RADARBANYUWANGI.ID - Tes Kompetensi Akademik (TKA) untuk jenjang SMA/SMK/MA di Banyuwangi memasuki gelombang kedua, Rabu (5/11).
Tidak hanya sekolah umum yang melaksanakan ujian, tetapi siswa Sekolah Luar Biasa (SLB) jenjang SMA juga ikut TKA.
Mata pelajaran (mapel) yang diujikan pada siswa sekolah umum dan SLB sama, dengan tiga mapel wajib yaitu Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, dan Matematika.
Perbedaannya, pada mapel pilihan untuk TKA. Di sekolah umum ujian mapel pilihan tetap menggunakan model soal pilihan ganda.
Sedangkan pada siswa SLB dilakukan dengan cara praktik sesuai pembelajaran vokasi yang mereka pilih.
Kepala Sub Bagian Tata Usaha (Kasubag TU) Cabang Dinas Pendidikan Wilayah Banyuwangi Setyo Agung Wahyudi mengatakan, TKA tidak menentukan kelulusan bagi siswa sekolah formal.
“TKA tidak menentukan kelulusan bagi siswa sekolah formal, namun menjadi penentu kelulusan bagi siswa jalur informal (sekolah rumah),” ujarnya.
Setyo menambahkan, murid yang telah mengikuti ujian TKA berhak memperoleh sertifikat hasil TKA.
SMALB Negeri Banyuwangi baru memulai TKA pada gelombang kedua, Rabu (5/11). Hal tersebut karena jumlah siswa yang mengikuti hanya enam anak.
Wakil Kepala Sekolah Kesiswaan SMALB Negeri Banyuwangi Nyoman Henny mengatakan, total ada enam siswa yang mengikuti TKA.
”Ada 6 siswa yang mengikuti TKA di SMALB Negeri Banyuwangi, terdiri dari siswa laki-laki semua. Ada tiga siswa tuna rungu, satu tuna daksa, satu tuna netra dan satu tuna grahita,” ujarnya.
Nyoman menyebut mapel yang diujikan pada siswa SLB sama seperti sekolah lainnya, yaitu tiga mapel wajib dan dua mapel pilihan.
”Yang membedakan hanya mapel pilihan. Dalam TKA kami sesuaikan dengan pembelajaran vokasi, jadi ujiannya bukan tulis tetapi praktik produksi,” tambahnya.
Sebelum pelaksanaan TKA, selain guru pengawas, pihak sekolah juga menyiapkan guru pendamping untuk membantu siswa saat pelaksanaan ujian. Pendampingan ini disesuaikan kebutuhan masing-masing anak.
”Selain pengawas, ada juga guru pendamping yang bertugas membantu siswa memahami soal sesuai kebutuhan dari anak-anak. Tuna netra didampingi dengan membacakan soal, sedangkan tuna grahita yang memiliki hambatan intelektual yang membutuhkan pendampingan ekstra,” pungkas Nyoman. (cw6-M Ksatria Raya/aif)
Editor : Ali Sodiqin