Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Ahli Saraf AS Bongkar Fakta Suram Dampak Teknologi pada Otak Gen Z

Lugas Rumpakaadi • Sabtu, 7 Februari 2026 | 23:15 WIB
Ahli saraf AS memperingatkan penurunan kecerdasan Gen Z akibat teknologi pendidikan digital.
Ahli saraf AS memperingatkan penurunan kecerdasan Gen Z akibat teknologi pendidikan digital.

RADARBANYUWANGI.ID - Selama puluhan tahun, dunia pendidikan meyakini bahwa setiap generasi baru akan tumbuh lebih cerdas dibandingkan generasi sebelumnya.

Namun, keyakinan tersebut kini dipertanyakan.

Sejumlah ahli saraf di Amerika Serikat memperingatkan bahwa Generasi Z (Gen Z) justru menjadi generasi pertama yang mengalami penurunan kecerdasan dan perkembangan kognitif dibandingkan generasi milenial.

Ahli saraf asal Amerika Serikat, Jared Cooney Horvath, menyampaikan temuan tersebut dalam kesaksiannya di hadapan Komite Senat AS.

Ia menegaskan bahwa penggunaan teknologi pendidikan atau Education Technology (EdTech) secara masif merupakan faktor utama di balik fenomena ini.

“Jika Anda melihat datanya, begitu negara-negara mengadopsi teknologi digital secara luas di sekolah, kinerja akan menurun secara signifikan,” ujar Horvath.

Menurut Horvath, penurunan tersebut mencakup hampir seluruh aspek kognitif inti, seperti rentang perhatian, daya ingat, kemampuan literasi dan numerasi, hingga keterampilan pemecahan masalah.

Data menunjukkan, kemerosotan ini mulai terlihat jelas sejak sekitar tahun 2010, bertepatan dengan meningkatnya penggunaan perangkat digital di ruang kelas.

Ironisnya, Gen Z justru menghabiskan waktu sekolah lebih lama dibandingkan generasi sebelumnya.

Horvath menjelaskan bahwa otak manusia secara biologis tidak dirancang untuk menyerap informasi melalui video pendek atau ringkasan teks instan.

Ketergantungan pada konten visual singkat dan kecerdasan buatan dinilai melemahkan kemampuan berpikir kritis.

“Lebih dari setengah waktu seorang remaja terjaga, setengahnya dihabiskan untuk menatap layar,” tegasnya.

Ia menambahkan bahwa pemahaman ide kompleks hanya dapat dicapai melalui membaca mendalam dan interaksi sosial langsung.

Evolusi manusia, menurut Horvath, menuntut proses belajar melalui dialog tatap muka dengan guru dan teman sebaya, bukan sekadar menggulir layar digital.

Fenomena ini tidak hanya terjadi di Amerika Serikat.

Tren serupa ditemukan di setidaknya 80 negara yang mengintegrasikan teknologi digital secara intensif dalam pendidikan.

Horvath menegaskan bahwa solusi bukan terletak pada teknologi yang lebih canggih, melainkan pada evaluasi ulang peran teknologi itu sendiri dalam proses belajar manusia.

Editor : Lugas Rumpakaadi
#kecerdasan #teknologi #Gen Z