RADARBANYUWANGI.ID - Stonehenge, monumen batu prasejarah yang berdiri megah di Salisbury Plain, Inggris selatan, kembali menantang pemahaman lama para ilmuwan.
Selama lebih dari satu abad, asal-usul batu bluestone yang menyusun struktur ikonik ini menjadi perdebatan sengit, khususnya mengenai cara batu-batu besar tersebut bisa berpindah jauh dari sumber alaminya.
Salah satu teori paling populer selama ini menyebutkan bahwa bluestone Stonehenge terbawa oleh gletser raksasa pada Zaman Es.
Menurut hipotesis tersebut, lapisan es purba menyeret batu dari wilayah Wales atau Skotlandia menuju Inggris selatan.
Namun, penelitian terbaru menunjukkan bahwa teori ini hampir pasti keliru.
Penelitian Geologi Terbaru Membantah Teori Gletser
Studi terbaru yang dipimpin oleh tim ilmuwan dari Curtin University, Australia, menghadirkan bukti geologis kuat bahwa bluestone Stonehenge dibawa oleh manusia prasejarah, bukan oleh pergerakan es.
Penelitian ini memanfaatkan teknologi analisis mineral modern untuk menelusuri jejak asal-usul batuan melalui partikel mikroskopis.
Para peneliti berangkat dari prinsip geologi sederhana, jika gletser benar-benar pernah mencapai Salisbury Plain, maka jejaknya akan tertinggal jelas dalam sedimen sungai di sekitarnya.
Gletser selalu membawa campuran batu besar dan partikel halus dari berbagai wilayah yang dilewatinya, dan rekam jejak ini biasanya tersimpan dalam pasir sungai.
Zircon dan Apatite, “Kapsul Waktu” Geologi
Untuk menguji hipotesis tersebut, tim ilmuwan meneliti mineral zircon dan apatite yang ditemukan dalam pasir sungai di sekitar Stonehenge.
Kedua mineral ini dikenal sebagai “kapsul waktu” geologis karena mampu menyimpan informasi usia dan asal batuan induknya selama jutaan tahun.
Lebih dari 500 kristal zircon dianalisis menggunakan peralatan presisi tinggi di John de Laeter Centre milik Curtin University.
Zircon dipilih karena ketahanannya terhadap erosi dan perubahan kimia, sehingga sangat ideal untuk melacak transportasi batuan jarak jauh.
Hasil Analisis: Bukan dari Wales atau Skotlandia
Hasil penelitian justru menunjukkan bahwa usia zircon yang ditemukan cocok dengan batuan dari Inggris selatan, bukan dari Wales atau Skotlandia yang selama ini diasosiasikan sebagai sumber bluestone.
Pola usia ini mengindikasikan proses daur ulang sedimen lokal, bukan pengangkutan langsung oleh gletser.
Penulis utama studi, Dr. Anthony Clarke dari School of Earth and Planetary Sciences Curtin University, menegaskan bahwa tidak ada bukti mineral yang mendukung pergerakan gletser hingga ke Salisbury Plain.
Jika es benar-benar membawa batu ke Stonehenge, maka mineral khas dari wilayah utara Inggris seharusnya muncul dalam jumlah signifikan.
Dalam ratusan sampel yang dianalisis, hanya satu kristal zircon yang memiliki usia serupa dengan bluestone.
Jumlah tersebut terlalu kecil untuk mendukung teori gletser sebagai mekanisme utama.
Lanskap Salisbury Plain Tak Menyimpan Jejak Es
Selain bukti mineral, penelitian ini juga didukung oleh ketiadaan ciri geologi khas gletser di Salisbury Plain.
Endapan till, batu erratik, atau bentuk lahan akibat pergerakan es tidak ditemukan di wilayah tersebut.
Baik data mineral maupun karakter lanskap secara konsisten menunjukkan bahwa es tidak pernah mencapai kawasan ini.
Asal Mineral Jauh Tanpa Bantuan Gletser
Penelitian ini juga menjelaskan mengapa mineral dari wilayah jauh bisa muncul di Inggris selatan tanpa peran gletser.
Pada periode Paleogen awal, Salisbury Plain pernah tertutup sungai purba dan laut dangkal.
Endapan pasir dari masa itu kemudian tererosi dan didaur ulang, melepaskan kristal zircon tua ke sungai modern.
Analisis apatite memberikan petunjuk tambahan.
Sebagian besar kristal apatite menunjukkan perubahan kimia akibat aktivitas tektonik sekitar 60 juta tahun lalu, bertepatan dengan pembentukan awal Pegunungan Alpen.
Proses ini sesuai dengan geologi regional dan tidak berkaitan dengan aktivitas glasial.
Peran Manusia Neolitikum Kembali Menguat
Dengan tersingkirnya teori gletser, perhatian ilmuwan kembali tertuju pada kemampuan manusia prasejarah.
Bukti ilmiah kini mengarah pada perencanaan matang dan koordinasi kompleks oleh masyarakat Neolitikum dalam memindahkan batu-batu raksasa tersebut.
Dr. Clarke menyatakan bahwa para ilmuwan mungkin tidak akan pernah mengetahui secara pasti apakah batu-batu Stonehenge diangkut melalui jalur laut, sungai, atau darat menggunakan kayu gelinding dan kereta sederhana.
Namun, satu kesimpulan kini semakin jelas: es hampir pasti tidak berperan dalam proses tersebut.
Rekan penulis studi, Profesor Christopher L. Kirkland, menyebut Stonehenge sebagai monumen yang terus memberi kejutan.
Menurutnya, kemajuan teknologi memungkinkan ilmuwan menguji teori yang telah bertahan lebih dari seratus tahun hanya dengan menganalisis mineral yang lebih kecil dari butiran pasir.
Stonehenge dan Misteri yang Belum Usai
Stonehenge diperkirakan memiliki beragam fungsi, mulai dari kalender astronomi, pusat ritual keagamaan, hingga lokasi perjamuan besar.
Setiap penelitian baru membantu melengkapi gambaran besar tentang bagaimana dan mengapa monumen ini dibangun.
Penelitian lain dari Curtin University sebelumnya juga berhasil melacak asal Altar Stone Stonehenge ke wilayah timur laut Skotlandia.
Temuan tersebut semakin menguatkan dugaan bahwa manusia prasejarah memiliki kemampuan luar biasa untuk memindahkan batu berat sejauh ratusan kilometer, jauh melampaui asumsi lama tentang keterbatasan teknologi masa itu.
Editor : Lugas Rumpakaadi