RADARBANYUWANGI.ID – Suasana religius sekaligus edukatif terasa di Gedung Grha Pena Jawa Pos Radar Banyuwangi, Jumat (27/2).
SDN 1 Mojopanggung mendapat giliran mengikuti kegiatan Pondok Ramadan yang dipusatkan di Seblang Room.
Puluhan siswa kelas 5A, 5B, dan 5C mengikuti rangkaian kegiatan dengan penuh antusias. Selain tilawah bersama dan Salat Dhuha berjamaah, siswa juga mendapatkan dua materi utama yang relevan dengan kehidupan pelajar di era digital.
Materi pertama disampaikan Agus Bustami, Guru Pendidikan Agama Islam (PAI) SDN 1 Mojopanggung.
Materi kedua bertema literasi digital yang dibawakan kru tim digital Jawa Pos Radar Banyuwangi, Niklaas Andries.
Isi Ramadan dengan Amalan Positif
Dalam pemaparan materi pertamanya, Agus Bustami menekankan pentingnya peran siswa dalam mengisi bulan Ramadan dengan kegiatan yang bermanfaat dan berpahala.
Ia mengajak siswa memperbanyak tilawah Al-Qur’an, bersedekah, serta menjalankan berbagai amalan kebaikan lainnya.
Menurutnya, Ramadan menjadi momentum terbaik untuk membentuk karakter disiplin dan meningkatkan kualitas ibadah sejak usia dini.
“Sebaik mungkin hindari terlalu banyak bermain gawai,” pesannya di hadapan para siswa.
Agus mengakui, bermain gawai saat berpuasa memang terasa mengasyikkan dan bisa menjadi hiburan. Namun, ia mengingatkan adanya potensi dampak negatif apabila tidak digunakan secara bijak.
“Scroll-nya dikurangi, lebih baik ganti dengan tadarus. Jarimu bisa jadi dosamu kalau tidak hati-hati,” tegasnya.
Pesan tersebut disampaikan untuk mengingatkan siswa agar tidak terjebak dalam penggunaan media sosial atau konten yang tidak bermanfaat selama Ramadan.
Bekal Empat Pilar Literasi Digital
Materi kedua yang tak kalah menarik adalah literasi digital. Niklaas Andries menekankan pentingnya memahami empat pilar literasi digital, yakni etika digital, budaya digital, keterampilan digital, dan keamanan digital.
“Dengan memahami pilar literasi digital ini siswa diharapkan bisa bijak dalam menggunakan media sosial secara bertanggung jawab,” ujarnya.
Ia menjelaskan, minimnya literasi digital dapat membuat siswa terjerumus dalam berbagai jebakan dunia maya.
Mulai dari kecanduan internet, terpapar berita hoaks, mengakses konten negatif, hingga perlahan menjauh dari interaksi sosial di dunia nyata.
Tak hanya berdampak pada perilaku, penggunaan media sosial yang tidak terkontrol juga berpotensi memengaruhi kondisi mental dan kesehatan anak.
“Anak bisa lebih mudah marah, merasa insecure, cemas, bahkan dalam kasus ekstrem bisa sampai mengakhiri hidupnya sendiri,” ungkapnya.
Tiga Kunci Bijak Bermedsos
Untuk meminimalkan dampak negatif tersebut, Niklaas memberikan tiga kunci utama. Pertama, bersikap kritis terhadap setiap informasi yang diterima.
Kedua, mampu mengontrol diri dalam penggunaan gawai. Ketiga, selalu mengkaji dan memverifikasi informasi sebelum mempercayai atau membagikannya.
Ia juga menekankan pentingnya membangun komunikasi yang baik dengan orang tua serta terus semangat belajar.
Pondok Ramadan yang digelar di Grha Pena ini menjadi perpaduan antara penguatan nilai keagamaan dan peningkatan literasi digital. Kegiatan berlangsung gayeng, interaktif, dan sarat pesan moral.
Melalui kegiatan ini, diharapkan siswa tidak hanya meningkat kualitas ibadahnya selama Ramadan, tetapi juga semakin cerdas dan bijak dalam memanfaatkan teknologi di era digital. (nic/sgt)
Editor : Ali Sodiqin