RADARBANYUWANGI.ID - Ramadan selalu menghadirkan satu pertanyaan yang berulang setiap tahun, namun apakah malam Lailatul Qadar bisa dihitung secara pasti?
Umat Islam meyakini malam ini sebagai malam paling istimewa, lebih baik dari seribu bulan. Namun hingga kini, tidak ada satu pun metode yang benar-benar dapat memastikan tanggal pastinya.
Lailatul Qadar disebut secara khusus dalam Al-Qur'an, tepatnya dalam Surah Al-Qadr. Dalam surah tersebut dijelaskan bahwa malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan dan para malaikat turun membawa ketetapan hingga terbit fajar.
Lalu, apakah ada cara menghitungnya?
Dalam sejumlah hadis yang diriwayatkan dan tercatat dalam Sahih Bukhari serta Sahih Muslim, Nabi memerintahkan umat Islam untuk mencari Lailatul Qadar di sepuluh malam terakhir Ramadan, terutama pada malam-malam ganjil.
Riwayat tersebut menjadi dasar utama para ulama bahwa Lailatul Qadar tidak bisa dipastikan dengan rumus matematis atau kalender tertentu. Ia bukan malam yang “ditetapkan” untuk diketahui manusia secara pasti, melainkan malam yang harus diupayakan pencariannya melalui peningkatan ibadah.
Mengapa Dirahasiakan?
Sebagian ulama menjelaskan, waktu Lailatul Qadar sengaja dirahasiakan sebagai bentuk ujian kesungguhan.
Jika tanggalnya diketahui secara pasti, dikhawatirkan umat hanya akan beribadah maksimal pada satu malam saja dan mengabaikan malam lainnya.
Imam An-Nawawi menjelaskan bahwa hikmah dirahasiakannya malam tersebut serupa dengan dirahasiakannya waktu mustajab pada hari Jumat. Tujuannya agar umat memperbanyak ibadah sepanjang waktu yang dianjurkan, bukan hanya di satu titik tertentu.
Apakah Benar Malam ke-27?
Di tengah masyarakat, malam ke-27 Ramadan sering dianggap sebagai malam Lailatul Qadar.
Keyakinan ini berkembang karena ada sejumlah riwayat yang menunjukkan kemungkinan kuat pada malam tersebut. Namun mayoritas ulama menegaskan bahwa hal itu bukan kepastian mutlak.
Beberapa sahabat Nabi memiliki pendapat berbeda tentang tanggalnya. Ada yang meyakini malam ke-21, 23, atau 25.
Perbedaan ini justru menunjukkan bahwa malam tersebut tidak dikunci pada satu tanggal tertentu.
Pendekatan Perhitungan yang Beredar
Di era modern, muncul berbagai metode “perhitungan” berbasis pola ganjil-genap, awal Ramadan, bahkan rumus numerologi tertentu. Namun para ulama sepakat bahwa pendekatan semacam itu tidak memiliki dasar kuat dalam dalil syar’i.
Penentuan awal Ramadan sendiri bisa berbeda antarnegara karena metode rukyat dan hisab. Jika awalnya saja bisa berbeda, maka klaim kepastian tanggal Lailatul Qadar menjadi semakin sulit dipastikan secara universal.
Tanda-Tanda Lailatul Qadar
Hadis menyebut beberapa tanda, di antaranya malam terasa tenang, tidak terlalu panas atau dingin, serta matahari terbit keesokan paginya tampak tidak menyilaukan. Meski begitu, tanda-tanda tersebut bukan alat hitung, melainkan indikasi yang hanya bisa dikenali setelah malam berlalu.
Artinya, seseorang tidak bisa memastikan sebelumnya bahwa malam ini pasti Lailatul Qadar. Yang bisa dilakukan adalah memaksimalkan ibadah sepanjang sepuluh malam terakhir.
Alih-alih sibuk mencari rumus, para ulama menganjurkan strategi konsisten dengan memperbanyak salat malam, membaca Al-Qur’an, berzikir, dan berdoa di sepuluh malam terakhir, terutama malam ganjil.
Doa yang dianjurkan Nabi adalah memohon ampunan dan keselamatan. Pendekatan ini lebih realistis dan sesuai tuntunan syariat dibanding mencoba menghitung secara spekulatif.
Editor : Agung Sedana