Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Pondok Ramadan SMPN 2 Banyuwangi: Ratusan Siswa Dapat Edukasi Cerdas Bermedia Sosial dari JP-RaBa

Ali Sodiqin • Kamis, 5 Maret 2026 | 05:00 WIB

KOMUNIKATIF: Narasumber dari Jawa Pos Radar Banyuwangi Salis Ali menyampaikan metari bijak bermedsos kepada para siswa SMPN 2 Banyuwangi, Rabu (4/3).
KOMUNIKATIF: Narasumber dari Jawa Pos Radar Banyuwangi Salis Ali menyampaikan metari bijak bermedsos kepada para siswa SMPN 2 Banyuwangi, Rabu (4/3).

RADARBANYUWANGI.ID - Kegiatan Pondok Ramadan di SMPN 2 Banyuwangi berlangsung penuh warna, Rabu (4/3).

Tidak hanya diisi dengan penguatan spiritual, ratusan siswa juga mendapatkan edukasi literasi digital bertema “Cerdas Bermedia Sosial”, “Cara Menulis Caption”, dan “Share dengan Bijak”.

Sejak pagi, ratusan siswa berkumpul di aula sekolah. Mereka tampak antusias mengikuti sesi edukasi yang merupakan bagian dari safari tahunan yang digelar Jawa Pos Radar Banyuwangi (JP-RaBa).

Kegiatan tersebut rutin dilakukan sebagai bentuk pembinaan kepada siswa-siswi di berbagai sekolah di Kabupaten Banyuwangi yang dikenal dengan julukan The Sunrise of Java.

Tak hanya menghadirkan tim JP-RaBa, pihak sekolah juga mengundang perwakilan Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Banyuwangi untuk memberikan dukungan pada kegiatan yang sarat nilai edukatif tersebut.

Edukasi Interaktif dan Kontekstual

Narasumber dari JP-RaBa, Salis Ali Muhyidin, menyampaikan materi dengan suasana komunikatif dan interaktif.

Ia mengajak para siswa untuk menjaga etika dalam menggunakan media sosial, terlebih di bulan suci Ramadan yang identik dengan pengendalian diri.

Materi difokuskan pada studi kasus persoalan-persoalan yang muncul akibat penggunaan media sosial yang tidak bijak.

Salis memaparkan berbagai modus penipuan digital, termasuk tautan berisi malware yang kerap disebarkan melalui akun media sosial maupun aplikasi perpesanan.

“Ada banyak modus penipuan seperti menggunakan link malware yang biasanya dikirim seseorang lewat akun media sosial hingga WA. Maka dari itu, kita harus bijak memanfaatkan medsos. Pastikan kebenaran informasi sebelum ikut menyebarkan informasi tersebut,” ujarnya di hadapan para siswa.

Selain itu, siswa juga diajak melihat data pertumbuhan penggunaan internet dari tahun ke tahun yang menunjukkan tren peningkatan signifikan, terutama di kalangan remaja.

Belajar Menulis Caption Positif

Dalam sesi tersebut, siswa diberi pemahaman tentang pentingnya menulis keterangan (caption) foto yang positif, tidak menyinggung pihak lain, serta menghindari komentar yang berpotensi memicu konflik.

“Terkadang komentar atau apa yang ditulis di media sosial bisa menimbulkan konflik jika tidak dituliskan dengan bijak,” terang Salis.

Ia menekankan bahwa esensi puasa tidak hanya menahan lapar dan haus, tetapi juga menahan emosi serta mengendalikan “jempol” sebelum mengetik dan membagikan sesuatu di media sosial.

“Puasa itu juga soal mengendalikan diri. Termasuk mengendalikan jempol sebelum komentar atau share sesuatu,” tegasnya.

Menurutnya, media sosial bisa menjadi ladang pahala apabila digunakan untuk menyebarkan kebaikan.

Sebaliknya, tanpa etika dan pertimbangan matang, media sosial berpotensi menimbulkan kesalahpahaman hingga perpecahan.

Siswa juga diberikan contoh-contoh caption yang santun dan relevan dengan kehidupan remaja tingkat SMP.

Caption yang baik, kata Salis, mampu menggambarkan isi foto dengan pembuka menarik dan ajakan positif.

Bangun Karakter Digital Sejak Dini

Kebiasaan sederhana seperti berpikir sebelum berkomentar dan memastikan kebenaran informasi sebelum membagikannya menjadi langkah awal membangun karakter digital yang baik.

Terlebih lagi, penggunaan media sosial di kalangan remaja saat ini semakin intens dan telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari.

“Sebelum menyebar sebuah informasi perlu dicek dulu muatannya. Yang utama dilihat, bermanfaat atau tidak,” paparnya.

Kepala SMPN 2 Banyuwangi, Dewi Astutik, menyambut positif kegiatan tersebut.

Ia menilai edukasi literasi digital sangat relevan dengan kondisi saat ini dan selaras dengan upaya pembentukan karakter serta penguatan akhlak siswa selama Ramadan.

“Sangat bagus. Ini sudah tahun yang sekian kami bersama Radar Banyuwangi menggelar acara yang rutin dilakukan setiap tahun ini,” katanya.

Menurutnya, ikhtiar tersebut penting untuk menanamkan kesadaran sejak dini tentang tanggung jawab bermedia sosial.

Kemajuan teknologi digital menuntut siswa untuk semakin akrab dengan gawai, sehingga perlu diimbangi dengan penguatan nilai dan etika.

“Kami berharap melalui pendekatan yang komunikatif dan kontekstual, generasi muda mampu memanfaatkan media sosial sebagai sarana menyebarkan kebaikan, bukan memicu konflik atau perpecahan,” pungkasnya. (sas/sgt)

Editor : Ali Sodiqin
#Pondok Ramadan #literasi digital #cara menulis caption #banyuwangi #cerdas bermedia sosial #smpn 2 banyuwangi