RADARBANYUWANGI.ID – Kegiatan Pondok Ramadan di SMPN 1 Giri, Banyuwangi, tak hanya diisi penguatan spiritual.
Rabu (26/2), ratusan siswa mendapatkan edukasi literasi digital bertema “Cerdas Bermedia Sosial, Cara Menulis Caption, dan Share dengan Bijak”.
Edukasi tersebut merupakan bagian dari safari tahunan yang digelar Radar Banyuwangi untuk memberikan pembinaan kepada siswa-siswi di berbagai sekolah di wilayah Banyuwangi.
Melalui materi ini, siswa diharapkan mampu memanfaatkan media sosial sebagai sarana berbagi kebaikan, bukan sumber konflik.
Interaktif dan Kontekstual dengan Dunia Remaja
Dalam suasana yang komunikatif dan interaktif, para siswa diajak memahami pentingnya menjaga etika saat menggunakan media sosial, terlebih di bulan suci Ramadan.
Materi difokuskan pada cara menulis caption yang positif, menghindari komentar yang menyakiti, serta tidak sembarang membagikan informasi yang belum terverifikasi.
Pemateri dari Radar Banyuwangi, Lugas Rumpakaadi, menekankan bahwa makna puasa tidak hanya menahan lapar dan haus, tetapi juga menahan emosi serta mengendalikan jempol sebelum mengetik dan membagikan konten di media sosial.
“Puasa itu juga soal mengendalikan diri. Termasuk mengendalikan jempol sebelum komentar atau share sesuatu,” ujarnya di hadapan para siswa.
Menurutnya, media sosial dapat menjadi ladang pahala jika digunakan secara bijak. Sebaliknya, tanpa pertimbangan dan etika, media sosial bisa memicu kesalahpahaman bahkan konflik.
Belajar Menulis Caption yang Santun
Dalam sesi tersebut, siswa diberikan contoh-contoh caption yang santun dan relevan dengan kehidupan remaja usia SMP.
Tema yang diangkat pun dekat dengan keseharian mereka, mulai dari pertemanan hingga dinamika “cinta-cintaan” khas usia remaja, namun tetap dalam koridor etika dan kesopanan.
“Termasuk tema pertemanan dan dinamika atau dunia cinta-cintaan khas usia SMP, namun tetap dalam koridor etika,” kata Lugas.
Ia menambahkan, kebiasaan sederhana seperti berpikir sebelum berkomentar dan memastikan kebenaran informasi sebelum membagikannya merupakan langkah awal membangun karakter digital yang baik.
Terlebih, penggunaan media sosial di kalangan remaja saat ini semakin intens dan telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari.
Analisis Studi Kasus Unggahan Medsos
Tak sekadar pemaparan materi, kegiatan juga diisi dengan sesi tanya jawab dan studi kasus. Para siswa diminta menganalisis contoh unggahan yang berpotensi menimbulkan kesalahpahaman atau konflik.
Mereka kemudian diajak mendiskusikan cara menyikapi unggahan tersebut secara bijak dan tidak reaktif.
Antusiasme peserta terlihat dari banyaknya siswa yang mengajukan pertanyaan serta berbagi pengalaman tentang aktivitas mereka di media sosial.
Pendekatan ini dinilai efektif karena siswa tidak hanya menerima teori, tetapi juga belajar langsung dari contoh konkret yang dekat dengan keseharian mereka.
Dukungan Sekolah untuk Pembentukan Karakter Digital
Kepala SMPN 1 Giri, Hadi Bagijono, menyambut positif kegiatan tersebut. Ia menilai edukasi literasi digital sangat relevan dengan kondisi saat ini dan selaras dengan upaya pembentukan karakter serta penguatan akhlak siswa selama Ramadan.
“Tentunya bagus ya, safari edukasi yang rutin dilakukan setiap tahun oleh Radar Banyuwangi ini dapat menanamkan kesadaran sejak dini tentang tanggung jawab bermedia sosial,” ujar Hadi.
Ia berharap melalui pendekatan yang komunikatif dan kontekstual, generasi muda mampu memanfaatkan media sosial sebagai sarana menyebarkan kebaikan, bukan memicu konflik atau perpecahan.
Menurutnya, kolaborasi antara sekolah dan media menjadi langkah strategis dalam membentuk generasi yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga bijak dalam berperilaku di ruang digital.
Dengan edukasi semacam ini, Pondok Ramadan di SMPN 1 Giri tidak hanya memperkuat nilai spiritual siswa, tetapi juga membekali mereka dengan keterampilan literasi digital yang sangat dibutuhkan di era modern. (gas/aif)
Editor : Ali Sodiqin