RADARBANYUWANGI.ID - Di tepi Pantai Andelan, Desa Sumberkencono, Kecamatan Wongsorejo, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur, berdiri sebuah pondok pesantren (ponpes) dengan konsep tak biasa. Namanya Pondok Pesantren Entrepreneur Kelautan Nurul Quran.
Jarak antara ombak dan bangunan pondok hanya sekitar lima langkah kaki. Bahkan, beberapa ruang belajar berbatasan langsung dengan pasir pantai.
Kedekatan geografis itu bukan sekadar lanskap indah, tetapi menjadi ruang belajar hidup bagi para santri.
Di pesantren ini, santri tak hanya mengaji dan mempelajari kitab. Mereka juga belajar menjaga laut, memahami ekosistem pesisir, hingga membudidayakan benih ikan kakap putih dalam skala besar.
Bersih Pantai Jadi Rutinitas Harian
Saat matahari baru muncul di ufuk timur, puluhan santri sudah turun ke pantai membawa sapu dan karung.
Mereka memungut sampah “kiriman” dari tengah laut yang terbawa ombak ke pesisir.
“Bersih-bersih ini rutin dilakukan pagi dan sore. Termasuk saat Ramadan ini. Kami menumbuhkan pemahaman kepada anak-anak bahwa laut ini milik kita bersama, jadi harus dijaga bersama,” ujar Pengasuh Ponpes, Mochamad Ridwan Hasan.
Setiap hari, 6 hingga 8 gerobak dorong sampah—sekitar 300 sampai 400 kilogram—berhasil dikumpulkan.
Jika terjadi banjir di wilayah hulu dan sampah laut meningkat, pihak pesantren bahkan harus menyewa mobil pikap untuk mengangkutnya.
“Sementara kami belum bisa mengolah semua sampah. Mungkin hanya 30 persen yang kami manfaatkan, terutama kayu untuk bahan bakar dan aksesori,” jelas Ridwan.
Konsep Pendidikan Berbasis Kearifan Lokal
Ponpes yang berdiri sejak 2018 ini dirancang dengan konsep pembelajaran berbasis kearifan lokal pesisir. Selain pembelajaran formal dan ilmu agama Islam, santri mendapat materi kemaritiman.
Materinya dimulai dari dasar: menjaga lingkungan laut, mengenal flora dan fauna pesisir, hingga memahami konsep blue economy—pemanfaatan sumber daya laut secara berkelanjutan.
“Banyuwangi ini kabupaten dengan garis pantai terpanjang di Jawa Timur. Kalau tidak ada pondok yang concern terhadap laut, ke depannya akan sulit lahir generasi yang peduli kepada laut,” ungkap alumnus S2 Manajemen Pendidikan Islam UIN Maulana Malik Ibrahim Malang itu.
Rawat 100 Ribu Benih Kakap Putih
Selepas sahur, tahajud, dan salat subuh berjamaah, beberapa santri pilihan mendapat tugas khusus: merawat benih ikan kakap putih (Lates calcarifer).
Pada Ramadan kali ini, sekitar 100 ribu benih dirawat dalam 75 bak hatchery berukuran 1,5 meter.
Setiap hari santri mengawasi kondisi air, mengganti air, memberi pakan, hingga memberikan obat bila ada bibit yang sakit.
Berbeda dari budidaya pada umumnya yang fokus pembesaran hingga konsumsi, pesantren ini justru mengajarkan proses paling krusial: menetaskan telur hingga menjadi bibit berukuran 5–10 sentimeter.
“Kita besarkan sampai bibit ukuran 5 sampai 10 sentimeter, lalu dikirim ke beberapa tambak,” jelas Ridwan.
Tahap ini memiliki risiko kematian lebih tinggi dan membutuhkan ketelatenan. Prosesnya pun panjang, bisa mencapai 8–9 bulan. Karena itu, selain keterampilan teknis, santri juga dilatih kesabaran dan ketekunan.
Hasilnya Dipasarkan ke Luar Daerah
Bibit ikan yang telah siap jual dipasarkan ke sejumlah daerah seperti Situbondo, Surabaya, Bogor, hingga Bali. Hasilnya kembali untuk operasional pesantren dan kebutuhan santri.
Selain itu, pesantren juga mengembangkan produk olahan hasil laut seperti bagiak rumput laut, stik rumput laut, hingga dimsum rumput laut.
Di sela aktivitas seperti wirid sore, pengajian kitab Taklimul Mutaalim, hingga Khotmil Quran pada malam hari, beberapa santri tetap memantau hatchery. Hingga larut malam sebelum kolam ditutup, pengawasan tetap dilakukan.
Pendidikan Terjangkau dan Beasiswa Penuh
Mayoritas santri berasal dari Desa Sumberkencono dan Kecamatan Wongsorejo yang tinggal di pesisir. Banyak di antaranya bersekolah dengan beasiswa penuh.
Pesantren ini juga menaungi lembaga pendidikan formal dari TK hingga SMK bernama Sunan Kalijaga School yang seluruhnya telah terakreditasi.
“Misi kami agar masyarakat mendapat pendidikan terjangkau. Semua anak yang tidak bisa menjangkau pesantren besar atau sekolah tetap bisa datang ke sini,” tegas Ridwan.
Nama “Entrepreneur Kelautan Nurul Quran” sendiri mengandung harapan agar santri memiliki jiwa kewirausahaan sekaligus mendapat cahaya dari Al Quran.
Lulusan Lanjut Kuliah Kelautan
Sejak berdiri, sudah empat angkatan yang lulus. Banyak alumni yang awalnya tidak memiliki latar belakang pesisir, tetapi kemudian tertarik mendalami ilmu kelautan.
Sebagian melanjutkan studi di kampus seperti Universitas Airlangga, UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, hingga Universitas Trunojoyo Madura dengan mengambil jurusan terkait kemaritiman.
Ridwan meyakini perubahan minat itu lahir dari kebiasaan yang terus ditanamkan.
“Witing tresno jalaran soko kulino. Sesuatu yang dilakukan terus menerus bisa menjadi kebiasaan, bahkan kecintaan. Termasuk di bidang maritim ini,” tuturnya.
Beberapa alumni bahkan kembali ke pesantren dengan membawa rekan mahasiswa untuk berbagi ilmu kelautan kepada adik-adik kelasnya.
Menjaga Laut sebagai Wujud Ibadah
Bagi Ridwan, menjaga laut bukan sekadar aktivitas sosial atau ekonomi, melainkan bagian dari implementasi nilai-nilai Al Quran.
“Banyak ayat di dalam Al Quran yang memerintahkan manusia mempelajari ayat-ayat Allah di dunia. Secara faktual dunia kita 70 persen berisi lautan. Komitmen menjaga laut adalah wujud mempelajari ayat-ayat-Nya,” pungkasnya.
Di sudut pesisir Wongsorejo, para santri membuktikan bahwa pendidikan agama dan kewirausahaan maritim dapat berjalan beriringan.
Dari pantai kecil di Sumberkencono, lahir generasi yang tak hanya paham kitab, tetapi juga piawai menjaga dan mengelola laut secara berkelanjutan. (fre/sgt)
Editor : Ali Sodiqin