Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Lebih Besar dari Bima Sakti, Ini Rahasia Lubang Hitam M87

Lugas Rumpakaadi • Minggu, 1 Februari 2026 | 00:15 WIB
Ilustrasi, astronom menelusuri asal jet kosmik raksasa dari lubang hitam M87.
Ilustrasi, astronom menelusuri asal jet kosmik raksasa dari lubang hitam M87.

RADARBANYUWANGI.ID - Para astronom berhasil melacak asal-usul semburan partikel kosmik raksasa sepanjang sekitar 3.000 tahun cahaya yang berasal dari lubang hitam supermasif M87*.

Mengutip Space.com, penemuan ini dilakukan menggunakan Event Horizon Telescope (EHT), jaringan teleskop global yang sebelumnya mencetak sejarah sebagai instrumen pertama yang berhasil memotret lubang hitam.

M87* berada di pusat galaksi Messier 87 (M87), sekitar 55 juta tahun cahaya dari Bumi.

Lubang hitam ini memiliki massa sekitar 6,5 miliar kali massa Matahari, jauh lebih besar dibandingkan lubang hitam di pusat Bima Sakti, Sagittarius A*, yang bermassa sekitar 4 juta massa Matahari.

Citra ikonik M87* pertama kali diambil pada 2017 dan diumumkan ke publik pada April 2019.

Berbeda dengan Sagittarius A*, M87* tergolong lubang hitam aktif.

Objek ini tidak hanya menarik gas dan debu di sekitarnya, tetapi juga memancarkan jet partikel bermuatan dari kedua kutubnya dengan kecepatan mendekati kecepatan cahaya.

Selama puluhan tahun, asal pasti jet tersebut dan mekanisme yang memberinya energi masih menjadi teka-teki besar dalam astrofisika.

Untuk mengungkap misteri ini, para peneliti memanfaatkan data EHT terbaru dari tahun 2021 dengan teknik Very Long Baseline Interferometry (VLBI).

Teknik ini memungkinkan pengamatan struktur sangat kecil di sekitar lubang hitam, termasuk cincin bercahaya dari materi bersuhu ekstrem yang tampak sebagai “bayangan” lubang hitam pada gambar M87*.

Dari analisis tersebut, tim peneliti berhasil menghubungkan cincin bercahaya di sekitar M87* dengan pangkal jet yang menyembur keluar.

Temuan ini memberikan titik asal yang paling mungkin bagi jet tersebut, sekaligus menjembatani teori peluncuran jet dengan pengamatan langsung.

Pemodelan yang dilakukan oleh pemimpin tim, Saurabh dari Max Planck Institute for Radio Astronomy, menunjukkan bahwa emisi radio yang tidak terlihat pada data EHT tahun 2017–2019, tetapi muncul pada data 2021, berasal dari wilayah sangat kompak yang berjarak kurang dari sepersepuluh tahun cahaya dari lubang hitam.

Wilayah ini diyakini berkaitan langsung dengan dasar jet M87* dan selaras dengan struktur jet yang sebelumnya terdeteksi dalam gelombang radio.

Para ilmuwan menilai hasil ini sebagai langkah penting menuju pemahaman menyeluruh tentang cara kerja “mesin pusat” lubang hitam supermasif.

Dengan menggabungkan pengamatan pada berbagai frekuensi dan resolusi yang semakin tinggi, gambaran tentang proses pembentukan jet kosmik kini semakin lengkap.

Ke depan, tim peneliti berencana melakukan pengamatan lanjutan terhadap M87* untuk memetakan struktur jet secara lebih rinci.

Penelitian ini diharapkan dapat menjelaskan bagaimana lubang hitam supermasif memengaruhi lingkungan galaksinya dalam skala besar.

Hasil penelitian ini dipublikasikan dalam jurnal Astronomy & Astrophysics pada 28 Januari 2026, menandai babak baru dalam era pencitraan lubang hitam yang kian menjanjikan.

Editor : Lugas Rumpakaadi
#m87* #lubang hitam