RADARBANYUWANGI.ID - Siapa sangka, kawasan yang kini ramai oleh aktivitas pendidikan, ekonomi, dan ziarah religi di Situbondo, Jawa Timur, dulunya hanyalah hutan lebat yang dikenal angker dan dipenuhi binatang buas.
Kawasan itu kini dikenal sebagai Pondok Pesantren Salafiyah Syafiiyah Sukorejo, salah satu pesantren besar dan berpengaruh di Indonesia.
Pesantren ini didirikan oleh Kiai As’ad Syamsul Arifin sekitar tahun 1908. Berdasarkan kisah yang berkembang di lingkungan pesantren, pendirian ponpes berawal dari saran dua ulama besar, yakni Habib Musawa dan Kiai Asadullah dari Semarang.
Keduanya menyarankan Kiai As’ad untuk membuka hutan lebat di wilayah Sukorejo sebagai tempat dakwah dan pendidikan Islam.
Keputusan membabat hutan yang kala itu dikenal liar dan berbahaya bukan tanpa pertimbangan.
Lokasi tersebut dipilih setelah melalui istikharah, sebuah ikhtiar spiritual untuk memohon petunjuk kepada Allah SWT.
Dari sanalah, cikal bakal Pondok Pesantren Salafiyah Syafiiyah berdiri dan terus berkembang hingga lebih dari satu abad kemudian.
Pesantren yang Menyatu dengan Masyarakat
Berbeda dengan stigma pesantren sebagai lembaga tertutup, Pondok Pesantren Salafiyah Syafiiyah justru tumbuh sebagai agen pembangunan masyarakat.
Kehadirannya tidak menjelma sebagai “menara gading”, melainkan menyatu dengan denyut kehidupan warga sekitar.
Masyarakat Situbondo merasakan langsung manfaat ekonomi dan sosial dari keberadaan pesantren ini.
Area pondok yang sangat luas dimanfaatkan secara optimal dengan melibatkan penduduk sekitar dalam berbagai sektor usaha.
Sebelum memasuki kawasan utama pesantren, pengunjung akan menjumpai SPBU di bahu jalan raya.
SPBU tersebut merupakan milik pondok pesantren dan dikelola sebagai bagian dari upaya pemberdayaan ekonomi masyarakat lokal.
Masuk lebih ke dalam, sekitar 2 hingga 3 kilometer dari jalan besar, suasana khas pesantren langsung terasa.
Sepanjang jalan berderet toko-toko milik warga, mulai dari toko pakaian, kitab, rental komputer, warnet, rumah makan, warung tradisional, minimarket, hingga ATM center.
Bentor dan Santri Bersarung
Aktivitas santri menjadi pemandangan sehari-hari di kawasan Sukorejo. Santri terlihat berlalu-lalang mengenakan sarung dan peci, sementara seluruh perempuan tampil dengan busana muslim dan jilbab. Nuansa religius berpadu dengan kehidupan ekonomi yang dinamis.
Salah satu ciri khas transportasi di kawasan pesantren ini adalah Bentor (becak motor).
Kendaraan ini menjadi pilihan utama karena jarak antara pintu masuk pesantren dan kawasan inti cukup jauh, mencapai sekitar 3 kilometer.
Bentor tidak hanya memudahkan mobilitas santri dan pengunjung, tetapi juga menjadi sumber penghasilan bagi warga sekitar yang menggantungkan hidup dari jasa transportasi tersebut.
Makam Pahlawan Nasional Kiai As’ad
Di dalam area Pondok Pesantren Salafiyah Syafiiyah juga terdapat Makam Pahlawan Nasional Kiai As’ad Syamsul Arifin.
Selain dikenal sebagai pendiri pesantren, Kiai As’ad juga tercatat sebagai tokoh ulama yang turut berjuang membela kemerdekaan Indonesia.
Makam tersebut menjadi tujuan ziarah bagi masyarakat dari berbagai daerah di Nusantara.
Para peziarah datang untuk mengenang jasa Kiai As’ad, yang kiprahnya tidak hanya dirasakan di Situbondo, tetapi juga di tingkat nasional dan dunia Islam.
Tradisi ziarah ini turut menggerakkan sektor ekonomi warga sekitar, mulai dari pedagang hingga jasa transportasi dan penginapan.
Menuju Wisata Budaya Berbasis Religi
Seiring perkembangan zaman, Pondok Pesantren Salafiyah Syafiiyah Sukorejo kini juga dikenal sebagai destinasi wisata budaya berbasis religi.
Pesantren ini menawarkan pengalaman berbeda bagi para pelancong yang ingin menyelami kehidupan pesantren, sejarah perjuangan ulama, serta kearifan lokal masyarakat santri.
Bagi traveler, berkunjung ke Sukorejo bukan sekadar perjalanan religi, tetapi juga kesempatan melihat bagaimana pesantren mampu menjadi pusat pendidikan, ekonomi, dan kebudayaan yang hidup dan berkelanjutan.
Dari hutan belantara yang sunyi, Pondok Pesantren Salafiyah Syafiiyah kini menjelma menjadi simbol transformasi, dakwah, dan pengabdian—sebuah warisan berharga dari Situbondo untuk Indonesia. (*)
Editor : Ali Sodiqin