Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Matahari Mengamuk Lagi, Seberapa Berbahaya Flare X4.2 bagi Bumi?

Lugas Rumpakaadi • Minggu, 8 Februari 2026 | 02:15 WIB
Matahari lepaskan flare X4.2 awal Februari 2026.
Matahari lepaskan flare X4.2 awal Februari 2026.

RADARBANYUWANGI.ID - Matahari kembali menunjukkan peningkatan aktivitas signifikan setelah melepaskan semburan energi besar berupa flare kelas X4.2 pada awal Februari 2026.

Fenomena ini terpantau oleh berbagai observatorium antariksa dan menjadi perhatian serius para ilmuwan dari NASA serta Badan Kelautan dan Atmosfer Nasional Amerika Serikat (NOAA) karena potensi dampaknya terhadap cuaca antariksa di sekitar Bumi.

Flare Matahari merupakan ledakan energi elektromagnetik akibat perubahan mendadak medan magnet di atmosfer Matahari.

Berdasarkan klasifikasi internasional, flare dibagi ke dalam kelas A, B, C, M, dan X, dengan kelas X sebagai yang paling kuat.

Angka 4.2 menunjukkan intensitas flare tersebut berada 4,2 kali di atas ambang dasar kelas X, sehingga menghasilkan pancaran sinar-X dan radiasi ultraviolet dalam jumlah besar.

Menurut NASA, flare X4.2 ini berasal dari wilayah aktif dengan struktur medan magnet yang sangat kompleks.

“Wilayah aktif tersebut sebelumnya telah menghasilkan beberapa flare kuat, menandakan Matahari sedang berada dalam fase aktif siklusnya,” jelas NASA dalam keterangannya, dikutip Sabtu (7/2/2026).

Siklus Matahari sendiri berlangsung sekitar 11 tahun dan ditandai oleh fluktuasi aktivitas seperti bintik Matahari, flare, dan lontaran massa korona.

NOAA menjelaskan bahwa dampak flare dapat dirasakan di Bumi dalam hitungan menit.

“Radiasi elektromagnetik bergerak secepat cahaya dan mampu meningkatkan ionisasi ionosfer,” ungkap NOAA.

Kondisi ini berpotensi mengganggu komunikasi radio gelombang pendek serta sistem navigasi satelit, terutama di wilayah yang sedang mengalami siang hari.

Namun, para ilmuwan menegaskan bahwa flare ini tidak disertai lontaran massa korona besar yang mengarah langsung ke Bumi.

Tanpa peristiwa tersebut, risiko badai geomagnetik besar, gangguan jaringan listrik, dan kerusakan satelit dinilai relatif rendah.

NASA dan NOAA terus memantau aktivitas Matahari menggunakan instrumen seperti Solar Dynamics Observatory.

Pemantauan berkelanjutan ini penting untuk memberikan peringatan dini sekaligus melindungi teknologi dan aktivitas manusia dari dampak cuaca antariksa ekstrem.

Editor : Lugas Rumpakaadi
#NOAA #bumi #matahari #nasa