RADARBANYUWANGI.ID - Fenomena Supermoon kembali menghiasi langit pada awal Desember 2025 melalui penampakan Cold Moon, yaitu purnama khas bulan Desember.
Tahun ini, Cold Moon menjadi supermoon ketiga sekaligus yang terakhir pada 2025, menjadikannya momen yang dinantikan para pengamat langit.
Apa Itu Supermoon dan Cold Moon?
Supermoon terjadi ketika fase Bulan Purnama bertepatan dengan posisi Bulan berada pada perige, yaitu titik terdekatnya dengan Bumi.
Kombinasi ini membuat Bulan tampak lebih besar dan lebih terang dibanding purnama biasa.
Sepanjang tahun, fenomena ini dapat terjadi tiga hingga empat kali, tetapi rangkaian tiga supermoon berturut-turut seperti tahun 2025 merupakan hal yang cukup jarang.
Sementara itu, Cold Moon adalah nama tradisional untuk purnama bulan Desember.
Penamaan ini berasal dari budaya kuno yang menggunakan fase Bulan untuk menandai perubahan musim.
Cold Moon menandai awal musim dingin dan sering disebut pula sebagai Long Night Moon atau Moon before Yule.
Jadwal Puncak Supermoon Cold Moon 2025
Berdasarkan keterangan resmi BMKG, rangkaian fenomena supermoon ini berlangsung pada 4–5 Desember 2025.
Detail waktunya adalah sebagai berikut:
- Perige: 4 Desember 2025 pukul 18.05 WIB
- Fase Puncak Purnama: 5 Desember 2025 pukul 06.14 WIB
- Jarak Bulan saat puncak: sekitar 357.219 km
- Jarak Bulan saat perige: sekitar 356.965 km
Meskipun puncaknya terjadi pagi hari ketika sebagian wilayah Indonesia sudah terang, visual supermoon tetap dapat diamati pada malam 4 Desember hingga dini hari 5 Desember 2025.
Penampakan Supermoon di Langit
Selama fenomena ini berlangsung, Bulan akan tampak lebih besar dengan rona cahaya yang lebih kuat.
Saat terbit, Bulan mungkin terlihat berwarna oranye kemerahan akibat hamburan atmosfer.
Pada malam tersebut, Bulan juga akan berada berdekatan dengan gugus bintang Pleiades, Aldebaran, dan Jupiter yang bersinar cerah di langit.
Konstelasi Orion pun terlihat jelas sebagai tanda hadirnya musim penghujan di wilayah tropis dan musim dingin di belahan bumi utara.
Peluang Cuaca dan Pengamatan
Keberhasilan melihat supermoon sangat bergantung pada kondisi cuaca.
Wilayah dengan langit cerah, seperti sebagian besar Indonesia, berpeluang besar menyaksikan fenomena ini.
Namun, tetap ada potensi mendung atau hujan di beberapa daerah.
Untuk memastikan kondisi langit, masyarakat dianjurkan memantau prakiraan cuaca dari BMKG atau aplikasi cuaca.
Cara Terbaik Melihat Supermoon Cold Moon
Fenomena ini dapat dinikmati tanpa alat khusus.
Namun, beberapa langkah berikut dapat meningkatkan pengalaman Anda:
- Area seperti bukit, pesisir, lapangan terbuka, atau rooftop rumah akan memberikan pandangan luas tanpa gangguan.
- Teropong, teleskop kecil, atau kamera dengan mode malam dapat memperlihatkan detail permukaan Bulan seperti kawah dan mare.
- Tripod membantu menstabilkan perangkat ketika memotret, terutama menggunakan ponsel.
- Pastikan langit cerah atau menunggu momen jeda saat awan bergerak.
- Baca Juga: Gol Telat Magassa Bikin Old Trafford Bergemuruh: Manchester United Gagal Menang, Suporter Panas!
Fenomena Tambahan, Awal Hujan Meteor Geminid
Menariknya, malam Supermoon Cold Moon juga bertepatan dengan awal aktivitas hujan meteor Geminid, salah satu hujan meteor paling terang dalam setahun.
Meski puncaknya baru terjadi pada 14 Desember 2025, kehadirannya menambah daya tarik malam pengamatan bagi pencinta astronomi.
Baca Juga: Joseph Oetomo Resmi Kendalikan PT Toba Pulp Lestari, Ini Fakta dan Profil Lengkapnya
Supermoon Berikutnya
Setelah Cold Moon 2025, supermoon selanjutnya baru terjadi pada Januari 2026 yang dikenal sebagai Wolf Moon, sekaligus purnama pertama di tahun baru.
Editor : Lugas Rumpakaadi