RADARBANYUWANGI.ID – Banyuwangi jadi salah satu wilayah yang paling serius melaksanakan Tes Kemampuan Akademik (TKA).
Hal itu disampaikan Staf Ahli Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) RI Dr Mariman Darto saat melakukan monitoring dan evaluasi (monev) di SMAN 2 Taruna Bhayangkara (Smadatara) Genteng, Banyuwangi, Rabu (5/11).
Dalam monev tersebut Mariman meninjau dua dari empat ruang yang dijadikan lokasi ujian. Ia menilai, teknis pelaksanaan TKA di Smadatara sudah jempolan.
“Di sini (Smadatara) sangat baik pelaksanaannya, kondusif, tenang, dan terlihat sangat siap," ujarnya.
Penempatan peranti komputer untuk ujian, pencahayaan ruang kelas yang berkaitan dengan jelas atau tidaknya visual untuk pemantauan juga diapresiasi oleh staf Bidang Manajemen Talenta itu.
“Penempatan komputer dan kursi ujian sudah sangat ideal. Jaringan juga lancar, saat ada kendala langsung bisa teratasi,” katanya.
Mariman juga menilai para siswa mengikuti tes yang menjadi salah satu bahan pertimbangan seleksi ke jenjang pendidikan selanjutnya –seperti Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi (SNBP) dan seleksi lainnya– itu dengan jujur.
“Paling penting adalah dilakukan dengan jujur dan gembira. Saya juga minta testimoni pengawas. Kata pengawas, dengan model ujian seperti itu siswa tidak bisa mencontek,” tandasnya.
Selain itu, Mariman terkesan dengan kesiapan siswa dalam mengikuti tes.
“Dugaan saya, ini memang karena model belajar siswa yang juga menerapkan bimbingan belajar (bimbel) tambahan di sekolah setiap malam. Ini yang membuat siswa bisa mengerjakan dengan baik,” terangnya seraya menyebut monev juga akan dilakukan di sekolah lain.
Kepala Smadatara H. Mujib mengaku senang dengan kunjungan sekaligus peninjauan TKA oleh perwakilan dari Kemendikdasmen RI di sekolah yang ia pimpin.
“Terima kasih sudah melihat dari dekat sekolah kami. Untuk TKA, kami rasa inovasi ini sangat penting untuk dilanjutkan lagi di tahun-tahun berikutnya,” tuturnya.
TKA, lanjut Mujib, bisa menjadi tolok ukur kemampuan siswa dalam menyerap pelajaran yang diberikan oleh dewan guru di sekolahan.
“Ini bisa jadi evaluasi tidak hanya bagi siswa, tapi untuk dewan guru. Bagaimana kompetensi dan model pembelajaran itu bisa melatih siswa mengerjakan soal-soal problem solving (pemecahan masalah),” pungkasnya. (sas/sgt)
Editor : Ali Sodiqin