RADARBANYUWANGI.ID – Suasana penuh semangat dan antusiasme tampak mewarnai kegiatan Pondok Ramadan di SDN Kepatihan, Rabu (25/2).
Tidak hanya mendapat penguatan nilai-nilai keagamaan, para siswa juga dibekali literasi digital serta keterampilan menulis keterangan (caption) foto yang singkat, jelas, menarik, dan relevan.
Peserta kegiatan kemarin merupakan siswa kelas 4. Sejak pagi, mereka mengikuti rangkaian kegiatan dengan tertib dan penuh semangat.
Mulai dari doa bersama hingga sesi edukasi bermedia sosial yang dikemas interaktif.
Kepala SDN Kepatihan, Suliantari, menjelaskan bahwa Pondok Ramadan telah dimulai sejak 23 Februari dan akan berlangsung sepanjang bulan suci dengan sistem bergiliran dari kelas 1 hingga kelas 6.
“Sejak awal masuk tanggal 23 Februari, setiap hari murid dari kelas 1 sampai 6 secara bergiliran mengikuti Pondok Ramadan,” ujarnya.
Perkuat Ibadah dan Karakter Siswa
Menurut Suliantari, kegiatan Pondok Ramadan diisi dengan doa bersama setiap pagi, salat duha berjamaah, serta kewajiban mengenakan busana muslim ke sekolah.
Para siswa juga menerima berbagai materi keislaman untuk memperkuat pemahaman serta praktik ibadah sehari-hari.
Melalui kegiatan tersebut, sekolah ingin membangun karakter religius sekaligus menanamkan kedisiplinan dan kebersamaan di kalangan siswa sejak usia dini.
“Pondok Ramadan ini bukan sekadar kegiatan seremonial, tapi benar-benar menjadi sarana pembiasaan ibadah dan pembentukan karakter anak-anak,” jelasnya.
Di akhir rangkaian kegiatan, Pondok Ramadan akan ditutup dengan khotmil Quran yang dibacakan bersama oleh siswa dan guru.
Momentum tersebut diharapkan menjadi puncak penguatan spiritual sekaligus kebersamaan warga sekolah.
Edukasi Cerdas Bermedia Sosial
Menariknya, Pondok Ramadan tahun ini tidak hanya fokus pada penguatan nilai keagamaan.
Sekolah juga memasukkan materi literasi digital sebagai bagian dari pembelajaran kontekstual yang relevan dengan perkembangan zaman.
Dalam sesi edukasi tersebut, siswa mendapatkan pemahaman tentang pentingnya bijak menggunakan media sosial.
Mereka diajarkan bagaimana memilah informasi sebelum dibagikan, menjaga etika dalam berkomentar, serta memahami jejak digital.
Materi literasi digital tersebut diisi oleh tim dari Jawa Pos Radar Banyuwangi (JP-RaBa).
“Selain ilmu keagamaan, ada juga edukasi cerdas bermedsos yang diisi oleh tim Jawa Pos Radar Banyuwangi. Anak-anak diajarkan bagaimana menulis caption dan membagikan konten secara bijak,” tambah Suliantari.
Para siswa diajak praktik langsung menulis caption foto kegiatan mereka. Guru dan pemateri kemudian memberikan masukan agar tulisan yang dibuat tetap singkat, jelas, tidak menyinggung pihak lain, serta sesuai konteks.
Tampil di Festival Ngerandu Buko
Tidak hanya aktif di lingkungan sekolah, siswa SDN Kepatihan juga terlibat dalam kegiatan Ramadan di luar sekolah.
Salah satunya dengan tampil dalam Festival Ngerandu Buko yang digelar di kawasan Pantai Boom.
Partisipasi tersebut menjadi ajang bagi siswa untuk menumbuhkan rasa percaya diri sekaligus mempererat hubungan antara sekolah dan masyarakat.
Koordinator Wilayah Kerja Satuan Pendidikan (Korwilkersatdik) Banyuwangi, Janoto, yang turut hadir dalam kegiatan Pondok Ramadan kemarin menyampaikan apresiasinya terhadap inovasi yang dilakukan SDN Kepatihan.
Ia menilai, kegiatan tersebut tidak hanya memperkuat aspek religius, tetapi juga membentuk karakter siswa agar lebih bertanggung jawab sebagai generasi muda di era digital.
“Kegiatan Pondok Ramadan ini membentuk karakter siswa dan menyadarkan mereka tentang kewajiban sebagai muslim,” pungkasnya.
Dengan perpaduan nilai spiritual dan literasi digital, Pondok Ramadan di SDN Kepatihan menjadi contoh bagaimana pendidikan karakter dapat dikemas adaptif mengikuti perkembangan zaman tanpa meninggalkan akar nilai keagamaan. (ray/sgt)
Editor : Ali Sodiqin