RADARBANYUWANGI.ID - Studi terbaru NASA kembali mengguncang pemahaman lama mengenai asal-usul air di Bumi.
Berdasarkan analisis mendalam terhadap sampel Bulan yang dikumpulkan lebih dari 50 tahun lalu melalui misi Apollo, para ilmuwan menemukan bukti kuat bahwa air di Bumi kemungkinan besar tidak terutama berasal dari hantaman meteor, sebagaimana teori populer yang selama ini dipercaya.
Selama puluhan tahun, para ilmuwan beranggapan bahwa air Bumi dibawa oleh meteorit kaya air yang menghantam planet muda miliaran tahun silam.
Namun, teori ini menghadapi keterbatasan bukti langsung.
Permukaan Bumi terus berubah akibat aktivitas geologi, erosi, dan cuaca, sehingga jejak tabrakan purba sulit dipertahankan.
Kondisi berbeda ditemukan di Bulan.
Tanpa atmosfer, air, dan tektonik lempeng, permukaan Bulan berfungsi sebagai arsip alami sejarah benturan di Tata Surya.
Inilah yang dimanfaatkan NASA dalam studi terbarunya.
Analisis Isotop Oksigen Jadi Kunci
Dalam penelitian tersebut, tim ilmuwan NASA menganalisis regolit Bulan menggunakan teknik analisis isotop oksigen presisi tinggi.
Metode ini memungkinkan penelusuran asal material permukaan Bulan, khususnya kontribusi meteorit kaya karbon yang selama ini dianggap sebagai pembawa utama air.
Hasilnya cukup mengejutkan.
Penelitian menunjukkan bahwa hanya sekitar satu persen material permukaan Bulan berasal dari meteorit jenis tersebut.
Justin Simon, ilmuwan planet di NASA Johnson Space Center sekaligus salah satu penulis studi, menegaskan bahwa temuan ini sangat membatasi peran meteorit sebagai sumber utama air Bumi.
“Hasil studi kami menunjukkan bahwa meskipun meteorit memang membawa air, jumlahnya tidak cukup untuk menjelaskan seluruh air yang ada di Bumi,” ujar Simon.
Meteorit Bukan Pemasok Utama Air Bumi
Ketika data dari Bulan ini disesuaikan dengan kondisi Bumi, yang mengalami frekuensi benturan jauh lebih tinggi, kontribusi air dari meteorit tetap hanya menyumbang sebagian kecil dari total air lautan saat ini.
Temuan ini mengarah pada kesimpulan bahwa sebagian besar air Bumi kemungkinan sudah ada sejak planet ini terbentuk, atau berasal dari proses kimia awal di fase sangat dini pembentukan Tata Surya.
Peneliti utama studi ini, Tony Gargano, menjelaskan bahwa Bulan berperan sebagai “kapsul waktu” bagi Bumi.
“Bulan memberi kita catatan benturan yang tidak bisa kita temukan lagi di Bumi. Dari sanalah kita bisa memperkirakan seberapa besar peran meteorit dalam membawa air,” jelas Gargano.
Editor : Lugas Rumpakaadi