tapi tidak ada penerjemah bahasa isyarat sehingga cukup sulit memahami isi ceramah,” ujarnya.

Karena itu, ia berharap ke depan Banyuwangi semakin inklusif dengan menyediakan lebih banyak akses informasi bagi penyandang disabilitas, termasuk menghadirkan juru bahasa isyarat dalam berbagai kegiatan publik.

“Harapannya Banyuwangi bisa lebih inklusif dengan menghadirkan juru bahasa isyarat agar teman-teman tuli lebih mudah mengakses informasi,” katanya.

Harapan Ada TPQ Khusus Tunarungu

Sementara itu, salah satu jemaah tunarungu yang hadir dalam pengajian tersebut, Slamet Budiarti, juga menunjukkan kemampuannya melantunkan Surat Al-Fatihah menggunakan bahasa isyarat.

Slamet yang tergabung dalam Rumah Al-Qur’an Sahabat Tuli Banyuwangi berharap ke depan Banyuwangi memiliki fasilitas pendidikan Al-Qur’an khusus bagi penyandang tunarungu.

Ia juga berharap tersedia Al-Qur’an yang dilengkapi dengan panduan bahasa isyarat untuk memudahkan proses belajar mengaji.

“Harapannya ke depan ada TPQ khusus tunarungu di Banyuwangi serta Al-Qur’an dengan terjemahan bahasa isyarat yang bisa membantu kami belajar,” ujarnya.

Menurutnya, fasilitas tersebut sudah tersedia di beberapa kota besar seperti Yogyakarta dan Surabaya.

Dengan adanya pengajian inklusif seperti di Masjid Al-Fauz, diharapkan semakin banyak ruang belajar agama yang terbuka bagi semua kalangan, termasuk penyandang disabilitas. (ray/aif)

Editor : Ali Sodiqin
#komunitas tuli Banyuwangi #Masjid Al Fauz Al Irsyad Banyuwangi #bahasa isyarat Al Quran #pengajian bahasa isyarat Banyuwangi #Gergatin Banyuwangi #pengajian inklusif Banyuwangi