RADARBANYUWANGI.ID - Kesenian tradisional Bantengan, yang dikenal dengan gerakan eksplosif dan tuntutan fisik tinggi, kini mendapat sentuhan inovasi dari dunia sains keolahragaan.
Tim Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) dari Fakultas Pendidikan Jasmani Kesehatan dan Rekreasi Universitas PGRI Banyuwangi (Uniba) menghadirkan program edukatif sekaligus inovatif bagi para penari Bantengan junior di Markas Putra Arema Cemorokandang, Kota Malang, pada Sabtu, 9 November 2025.
Mengusung tema “Pembelajaran Standar Kebugaran Tubuh pada Penari Bantengan Junior sebagai Upaya Optimalitas Performansi”, kegiatan ini tidak hanya berfokus pada pelatihan fisik, tetapi juga memperkenalkan teknologi tepat guna berupa tong hidroterapi (ice bath) sebagai solusi ilmiah untuk mengatasi kelelahan otot.
Program ini digagas oleh tim dosen Uniba, yakni Dr. Donny Setiawan, M.Or, Galih Farhanto, M.Pd, dan Wawan Setiawan, M.Pd, serta dibantu mahasiswa Prodi Pendidikan Jasmani, Kesehatan, dan Rekreasi, yakni Dinda Ni’matul M, Tarissya Faridatul A, Malika Da’u, dan Izzah Syahrur Rouf.
Menurut Dr. Donny Setiawan, penari Bantengan menghadapi tantangan besar berupa penumpukan asam laktat akibat aktivitas fisik yang bersifat anaerobik.
“Performansi Bantengan itu sangat eksplosif. Dalam waktu singkat, otot bekerja keras dan menghasilkan asam laktat tinggi yang menyebabkan pegal, kram, dan pemulihan lambat,” jelas Donny.
Kelelahan yang tidak tertangani dengan baik dapat menurunkan performa dan meningkatkan risiko cedera.
Karena itu, tim PKM memperkenalkan tong hidroterapi sebagai sarana pemulihan modern berbasis sains.
Tong hidroterapi rancangan tim Uniba terbuat dari bahan fiber atau stainless steel dengan air bersuhu terkontrol (10–35 derajat Celcius).
Penari cukup berendam selama 5–10 menit setelah latihan berat.
Prinsip kerjanya adalah cold water immersion, di mana paparan suhu dingin memicu vasokonstriksi (penyempitan pembuluh darah).
Proses ini membantu mengeluarkan sisa metabolisme, termasuk asam laktat, dari otot.
Setelah suhu tubuh kembali normal, darah segar kaya oksigen akan kembali mengalir, mempercepat proses pemulihan.
Rekayasa alat ini juga memungkinkan adanya arus air berputar untuk menstimulasi otot lebih efektif, mengikuti prinsip dinamika fluida.
Selain memperkenalkan teknologi hidroterapi, kegiatan PKM juga mencakup pembelajaran standar kebugaran tubuh bagi penari Bantengan junior, meliputi:
- Pre-Test: Pengukuran awal komposisi tubuh, daya tahan, dan kelincahan.
- Materi Latihan: Edukasi pentingnya pemanasan (warming-up), latihan inti (core training), dan pendinginan (cooling-down).
- Simulasi: Praktik langsung latihan fisik terstruktur yang disesuaikan dengan karakteristik gerakan Bantengan.
Pimpinan sanggar Slamet Raharjo menyambut baik inovasi yang dihadirkan tim Uniba.
“Kami baru tahu kalau ada metode pemulihan seperti ini. Biasanya anak-anak hanya istirahat. Dengan adanya tong hidroterapi ini, pemulihan jadi lebih cepat dan latihan berikutnya lebih optimal,” ujar Slamet.
Program PKM ini diharapkan menjadi jembatan antara kearifan lokal seni Bantengan dan kemajuan sains keolahragaan.
Melalui pendekatan ilmiah, para penari junior tidak hanya tampil atraktif secara artistik, tetapi juga memiliki kondisi fisik prima dan sistem pemulihan yang efektif.
Tim PKM juga mengucapkan terima kasih pada Kemendikti Saintek yang telah mendanai kegiatan ini.
Editor : Lugas Rumpakaadi