RADARBANYUWANGI.ID – Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan (Stikes) Banyuwangi resmi bertransformasi menjadi Universitas Doktor Soekardjo (Unidsoe). Peresmian digelar di kampus yang berlokasi di Jalan Letkol Istiqlah Banyuwangi tersebut Selasa (2/12).
Wakil Rektor II Unidsoe, Erik Toga, menyebut peresmian ini sebagai langkah sejarah. Ia menegaskan, perubahan nama ini adalah loncatan besar menuju kampus berdaya saing di bidang kesehatan, teknologi, dan bisnis. “Ini bukan sekadar ganti nama, tetapi keberanian untuk naik kelas,” ujar Erik.
Transformasi ini, kata Erik, menjadi puncak perjalanan panjang lembaga yang berawal dari Akademi Perawat yang lantas berubah menjadi Stikes Banyuwangi dan kini bertransformasi menjadi Unidsoe.
Erik menyebut, modal sosial berupa lulusan tenaga kesehatan yang sudah tersebar di berbagai daerah sebagai kekuatan utama untuk memasuki era baru. “Kami membawa rekam jejak dan prestasi ke tahap berikutnya,” sebutnya.
Erik mengatakan, Unidsoe kini mengusung visi menjadi universitas unggul, inovatif, dan berwawasan global, namun tetap berakar pada budaya Banyuwangi. “Kami ingin bersaing di dunia, tetapi tetap membumi. Kampus ini diproyeksikan menjadi rumah ilmu dan rumah karakter bagi generasi muda," ujarnya.
Rektor Unidsoe Dr H Soekardjo menegaskan komitmen internasionalisasi kampus dengan mewajibkan mahasiswa menguasai minimal satu bahasa asing dari empat bahasa prioritas, yakni Jerman, Jepang, Mandarin, dan Arab. “Mahasiswa harus siap memasuki globalisasi. Kebijakan ini diselaraskan dengan rencana penguatan kerja sama internasional,” tegasnya.
Unidsoe, lanjut Soekardjo, juga memperluas program studi (prodi) baru, yakni Manajemen Bisnis Internasional, Perdagangan Internasional, dan Sistem Informasi.
Soekardjo menyebut, program bisnis dan perdagangan sebagai kebutuhan ekonomi masa kini. Ia juga memaparkan tujuh strategi besar kampus, termasuk rencana pendirian rumah sakit dan hotel pendidikan. “Jika dua fasilitas itu berdiri, kami bisa melangkah lebih jauh,” ujarnya.
Kepala LLDIKTI Wilayah VII Jawa Timur Prof. Dr. Dyah Sawitri, SE., MM menyampaikan apresiasi atas lahirnya universitas baru di ujung timur Jawa tersebut. Perempuan yang akrab disapa Ibu Kalem ini menegaskan, perubahan bentuk perguruan tinggi bukan sekadar administratif, tetapi upaya peningkatan mutu. “Universitas ini harus berdampak bagi masyarakat, bangsa, dan negara,” katanya.
Dyah juga berpesan agar mahasiswa menjaga intelektualitas dan sikap santun sebagai identitas akademisi.“Universitas Dr Soekardjo harus menjadi kampus berdampak menuju Indonesia Emas,” tegasnya.
Wakil Bupati (Wabup) Mujiono turut menyampaikan harapan agar Unidsoe menjadi pusat inovasi baru di tengah pesatnya pertumbuhan daerah. Ia menyebut, Banyuwangi sedang berkembang dalam sektor pariwisata, perikanan, pertanian, dan ekonomi kreatif. “Banyuwangi butuh perguruan tinggi yang inovatif dan penuh gagasan baru. Kehadiran Unidsoe menjawab kebutuhan itu,” ujarnya.
Sementara itu, peresmian ini dihadiri oleh sejumlah mitra dan kolega. Di antaranya, Kapolresta Banyuwangi, Danlanal, serta perwakilan Forkopimda. Selain itu hadir pula perwakilan rumah sakit, perbankan, organisasi profesi, pimpinan Perguruan tinggi, kepala sekolah menengah atas dan guru BK, MUI, serta mitra lainnya. (sgt)
Editor : Sigit Hariyadi