Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Perang Puputan Bayu, Tragedi Besar yang Diperingati Sebagai Hari Jadi Banyuwangi

Lugas Rumpakaadi • Kamis, 18 Desember 2025 | 15:56 WIB
BERSEJARAH: Suasana tenang Rowo Bayu di wilayah Desa Bayu, Kecamatan Songgon, Banyuwangi. Kawasan sekitar telaga ini pernah menjadi lokasi perang rakyat Bumi Blambangan melawan penjajah VOC Belanda.
BERSEJARAH: Suasana tenang Rowo Bayu di wilayah Desa Bayu, Kecamatan Songgon, Banyuwangi. Kawasan sekitar telaga ini pernah menjadi lokasi perang rakyat Bumi Blambangan melawan penjajah VOC Belanda.

RADARBANYUWANGI.ID - Rowo Bayu di Kabupaten Banyuwangi belakangan kembali menjadi perhatian publik. 

Kawasan yang terletak di Desa Bayu, Kecamatan Songgon ini ramai dikaitkan dengan lokasi KKN Desa Penari, terlebih setelah Menteri BUMN saat itu, Erick Thohir, yang kini menjabat sebagai Menpora, mengaku penasaran dan ingin berkunjung. 

Di balik nuansa mistis yang melekat, Rowo Bayu sejatinya menyimpan sejarah panjang dan tragis yang menjadi tonggak berdirinya Kabupaten Banyuwangi.

Rowo Bayu, Saksi Perlawanan Rakyat Blambangan

Secara historis, Rowo Bayu merupakan lokasi terjadinya Perang Puputan Bayu, sebuah pertempuran besar antara rakyat Blambangan melawan VOC Belanda pada tahun 1771. 

Perang ini dikenal sebagai perlawanan habis-habisan demi mempertahankan martabat dan kebebasan, meski harus dibayar dengan korban jiwa yang sangat besar.

Blambangan, nama lama wilayah Banyuwangi, kala itu dihuni sekitar 65 ribu jiwa. 

Akibat Perang Puputan Bayu, jumlah penduduk menyusut drastis hingga hanya tersisa sekitar 5 ribu orang. 

Tragedi ini bahkan diakui Belanda sebagai salah satu peperangan paling kejam dan paling banyak memakan korban sepanjang sejarah kolonial di Nusantara.

Latar Belakang Terjadinya Puputan Bayu

Perang Puputan Bayu dipicu oleh kesewenang-wenangan VOC terhadap rakyat Blambangan. 

Setelah Wong Agung Wilis, pemimpin Blambangan yang memimpin perlawanan awal, ditangkap dan diasingkan ke Banda pada 1768, penindasan semakin menjadi-jadi. 

Rakyat dipaksa bekerja tanpa upah, bahan pangan dirampas, dan kehidupan sehari-hari kian mencekik.

Selain faktor ekonomi dan sosial, terdapat pula konflik politik dan keagamaan. 

VOC menerapkan kebijakan bahwa penguasa Blambangan harus memeluk Islam, sementara mayoritas masyarakat Blambangan saat itu masih memeluk Hindu. 

Kebijakan ini memicu penolakan keras dan memperparah ketegangan yang sudah ada.

Bayu sebagai Basis Perlawanan Terakhir

Dalam kondisi terdesak, banyak warga Blambangan memilih mengungsi ke wilayah Bayu di lereng Gunung Raung. 

Di tempat inilah Pangeran Jagapati, juga dikenal sebagai Mas Rempeg, menghimpun kekuatan rakyat yang tersisa untuk melanjutkan perjuangan Wong Agung Wilis.

Kehadiran Pangeran Jagapati di Bayu membangkitkan harapan rakyat. 

Ribuan orang berdatangan dan sepakat melakukan perang puputan, yakni pertempuran sampai titik darah penghabisan tanpa menyerah kepada penjajah.

Puncak Perang pada 18 Desember 1771

Puncak Perang Puputan Bayu terjadi pada 18 Desember 1771. 

Ribuan pejuang Blambangan menyerang pasukan VOC secara mendadak. 

Strategi lokal seperti jebakan parit atau sungga sempat membuat pasukan Belanda terdesak dan menimbulkan banyak korban di pihak VOC, termasuk tewasnya komandan pasukan mereka.

Namun, ketimpangan persenjataan dan jumlah pasukan akhirnya membuat rakyat Blambangan kalah. 

Pangeran Jagapati gugur sehari setelah pertempuran besar tersebut akibat luka-luka yang dideritanya. 

Lebih dari 60 ribu rakyat Blambangan tewas, hilang, atau melarikan diri ke hutan.

Baca Juga: Lausanne Sport vs Fiorentina: Duel Penentuan Tiket Fase Gugur Liga Konferensi Eropa, La Viola Tertekan!

Makna Puputan Bayu bagi Banyuwangi

Perang Puputan Bayu tidak hanya meninggalkan luka mendalam, tetapi juga menjadi simbol perlawanan dan kebangkitan rakyat Blambangan. 

Oleh karena itu, tanggal 18 Desember ditetapkan sebagai Hari Jadi Kabupaten Banyuwangi, menandai momen sejarah ketika rakyat setempat bangkit melawan penjajahan VOC.

Hingga kini, Rowo Bayu dikenal sebagai kawasan yang sarat nuansa mistis. 

Telaga dan sumber airnya kerap dimaknai sebagai simbol air mata rakyat Banyuwangi atas tragedi kemanusiaan yang pernah terjadi. 

Di balik cerita mistis tersebut, Rowo Bayu sesungguhnya adalah monumen alam yang menyimpan memori perjuangan dan pengorbanan luar biasa.

Editor : Lugas Rumpakaadi
#blambangan #VOC #Rowo Bayu #Perang Puputan Bayu #belanda #banyuwangi