RADARBANYUWANGI.ID - Perjuangan seorang Nita, guru di Sekolah Ramah Inklusi (Serasi) yang tak hanya mengajar, tetapi memberi ruang stimulasi bagi anak-anak berkebutuhan khusus untuk berkembang dan dapat tumbuh mandiri. Bagi Nita, pendidikan inklusi bukan beban, tepai lebih pada panggilan hati.
Sekolah Ramah Inklusi (Serasi) terletak di Jalan Adi Sucipto, tepatnya di Masjid Ahmad Dahlan Banyuwangi. Sekolah tersebut mulai beroperasi pada Agustus 2024. Dilihat dari luar, bangunan itu tampak seperti PAUD pada umumnya.
Namun di dalamnya, ada perjuangan, canda dan tawa setiap anak yang memiliki kebutuhan khusus dan berhak mendapat kesempatan yang sama untuk berkembang.
Di sekolah ramah inklusi tersebut ada sosok Yunita Dwi Rohani atau akrab disapa Bunda Nita. Awalnya Nita bukanlah guru yang bidangnya khusus mendalami pendidikan anak usia dini. Ia adalah lulusan S1 Pendidikan Matematika.
Namun, hidup membawanya ke arah yang berbeda. Ketika memutuskan terjun ke dunia PAUD, ia sadar bahwa mengajar anak usia dini membutuhkan bekal khusus.
Nita pun menempuh pendidikan PG-PAUD, sekaligus mengambil Diploma Montessori. Metode Montessori menjadi landasan kuat yang kemudian mewarnai seluruh proses belajar di Serasi.
Awalnya, Serasi bukanlah sekolah inklusi. Tempat itu hanya sebuah bimbel kecil dengan tiga murid. Lalu datanglah seorang anak yang mengalami kesulitan membaca.
Dari sana Nita mulai menyadari bahwa beberapa anak yang datang kepadanya membutuhkan lebih dari sekadar bimbingan belajar.
“Mereka sebenarnya mampu menerima informasi, tetapi kesulitan mengungkapkan ekspresi dikarenakan kurang stimulasi di rumah. Tiga anak pertama didiagnosa mengalami gangguan bahasa ekspresif,” kenang Nita.
Melihat kebutuhan itu, bimbel di bawah naungan yayasan Amanah tersebut akhirnya disetujui oleh pengelola yayasan untuk membuka sekolah inklusi.
Ketika Serasi resmi dibuka, respons masyarakat mengejutkan. Dalam waktu tiga bulan saja, muridnya berkembang dari 3 menjadi 30 anak.
“Kami bukan tempat terapi. Tapi kami berpatokan pada konsep sekolah ramah inklusi. Harapannya, anak-anak mendapat stimulasi agar bisa siap masuk ke sekolah reguler,” tegas Nita.
Prosesnya tidaklah mudah. Setiap anak datang dengan kondisi berbeda. Mulai dari Gangguan Bahasa Ekspresif (GBE), Autism Spectrum Disorder (ASD), hingga Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD).
Di Serasi, kelas dibagi menjadi beberapa kategori, kelas okupasi, kelas bermain, kelas Activity of Daily Living Skills (ADLS), dan kelas Montessori untuk anak yang sudah siap secara kognitif. Satu sesi berlangsung pukul 08.00–12.00, dengan format kecil, empat anak didampingi dua tutor.
Nita menjelaskan, tingkat kemampuan dan diagnosa menentukan durasi adaptasi mereka. Beberapa anak bisa cepat menyerap stimulasi, sementara yang lain membutuhkan pendampingan lebih intensif, bahkan terapi tambahan.
“Dulu ada yang hanya mau mengucap 1–2 kata kalau memang ingin sesuatu atau bahkan yang lebih parah dia tidak mengatakan apa apa hanya menunjuk saja. Sekarang dia sudah mau menyapa guru,” tutur Nita.
Proses seperti toilet training, mengenal ritme, hingga memahami aturan sederhana, menjadi target awal dan dasar penting bagi anak anak berkebutuhan khusus sebelum kemampuan akademiknya diasah.
”Sudah ada 3 lulusan dari Serasi yang kemarin berhasil dan sekarang mereka sudah masuk sekolah reguler. Alhamdulillah, mereka survive dan bisa beradaptasi,” ungkap Nita dengan penuh syukur.
Namun bagi Nita, tantangan terbesar bukan pada anak-anak tetapi justru pada orang tua. “Banyak orang tua masih denial. Padahal sedini mungkin diperiksa itu jauh lebih baik,” ujarnya.
Ia berulang kali harus meyakinkan pada wali murid bahwa diagnosis bukan vonis, tetapi kunci untuk memulai proses pendampingan yang tepat.
Di sisi lain, ada tantangan sosial yang tak kalah berat. Saat pertama kali membuka Serasi, beberapa orang tua sempat dihujat karena anak mereka memiliki kebutuhan khusus.
“Mereka takut terbuka. Kami memotivasi orang tua agar kembali percaya diri, mengajak mereka stimulasi bersama-sama. Jangan melihat dari sisi kekurangan saja, namun harus bisa melihat potensi mereka,” ujarnya.
Tak hanya itu, pengalaman keluar kelas menjadi bagian penting dalam pembelajaran. Serasi pernah mengajak murid-muridnya berkunjung ke bank.
Awalnya, siswa terlihat tenang saat diajak naik angkot, menikmati perjalanan. Tapi sesampainya di bank, suasana ramai membuat beberapa anak mulai tidak nyaman hingga banyak yang menangis.
Tidak semua hari berjalan mulus. Ada anak dengan autis yang kerap tantrum, bahkan menyakiti diri sendiri hingga wajahnya berdarah.
Ada yang memukul, menggigit, atau menggedor pintu karena sensitif terhadap suara. “Empat bulanan baru mulai tenang. Itu proses panjang,” ucapnya.
Bagi Nita, pendidikan inklusi bukan beban. Ini adalah panggilan hati. “Dalam hidup, kita tidak ada yang sama. Harusnya kita belajar menghargai perbedaan. Kalau ada anak yang berbeda, rangkul. Bantu mereka agar tidak merasa sendiri,” pungkasnya. (Dalila Adinda/aif)
Editor : Ali Sodiqin