Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Dari Alun-alun hingga Boulevard, Ini Warisan Tata Kota Herman Thomas Karsten

Lugas Rumpakaadi • Senin, 12 Januari 2026 | 09:15 WIB
Alun-Alun Tugu Kota Malang, Jawa Timur, salah satu karya Herman Thomas Karsten.
Alun-Alun Tugu Kota Malang, Jawa Timur, salah satu karya Herman Thomas Karsten.

RADARBANYUWANGI.ID - Herman Thomas Karsten (1884–1945) bukanlah arsitek kolonial pada umumnya.

Lahir di Amsterdam, Belanda, ia dikenal sebagai perencana kota visioner yang hingga kini pengaruhnya masih terasa di berbagai kota besar Indonesia.

Kedatangannya ke Hindia Belanda pada tahun 1914, atas ajakan arsitek senior Henri Maclaine Pont, menjadi awal kontribusi besar Karsten dalam membentuk wajah kota-kota modern yang berakar pada nilai lokal.

Harmonisasi Barat dan Tradisi Lokal

Keistimewaan utama Herman Thomas Karsten terletak pada keberaniannya mengkritik praktik kolonialisme melalui pendekatan arsitektur.

Ia menolak penerapan gaya Eropa secara kaku dan memilih memadukannya dengan elemen tradisional Jawa.

Karsten sangat menghargai konsep perkotaan Jawa klasik, khususnya peran alun-alun sebagai pusat pemerintahan dan ruang publik yang inklusif.

Selain itu, ia menekankan pentingnya ruang terbuka hijau dan kerimbunan pepohonan untuk menciptakan lingkungan kota yang manusiawi.

Bagi Karsten, arsitektur bukan sekadar bangunan fisik, melainkan sarana untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakat dan menjaga keseimbangan dengan alam.

Jejak Karya di Berbagai Kota

Kontribusi Herman Thomas Karsten tersebar di sedikitnya 12 kota di Indonesia, mulai dari Jakarta, Semarang, Yogyakarta, Solo, Bandung, Malang, hingga Banjarmasin dan Palembang.

Beberapa karya ikoniknya yang masih berdiri hingga kini antara lain Pasar Gede di Surakarta, Pasar Johar di Semarang, Stasiun Solo Balapan, serta Museum Sonobudoyo di Yogyakarta.

Di Bandung Utara, Karsten juga merancang pusat permukiman modern yang menjadi cikal bakal kawasan hunian terencana.

Baca Juga: Bentrok Panas di St James’ Park! Newcastle Tantang Manchester City di Semifinal Piala Liga Inggris

Malang dan Bandung, Dua Kota dengan Wajah Serupa

Peran Karsten sangat menonjol dalam perancangan tata kota Malang pada periode 1930–1935 dan Bandung pada tahun 1941–1942.

Di Malang, ia merancang kawasan Idjen Boulevard yang hingga kini dikenal sebagai salah satu kawasan paling ikonik.

Ia juga membentuk alun-alun baru bernama J.P. Coen Plein, yang sekarang dikenal sebagai Alun-alun Tugu Malang.

Sementara itu, di Bandung, Karsten terlibat dalam proyek perluasan kota yang dikenal sebagai Karsten Plan.

Perencanaan ini menekankan keseimbangan antara kawasan hunian, ruang publik, dan ruang hijau, sehingga menciptakan karakter kota yang tertata dan nyaman.

Kesamaan konsep inilah yang membuat Malang dan Bandung kerap disebut memiliki “wajah kembar”.

Warisan Akademik dan Akhir Perjalanan

Selain berkarya sebagai praktisi, Herman Thomas Karsten juga berkontribusi dalam dunia pendidikan.

Pada tahun 1941, ia menjadi staf pengajar di Technische Hoogeschool te Bandoeng, yang kini dikenal sebagai Institut Teknologi Bandung (ITB).

Melalui perannya ini, ia turut mewariskan gagasan perencanaan kota yang berorientasi pada manusia kepada generasi penerus.

Karsten wafat pada tahun 1945 di usia 60 tahun dan dimakamkan di Cimahi.

Warisannya tidak hanya berupa bangunan dan tata kota yang megah secara visual, tetapi juga konsep perencanaan yang menyatu dengan alam dan budaya lokal.

Hingga kini, pemikiran Herman Thomas Karsten tetap relevan sebagai inspirasi pembangunan kota berkelanjutan di Indonesia.

Editor : Lugas Rumpakaadi
#kota #kolonial #herman thomas karsten #arsitek