RADARBANYUWANGI.ID - Hari pertama sekolah di awal tahun ajaran 2026 menghadirkan potret perjuangan yang memilukan sekaligus mengagumkan dari pedalaman Kabupaten Aceh Tengah.
Demi menemui murid-muridnya, para guru di Kecamatan Ketol terpaksa mempertaruhkan nyawa dengan menyeberangi sungai berarus deras hanya bergelantungan pada seutas kabel seling baja.
Aksi heroik tersebut terekam dalam sebuah video yang diunggah Mita, salah satu guru yang mengabdi di wilayah terpencil tersebut. Video itu dengan cepat menyebar luas dan menyentuh hati warganet.
Dalam rekaman berdurasi singkat itu, terlihat Mita dengan penuh kehati-hatian bergelantungan di atas sungai menggunakan tali sling.
Jembatan permanen yang selama ini menjadi satu-satunya akses menuju sekolah telah hanyut diterjang banjir bandang pada akhir 2025 lalu.
“Jembatan permanen kami sudah hilang terbawa arus bulan lalu. Pilihannya hanya naik tali sling ini atau memutar lewat bukit selama tiga jam,” tutur Mita dengan napas tersengal, Selasa (6/1/2026).
Kondisi tersebut merupakan dampak nyata bencana hidrometeorologi hebat yang melanda wilayah Sumatera pada penghujung 2025.
Curah hujan ekstrem menyebabkan banjir bandang dan longsor yang merusak infrastruktur vital, termasuk jembatan penghubung antar-kampung dan akses menuju sekolah.
Meski pemerintah setempat telah berupaya mendirikan sekolah darurat dan tenda-tenda untuk kegiatan belajar mengajar (KBM), persoalan utama masih belum teratasi sepenuhnya.
Akses fisik menuju lokasi sekolah tetap menjadi “jalur maut” yang harus dilalui para tenaga pendidik setiap hari.
Bagi Mita, rasa takut tercebur ke sungai yang deras kalah oleh tanggung jawab dan kecintaannya kepada para siswa.
Ia mengaku tak ingin mengecewakan anak-anak yang telah menunggu hari pertama sekolah dengan penuh semangat.
“Hari ini hari pertama sekolah. Saya tidak ingin mengecewakan anak-anak yang sudah semangat datang, meskipun banyak dari mereka hadir tanpa seragam lengkap,” ujarnya dengan suara bergetar.
Data awal 2026 menunjukkan skala kerusakan fasilitas pendidikan di wilayah Sumatera masih sangat luas.
Lebih dari 3.000 fasilitas pendidikan di Aceh, Sumatera Utara, hingga Sumatera Barat dilaporkan terdampak banjir, mulai dari kerusakan ringan hingga rusak berat.
Di Kabupaten Aceh Tengah sendiri, kondisi belum sepenuhnya pulih. Sejumlah sekolah masih dipenuhi lumpur, sementara personel TNI bersama warga terus melakukan pembersihan gedung-gedung sekolah agar bisa kembali digunakan.
Sebagian siswa bahkan terpaksa mengikuti proses belajar mengajar di lokasi seadanya.
Ada yang belajar di teras rumah guru, ada pula yang menempati bangunan kayu darurat sambil menunggu sekolah mereka benar-benar siap digunakan kembali.
Perjuangan Mita dan para guru lain di Kecamatan Ketol menjadi cermin nyata pengabdian guru-guru di pelosok negeri.
Di tengah keterbatasan sarana dan ancaman keselamatan, mereka tetap hadir demi memastikan hak pendidikan anak-anak tidak terputus.
Kisah ini sekaligus menjadi pengingat bagi semua pihak akan mendesaknya percepatan pemulihan infrastruktur, terutama pembangunan kembali jembatan penghubung.
Tanpa akses yang aman, nyawa para pahlawan tanpa tanda jasa ini terus berada dalam ancaman setiap kali mereka berangkat mengajar. (*)
Editor : Ali Sodiqin