Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Dispendik Banyuwangi Gencarkan Gerakan Literasi Oseng! Bahasa Daerah Jadi Identitas dan Warisan Budaya Sekolah

Tim Redaksi Radar Banyuwangi • Jumat, 14 November 2025 | 12:30 WIB
BAHASA IBU: Siswa tampil membawakan bahasa Oseng pada Festival Literasi Using yang digelar Pemkab Banyuwangi beberapa hari lalu.
BAHASA IBU: Siswa tampil membawakan bahasa Oseng pada Festival Literasi Using yang digelar Pemkab Banyuwangi beberapa hari lalu.

RADARBANYUWANGI.ID - Di tengah derasnya arus modernisasi, Dinas Pendidikan (Dispendik) Banyuwangi terus mendorong pelestarian bahasa Oseng di lingkungan sekolah. Upaya ini dilakukan dengan memperkuat penggunaan bahasa ibu masyarakat Banyuwangi tersebut dalam berbagai aktivitas pendidikan dan kegiatan literasi siswa.

Bahasa Oseng menjadi salah satu dari tiga bahasa daerah di Jawa Timur yang direvitalisasi oleh Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek). Pada 2024 Banyuwangi juga meraih penghargaan Revitalisasi Bahasa Daerah (RBD) dari kementerian tersebut.

Bukan itu saja, Banyuwangi menjadi satu-satunya kabupaten yang menggunakan bahasa Oseng sebagai bahasa daerah utama. Berbagai upaya pun telah dilakukan agar bahasa daerah asli Banyuwangi ini tetap lestari. Salah satunya melalui Gerakan Literasi Oseng.

Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandini mengatakan, bahasa Oseng merupakan identitas dan simbol budaya masyarakat Banyuwangi yang harus dijaga keberlangsungannya. “Banyuwangi punya bahasa khas dan diakui di tingkat nasional. Bahasa Oseng memiliki nilai budaya yang kuat bagi masyarakat,” ujarnya.

Ipuk berharap, gerakan literasi berbasis bahasa Oseng dapat menjangkau seluruh wilayah Banyuwangi, bukan hanya di kawasan perkotaan. “Mari kita ciptakan kegiatan bermanfaat agar literasi anak-anak kita merata, sehingga bisa meningkatkan literasi bahasa Oseng,” katanya.

Sekretaris Dispendik Banyuwangi Alfian menambahkan bahwa gerakan literasi Oseng lahir dari kesadaran kolektif di dunia pendidikan akan pentingnya menjaga warisan budaya lokal. “Banyuwangi diciptakan Tuhan dengan sangat istimewa. Kekayaan alam serta seni-budayanya luar biasa, salah satunya lewat bahasa Oseng,” ujarnya.

Menurut Alfian, di tengah era globalisasi, mulai muncul kekhawatiran terhadap memudarnya penggunaan bahasa daerah. Termasuk bahasa Oseng yang kini jarang terdengar di ruang publik, bahkan di lingkungan pendidikan. “Bahasa Oseng sudah mulai hilang di ruang publik, termasuk di sekolah. Karena itu, perlu ada gerakan nyata untuk melestarikannya di kalangan anak didik,” katanya.

Ia menegaskan, gerakan literasi bahasa daerah ini sejalan dengan program Merdeka Belajar yang digagas kementerian pendidikan melalui revitalisasi bahasa daerah sebagai bagian dari pendidikan karakter dan kebudayaan.

“Sekolah akan menjadi garda terdepan. Kami mendorong agar bahasa Oseng diintegrasikan ke dalam struktur kurikulum dan kegiatan ekstrakurikuler,” tegas Alfian.

Sementara itu, Kepala Seksi (Kasi) Pengelolaan dan Pengembangan Pendidik dan Tenaga Kependidikan (PMPTK) SD Dispendik Banyuwangi Erpandi menyampaikan bahwa pihaknya terus mendorong program berkelanjutan untuk pelestarian bahasa Oseng di kalangan pelajar. “Dispendik melakukan pelatihan guru muatan lokal (mulok) bahasa Oseng untuk jenjang SD dan SMP serta menyelenggarakan Festival Literasi Using setiap tahun,” ujarnya.

Erpandi menambahkan, pendampingan juga terus dilakukan agar para guru dan siswa mampu menggunakan bahasa Oseng sebagai penutur di lingkungan sekolah. (cw6/sgt)

Editor : Ali Sodiqin
#Dispendik banyuwangi #literasi oseng #bahasa daerah #Budaya Sekolah