RADARBANYUWANGI.ID – Upaya Pemkab Banyuwangi melalui Dinas Pendidikan (Dispendik) untuk memastikan anak-anak Bumi Blambangan berhasil menuntaskan wajib belajar 13 tahun berbuah manis.
Jumlah anak tidak sekolah (ATS) turun drastis dari 11.650 orang pada awal 204 menjadi 5.481 anak pada November tahun ini.
Salah satu program yang terbukti efektif menekan angka ATS adalah Rintisan Desa Tuntas Wajib Belajar 13 Tahun (Rindu Bulan).
Program ini sekaligus memastikan pemenuhan wajib belajar bagi seluruh pelajar di Banyuwangi dari jenjang pendidikan anak usia dini (PAUD) hingga SMA/sederajat.
Program Ribdu Bulan diluncurkan Bupati Ipuk Fiestiandani pada 2023. Hasilnya, jumlah anak tidak sekolah turun drastis dari belasan ribu orang pada 2024 menjadi 5.481 pada November ini.
Kepala Dispendik Banyuwangi Suratno melalui Kepala Bidang (Kabid) Pendidikan Masyarakat (Dikmas) Lina Kamalin menjelaskan bahwa program Rindu Bulan menjadi motor penggerak percepatan penuntasan wajib belajar di seluruh desa dan kelurahan.
“Kami menangani melalui inovasi Rindu Bulan, yaitu inisiasi desa atau kelurahan di seluruh Banyuwangi untuk tuntas wajib belajar selama 13 tahun,” ujarnya.
Lina menjelaskan bahwa langkah awal dalam penanganan ATS dilakukan dengan mengunduh data dari backbone Pusdatin, kemudian diklasifikasikan per kecamatan di Banyuwangi serta per-desa/kelurahan.
Selanjutnya, data tersebut diverifikasi dan divalidasi oleh operator desa dan sekolah melalui sistem verifikasi dan validasi (verval) untuk memastikan anak yang berstatus drop out (DO) dan Lulus Tidak Melanjutkan (LTM).
“Jika ada anak yang sebenarnya tidak ATS namun tercatat sebagai ATS, maka melalui proses verval, nama tersebut akan dihapus dari data ATS. Sementara anak yang memang benar-benar ATS akan kami tindaklanjuti dengan visitasi untuk mengetahui penyebabnya, sehingga bisa mendapatkan afirmasi yang sesuai,” terangnya.
Lina menambahkan, bagi ATS yang masih usia sekolah dan tidak mengalami kendala akses maupun status, mereka akan dikembalikan ke sekolah formal, baik SD, SMP, maupun SMA/sederajat.
“Sedangkan bagi anak yang sudah bekerja atau menikah, Dispendik akan mengarahkan mereka kembali bersekolah melalui jalur pendidikan nonformal seperti Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM),” jelasnya.
Melalui program Rindu Bulan, diharapkan seluruh anak di Banyuwangi dapat terus melanjutkan pendidikan tanpa terkendala.
“Data Pusdatin dapat dilihat secara real time. Kami memperbarui data setiap bulan. Pada 2024 jumlah ATS sebanyak 11.650 anak, dan di data terakhir bulan November jumlahnya sudah menurun menjadi 5.481 anak,” pungkasnya. (cw6-M Ksatria Raya/sgt)
Editor : Ali Sodiqin