Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Komet Purba Pecah di Dekat Matahari, Teleskop Hawaii Ungkap Pemandangan Mengejutkan

Lugas Rumpakaadi • Senin, 2 Februari 2026 | 07:15 WIB
Ilustrasi, Komet C/2025 K1 (ATLAS) pecah dekat Matahari.
Ilustrasi, Komet C/2025 K1 (ATLAS) pecah dekat Matahari.

RADARBANYUWANGI.ID - Sebuah peristiwa astronomi langka berhasil direkam dengan detail luar biasa oleh teleskop bertenaga tinggi di Hawaii.

Komet C/2025 K1 (ATLAS), sebuah komet periode panjang yang berasal dari wilayah terluar tata surya, teramati pecah menjadi sejumlah fragmen setelah melewati titik terdekatnya dengan Matahari.

Fenomena ini memberikan wawasan penting bagi para ilmuwan mengenai perilaku benda langit dalam kondisi ekstrem.

Pengamatan Beresolusi Tinggi dari Mauna Kea

Gambar-gambar spektakuler tersebut dirilis pada Kamis, 29 Januari 2026, oleh International Gemini Observatory.

Pengamatan dilakukan menggunakan teleskop optik dan inframerah Gemini North yang berdiameter 8,1 meter, berlokasi di puncak Mauna Kea, Hawaii.

Observatorium ini didanai oleh National Science Foundation dan dikenal sebagai salah satu fasilitas pengamatan astronomi tercanggih di dunia.

Foto-foto diambil pada 11 November dan 6 Desember 2024, memperlihatkan fragmen-fragmen komet yang masih bercahaya.

Citra beresolusi tinggi tersebut memungkinkan para astronom mempelajari proses fragmentasi komet secara lebih mendalam, sesuatu yang jarang dapat diamati dengan kejelasan serupa.

Penyebab Komet C/2025 K1 (ATLAS) Pecah

Komet C/2025 K1 (ATLAS) pada dasarnya merupakan agregasi es dan debu yang terikat secara longgar.

Ketika komet ini mencapai perihelion, titik terdekat dengan Matahari, pada 8 Oktober 2025, ia harus menghadapi lingkungan yang sangat ekstrem.

Gravitasi Matahari yang kuat, dikombinasikan dengan tekanan angin surya berupa aliran partikel bermuatan, menyebabkan struktur internal komet menjadi tidak stabil.

Kondisi tersebut akhirnya memicu pecahnya inti komet menjadi beberapa bongkahan yang terpisah.

Konfirmasi dari Pengamatan Global

Fenomena ini tidak hanya diamati oleh Gemini North.

Astronom di berbagai belahan dunia turut memantau kehancuran komet tersebut.

Gianluca Masi dari Virtual Telescope Project di Italia melaporkan bahwa citra yang ia peroleh pada awal November 2025 menunjukkan tiga fragmen utama dari inti komet, dengan kemungkinan adanya fragmen keempat.

Laporan lain datang dari Observatorium Asiago, Italia.

Menurut AcehGround, para astronom di sana mengamati dua fragmen utama yang terpisah sejauh sekitar 2.000 kilometer pada pertengahan November 2025.

Temuan ini mengonfirmasi bahwa fragmentasi yang terjadi berskala besar dan signifikan.

Asal-Usul dari Awan Oort

Komet C/2025 K1 pertama kali terdeteksi pada Mei 2025 melalui sistem Asteroid Terrestrial-impact Last Alert System (ATLAS).

Para ilmuwan meyakini komet ini berasal dari Awan Oort, wilayah hipotetis yang dipenuhi benda-benda es dan terletak jauh melampaui orbit Neptunus.

Komet periode panjang dari Awan Oort memiliki nilai ilmiah yang sangat tinggi.

Benda-benda ini dianggap lebih “murni” karena jarang terpapar panas Matahari, berbeda dengan komet yang sering melintas di bagian dalam tata surya, seperti Komet Halley.

Pentingnya Data bagi Ilmu Astronomi

Meskipun Komet C/2025 K1 (ATLAS) kini telah hancur, data yang dikumpulkan justru menjadi aset berharga bagi komunitas ilmiah.

Pengamatan terhadap respons komet terhadap gaya gravitasi dan angin surya membantu para astronom memahami kondisi fisik benda langit purba.

Penelitian semacam ini juga berkontribusi dalam merekonstruksi sejarah awal pembentukan tata surya miliaran tahun lalu.

Dengan mempelajari kehancuran komet, para ilmuwan dapat memperoleh gambaran lebih jelas tentang dinamika kosmik dan evolusi sistem planet yang kita huni saat ini.

Editor : Lugas Rumpakaadi
#Komet #hawaii #gemini