Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Bahasa Oseng Banyuwangi Makin Eksis! 14 Pelajar Tampil di Festival Bahasa Ibu Surabaya

Tim Redaksi Radar Banyuwangi • Senin, 10 November 2025 | 12:30 WIB
LESTARIKAN BAHASA OSENG: Delegasi Banyuwangi usai tampil pada Festival Tunas Bahasa Ibu di Hotel Santika Surabaya Sabtu (9/11).
LESTARIKAN BAHASA OSENG: Delegasi Banyuwangi usai tampil pada Festival Tunas Bahasa Ibu di Hotel Santika Surabaya Sabtu (9/11).

RADARBANYUWANGI.ID - Masyarakat Banyuwangi patut bangga. Bahasa Oseng  tetap lestari. Upaya regenerasi penutur bahasa ibu warga suku Oseng –penduduk asli Bumi Blambangan– itu tetap terjaga.

Setidaknya hal itu terbukti pada Festival Tunas Bahasa Ibu yang digelar Balai Bahasa Jawa Timur di Surabaya pada Kamis (6/11) hingga Sabtu (9/11).

Sebanyak 14 pelajar asal Banyuwangi berhasil “menggebrak” Kota Pahlawan, Surabaya. Sebagai delegasi Banyuwangi, mereka berhasil mempresentasikan bahasa Oseng dengan baik pada ajang yang dihelat Balai Bahasa Jawa Timur di Hotel Santika Surabaya.

Bahkan, para siswa tersebut semakin menahbiskan bahwa bahasa Oseng merupakan bahasa asli milik warga kabupaten the Sunrise of Java.

Betapa tidak, mereka menjadi satu-satunya delegasi yang mempresentasikan bahasa Oseng dalam festival yang berlangsung sejak Kamis (6/11) hingga Sabtu (9/11) tersebut.

Dalam ajang tahunan ini Banyuwangi mengirim 14 siswa. Mereka merupakan hasil seleksi yang dilaksanakan melalui Festival Literasi Using besutan Dinas Pendidikan (Dispendik) Banyuwangi pada Sabtu (1/11) lalu.

Para siswa yang diutus mewakili Banyuwangi ke jenjang Provinsi Jatim ini merupakan para juara asal jenjang SD dan SMP.

Festival Tunas Bahasa Ibu tahun ini menghadirkan sesuatu yang baru, yakni masuknya Bahasa Jawa dalam skema revitalisasi bahasa bersama Bahasa Madura dan Oseng.

Tercatat ada 10 kabupaten yang beradu kepiawaian dalam tujuh cabang lomba yang merepresentasikan tiga bahasa daerah yang berkembang di Jawa Timur. Kelompok Bahasa Jawa diwakili daerah Gresik, Sidoarjo dan Surabaya.

Bahasa Madura diwakili Bondowoso, Situbondo, dan Pamekasan. Sedangkan Banyuwangi menjadi satu-satunya kabupaten yang mempresentasikan bahasa  Oseng.

Dalam penilaian pengimbasan bahasa Oseng pada sektor pelajar, Banyuwangi meraih peringkat ketiga dari 10 kabupaten peserta Festival Tunas Bahasa Ibu.

Kepala Dinas Pendidikan (Dispendik) Banyuwangi Suratno menyampaikan, keikutsertaan Banyuwangi dalam ajang ini bukan sekadar untuk meraih juara perlombaan.

Ia menuturkan bahwa Dispendik menargetkan proses pelestarian dan pembiasaan penggunaan bahasa Oseng di kalangan pelajar berjalan nyata.

“Sebanyak 14 siswa tersebut adalah duta bahasa Oseng yang sudah terseleksi secara berjenjang, dari kecamatan, kabupaten, dan kini provinsi. Mereka hasil seleksi Festival Literasi Using yang sudah digelar” ujar Suratno.

Sementara itu, Kepala Seksi (Kasi) Pengelolaan dan Pengembangan Pendidik dan Tenaga Kependidikan (PMPTK) SD Dispendik Banyuwangi Erpandi menambahkan, Banyuwangi tampil pada Festival Tunas Bahasa Ibu di kategori bahasa, yaitu Oseng dan Madura.

Erpandi mengatakan, untuk terus melestarikan bahasa Oseng di kalangan pelajar, Dispendik akan terus mendorong program berkelanjutan di lingkungan sekolah di Banyuwangi.

“Kami akan terus menguatkan pelestarian bahasa Oseng di kalangan pelajar. Di antaranya dengan pelatihan guru muatan lokal (mulok) bahasa Oseng untuk SD dan SMP, menyelenggarakan Festival Literasi Using yang terintegrasi dengan Tunas Bahasa Ibu, serta pendampingan penggunaan bahasa Oseng pada penuturnya,” katanya.

Sementara itu, selain bertanding, duta Banyuwangi yang terdiri atas siswa SD, SMP dan didampingi guru tersebut juga turut berkolaborasi menampilkan seni pertunjukan Banyuwangian di Surabaya.

Untuk diketahui, delegasi Banyuwangi pada kategori Nulis Aksara diwakili oleh Ahmed Fahrizi Paythoni (SMPN 2 Banyuwangi) dan Tinnaka Aknini Magfiroh (SDN 2 Gintangan Blimbingsari). Kategori Ndongeng diwakili Graceylla Alley Nadyne CP (SMPN 5 Banyuwangi) dan Novi Jasmin Al Marista (SDN 2 Sumberagung Pesanggaran).

Pada Ngewer diwakili Achmad Fikry Setiawan (SMPN 3 Rogojampi) dan Ulan Pancar Sari (SDN 3 Rogojampi). Pada kategori pidato tampil Arayo Datan Pratama (SMPN 3 Rogojampi) dan Annora Hanifa Firmala (SDN 1 Licin).

Pada kategori Maca Geguritan tampil İstiqlal Syukri Ahmad (SMP Bustanul Makmur Genteng) dan Nabila Umaira Bramanta (SDN 4 Penganjuran). Pada kategori Nembang diwakili Cinta Qieta Berliana Putry (SMP Muhammadiyah 7 Sempu) dan Putri Qoireen Khumaira Herlangga (SDN 1 Rogojampi). Sedangkan pada Nulis Cerita Cendhak, Banyuwangi menurunkan Anggun Aulia Pratama Putri (SMPN 2 Cluring) dan Keyra Febrisal Wardani (SDN 1 Pakistaji Kabat).

Selain itu, Anggun dan Keyra selaku juara cerpen, serta juara 2 cerita cendhak yaitu Sifa Zulliyati (SMPN 1 Singojuruh) dan Aisya Nada Nahdliyina (SDN 1 Tamansuruh Glagah) juga diundang menghadiri awarding.

Keempat pelajar tersebut mengikuti inkubasi penulisan cerpen dwibahasa lokal dan Indonesia. (M Ksatria Raya/sgt)

Editor : Ali Sodiqin
#Festival tunas bahasa ibu #jawa timur #banyuwangi #bahasa oseng