RADARBANYUWANGI.ID – Anak-anak istimewa dari Dusun Pegundangan, Dusun Kendenglembu, dan Dusun Terbasala, Desa Karangharjo, Kecamatan Glenmore, Banyuwangi, semakin banyak yang mengenyam pendidikan.
Berbagai upaya pun dilakukan untuk mendorong bersekolah, baik di lembaga pendidikan formal maupun informal.
Salah satu guru SLB Bhakti Pertiwi, yakni Evy Widyawati menjelaskan, di tahun ajaran baru 2025/2026 ini ada tiga tambahan siswa dari wilayah tersebut. “Ada tambahan tiga anak lagi dari (Dusun) Pegundangan,” ujarnya.
Ketiga siswa itu, kata Evy, merupakan anak istimewa yang belum pernah bersekolah sama sekali. Padahal, rata-rata anak-anak tersebut sudah menginjak usia 10 tahun.
“Kalau sekolah formal, mungkin ini sudah kelas tiga. Sebelumnya mereka tidak bersekolah sama sekali,” jelas Evy.
Meski begitu, menurut pengajar asal Kecamatan Gambiran tersebut, setelah masuk penjaringan baru dua siswa yang aktif bersekolah.
Satu siswa lain masih butuh pendekatan lebih intensif. “Satu siswa masih kerap takut sehingga sempat tidak mau bersekolah kembali,” tandasnya.
Meski begitu, tercatat masih ada banyak anak istimewa dari daerah tersebut yang belum sekolah. Penyebabnya paling umum adalah lokasi SLB yang jauh dari permukiman.
“Penyebab paling banyak kasus-kasus seperti ini, karena jarak yang jauh dari lokasi sekolah ke rumah,” kata Kepala Seksi (Kasi) SMA dan PK PLK Cabang Dinas Pendidikan (Cabdindik) Jatim Wilayah Banyuwangi Arief Ainur Rozie.
Arief menambahkan, pihaknya kini berupaya menjajaki opsi penyiapan asrama di SLB-SLB prioritas.
"Bisa saja nanti diarahkan seperti itu. Pembangunan asrama di SLB yang mungkin punya lahan lebih," tandasnya.
Meski begitu, Arief menyebut opsi tersebut masih perlu digodok. Sebab, berdasar hasil observasi timnya, persoalan lain yang kerap jadi alasan adalah banyak anak istimewa tidak belajar di SLB adalah karena orang tua mereka yang tidak terdukasi dengan baik.
"Terkadang orang tuanya tidak tega melepas anaknya ke SLB," katanya.
Seperti diberitakan, masih banyak anak berkebutuhan khusus yang tidak mendapat kesempatan mengenyam pendidikan.
Seperti belasan anak istimewa di lingkungan Dusun Pegundangan, Kendenglembu, dan Terbasala, Desa Karangharjo, Kecamatan Glenmore.
“Di sini banyak sekali anak-anak difabel tidak sekolah,” kata salah satu tokoh wara setempat, Muhammad Sholihin, pada Desember lalu.
Menurut Sholihin, ada 15 anak berkebutuhan khusus di sekitar tempat tinggalnya yang sampai saat ini tidak sekolah.
“Dari hitungan saya, empat anak sudah usia remaja, artinya lebih dari 17 tahun. Dan 11 anak yang usia sekolah, antara tujuh sampai 16 tahun,” ungkapnya. (sas/sgt)
Editor : Ali Sodiqin