Kali ini kegiatan dilaksanakan di enam desa yang berlokasi di kecamatan Tegalsari.
Kegiatan yang melibatkan 71 mahasiswa baik dari Unair Surabaya maupun Fakultas Ilmu Kesehatan, Kedokteran dan Ilmu Alam (FIKKIA) Unair Banyuwangi berlangsung sejak 6 Januari hingga 1 Februari 2026 mendatang.
Program ini dirancang dengan metode pendekatan dan pemetaan masing-masing kebutuhan desa serta berbasis indikator Tujuan Pembangunan Berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs).
Dengan begitu seluruh kegiatan benar-benar diawali dari persoalan nyata yang dihadapi masyarakat desa.
Ada empat bidang utama yang menjadi fokus kegiatan BBK tahun ini.
Yakni bidang pendidikan, kesehatan, lingkungan dan pemberdayaan ekonomi.
Menurut Ketua Lembaga Pengabdian Masyarakat Berkelanjutan (LPMB) Unair Prof Hery Purnobasuki MSi PhD, “Integrasi SDGs membuat program mahasiswa lebih terarah dan berdampak.”
Tidak sekedar seremonial akan tetapi berbasis data dan kebutuhan masyarakat dilapangan, lanjut Hery.
Terdapat delapan kelompok mahasiswa yang terbagi di enam desa. Kelompok mahasiswa ini sebelumnya telah merancang program unggulan sesuai karakter desa masing-masing.
Enam desa tersebut adalah Tegalsari, Karangdoro, Karangmulyo, Tegalrejo, Dasri dan Tamansari.
Kesehatan Gizi menjadi salah satu fokus program
Bidang kesehatan merupakan salah satu yang dipilih kelompok mahasiswa dalam BBK ke tujuh ini.
Seperti di desa Tegalrejo, kelompok mahasiswa meluncurkan program Cegah dan Edukasi Gizi Anak Sejak Dini atau disingkat Cerdas Gizi.
Ada 33 peserta posyandu di Tegalrejo, dari hasil evaluasi menunjukkan peningkatan yang signifikan akan kesadaran keluarga dalam memprioritaskan kesehatan anak.
Dan tentu saja sesuai dengan SDGs nomor 2, 3 dan 17.
Di Desa Karangmulyo, melalui program Gema Mulyo edukasi Makanan Pendamping Ais Susu Ibu (MPASI) berbasis potensi lokal.
Dengan program dan pelatihan Gema Mulyo menghasilkan produk MPASI sebanyak 75 persen terjual pada saat uji coba pemasaran.
Sedangkan melalui pre dan post test menunjukkan peningkatan 35 persen pengetahuan peserta tentang MPASI.
Program Gema Mulyo tentu saja mendukung SDGs nomor 2,3 dan 8.
Sementara program Gerakan Anak Sehat (GAS) Dasri adalah hasil kolaborasi mahasiswa dengan Puskesmas Tegalsari.
Di Desa Dasri ini sebanyak 123 siswa Sekolah Menengah Pertama (SMP) mengikuti skrining awal ksehatan dan edukasi Penyakit Tidak Menular (PTM).
Diselaraskan pada SDGs nomor 3 dan 4 yang hasilnya siswa lebih sadar dan memahami resiko PTM.
Seperti diabetes dan hipertensi akibat dampak dari gaya hidup kurang gerak atau mager.
Untuk di desa Karangdoro, mahasiswa menghadirkan inovasi Kukis Bandeng Anti Stunting atau Kubanting.
Kubanting ini mendukung program SDGs nomor 2,3 dan 4.
Yakni melalui pangan lokal yang mengandung gizi tinggi bisa meningkatkan angka pencegahan stunting sejak dini.
Budidaya Lele menjadi andalan
Berdasarkan basis data data kebutuhan masyarakat, di desa Tegalsari ada dua program yang dijalankan.
Kelompok mahasiswa pertama membuat program Pendampingan Budidaya Berwawasan Lingkungan (Pandawa).
Program ini melatih warga desa Tegalsari dalam budidaya ikan Lele dengan menggunakan teknologi bioflok.
Yaitu memanfaatkan mikroorganisme untuk menyerap amonia dan nitrit yang dihasilkan dari sisa makanan budidaya ikan Lele.
Sehingga teknologi bioflok lebih ramah lingkungan.
Mahasiswa mendampingi mulai dari persiapan dan penyediaan kolam, pembuatan media bioflok hingga manajemen pakan.
Serta dikenalkannya penggunaan bawang putih sebagai obat alami ikan Lele, dengan begitu program ini jelas mendukung MDGs nomor 2, 8 dan 12.
Kelompok lainnya, masih di desa Tegalsari dengan memanfaatkan platfom kecerdesan buatan, Flock.in, diluncurkan program Budidaya Cerdas, Panen Berkualitas.
Menggandeng Koperasi Merah Putih (KMP) melalui penerapan bioflok solusi mengurangi sekaligus pengelolaan limbah air ternyata berdampak pada peningkatan ekonomi warga.
SDGs nomr 8 dan 12 diterapkan melalui budidaya ikan Lele yang lebih efesien dan berkelanjutan.
Potensi, Permasalahan Dampak Lingkungan
Banyuwangi terkenal dengan budaya dan tempat wisata alam.
Berkaca dari hal ini, kelompok mahasiswa yang bertugas di desa Tamansari menjalankan program Aku Bisa Bercerita Tentang Banyuwangi.
Program peningkatan budaya literasi ini melibatkan siswa Sekolah Dasar (SD) hingga Sekolah Menengah Pertama (SMP) di sekitar desa Tamansari.
Para siswa dilatih untuk mencoba mengekspresikan pengetahuan budaya dan pariwisata Banyuwangi.
Baik melalui cerita, tulisan maupun gambar.
Diharapkan program ini dapat menumbuhkan rasa bangga dan memiliki terhadap daerahnya.
Tentu saja kegiatan ini mendukung program SDGs nomor 4.
Bukan hanya potensi wisata alam, kuliner dan budaya saja.
Di setiap lingkungan, masalah sampah bisa menjadi sesuatu yang sensitif apabila pengelolaannya tidak dilakukan secara terkontrol.
Menjawab hal tersebut, kelompok mahasiswa di desa Karangdoro menyikapinya dengan progam Sigap Sampah.
Atau Sistem Insinerator Guna Atasi Penumpukan Sampah.
Membakar sampah secara terbuka masih menjadi kebiasaan dan solusi terakhir di masyarakat desa.
Melalui program ini, sampah yang dihasilkan rumah tangga bisa lebih terkontrol dan mengurangi emisi gas buang.
Bentuk Keberlanjutan
Agar kegiatan dan program BBK yang diselenggarakan menjadi berkelanjutan.
Mahasiswa beserta Dosen Pendamping Lapangan (DPL) Unair membuat panduan, modul, video sekaligus contoh produk.
Yang selanjutnya dibagikan kepada pemerintah desa.
Diharapkan kedepannya apa yang dihasilkan dari BBK ke tujuh ini tidak sekedar sebagai kegiatan jangka pendek saja.
Tetapi lebih mendorong kepada perubahan perilaku dan kemandirian masyarakat yang berkelanjutan.
Editor : Gerda Sukarno Prayudha