Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Dispendik Banyuwangi Perkuat Program Zero Dropout, Tekan Angka Anak Tidak Sekolah di Bumi Blambangan

Tim Redaksi Radar Banyuwangi • Jumat, 28 November 2025 | 16:44 WIB
Siswa lulusan SMP deklarasi anti perundungan dalam rangkaian masa pengenalan lingkungan sekolah (MPLS) jenjang SMA beberapa waktu lalu.
Siswa lulusan SMP deklarasi anti perundungan dalam rangkaian masa pengenalan lingkungan sekolah (MPLS) jenjang SMA beberapa waktu lalu.

RADARBANYUWANGI.ID - Dinas Pendidikan (Dispendik) Banyuwangi terus memperkuat berbagai upaya untuk mengatasi anak tidak sekolah (ATS) di berbagai penjuru Bumi Blambangan. Salah satunya melalui program zero dropout.

Melalui program ini, Dispendik memastikan tidak ada siswa yang berhenti sekolah di tengah masa mengenyam pendidikan.

Baik mereka yang tidak bersekolah karena faktor kesulitan ekonomi, faktor sosial, dan lain sebagainya.

Sekretaris Dispendik Banyuwangi Alfian mengatakan bahwa pihaknya menaruh perhatian penuh terhadap penurunan angka ATS di kabupaten the Sunrise of Java.

“Yang paling kita tekan itu adalah angka ATS. Untuk mengatasi hal tersebut, di internal sekolah kami punya program zero dropout. Biasanya anak putus sekolah terkait ekonomi maupun sosial, jadi kita libatkan semua stakeholder untuk bisa mengembalikan anak-anak ke sekolah,” ujarnya.

Alfian menjelaskan, persoalan sosial yang dialami siswa sangat beragam, baik dari sisi pribadi maupun lingkungan.

Hal itu kerap kali membuat anak kehilangan motivasi untuk melanjutkan pendidikan. Karena itu, sekolah tidak diperkenankan mengeluarkan siswa hanya karena masalah kedisiplinan atau perilaku.

“Sekarang untuk siswa yang bermasalah di sekolah harus tetap didampingi oleh para guru. Apa pun masalahnya, tidak bisa dikeluarkan dari sekolah, karena tujuan kita agar semua anak bisa terus bersekolah,” tegasnya.

Alfian menelaskan, ada tiga kategori ATS. Pertama, anak yang tidak pernah sekolah sama sekali. Kriteria ini jumlahnya sangat kecil, baik di desa maupun pada anak berkebutuhan khusus yang terkadang merasa malu untuk bersekolah.

Kedua, anak yang keluar atau drop out dari sekolah. Ketiga, mereka yang lulus tetapi tidak melanjutkan ke jenjang berikutnya, misalnya lulusan SD tidak melanjutkan pendidikan ke jenjang SMP/sederajat atau lulusan SMP yang tidak melanjutkan pendidikan SMA/sederajat.

Sementara itu, salah satu sekolah yang menerapkan program zero dropout dengan ketat adalah SMPN 2 Banyuwangi.

Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan Dedy Sulaiman mengatakan bahwa pembinaan akan dilakukan segera jika ada siswa yang bermasalah.

“Pengalaman kami di sekolah, jika ada siswa yang bermasalah akan dilakukan pembinaan serta mediasi dengan orang tuanya untuk terus melakukan pendampingan,” ujarnya.

Menurut Dedy, banyak siswa yang berperilaku nakal karena memiliki persoalan pribadi maupun keluarga. Kondisi itu membuat mereka mencari pelampiasan di sekolah.

“Kebanyakan anak yang bermasalah atau nakal dikarenakan memiliki masalah pribadi maupun keluarga, sehingga mereka mencari pelampiasan,” jelasnya.

Untuk mengatasi hal tersebut, pihak sekolah mengoptimalkan layanan bimbingan konseling (BK). Jika masalah tidak dapat ditangani secara internal, maka sekolah akan melibatkan psikolog.

“Kami melakukan pembinaan di sekolah melalui BK. Jika tidak bisa ditangani, maka kami panggil pihak ketiga, yaitu psikolog untuk menangani para siswa,” pungkas Dedy. (cw6-M Ksatria Raya/sgt)

Editor : Ali Sodiqin
#zero dropout #dinas pendidikan #anak tidak sekolah #banyuwangi