Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

5 November: Sejarah dan Makna Hari Cinta Puspa dan Satwa Nasional

Lugas Rumpakaadi • Rabu, 5 November 2025 | 16:46 WIB
Tampilan Google Doodle dalam peringatan Hari Cinta Puspa dan Satwa Nasional.
Tampilan Google Doodle dalam peringatan Hari Cinta Puspa dan Satwa Nasional.

RADARBANYUWANGI.ID - Setiap tanggal 5 November, Indonesia memperingati Hari Cinta Puspa dan Satwa Nasional (HCPSN).

Peringatan ini bukan sekadar simbol, tetapi ajakan nyata bagi seluruh masyarakat untuk mencintai, menjaga, dan melestarikan keanekaragaman hayati yang menjadi kekayaan bangsa.

Hari Cinta Puspa dan Satwa Nasional pertama kali ditetapkan melalui Keputusan Presiden Nomor 4 Tahun 1993 oleh Presiden Soeharto.

Pada masa itu, pemerintah menilai bahwa ancaman terhadap flora dan fauna Indonesia semakin meningkat akibat perburuan liar, alih fungsi lahan, dan penebangan hutan yang tidak terkendali.

Sejak pencanangan resminya pada 10 Januari 1993, HCPSN menjadi momentum nasional untuk menumbuhkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya melindungi puspa (bunga) dan satwa (hewan) khas Nusantara.

Kata puspa berarti bunga, sedangkan satwa berarti hewan.

Melalui peringatan ini, masyarakat diajak untuk mengenali dan mencintai flora serta fauna yang menjadi identitas dan kebanggaan nasional.

Pemerintah menetapkan tiga jenis bunga dan tiga jenis satwa sebagai simbol resmi:

Tiga Puspa Nasional

Melati (Jasminum sambac) – Puspa Bangsa yang melambangkan kesucian dan ketulusan.

Anggrek Bulan (Phalaenopsis amabilis) – Puspa Pesona yang mewakili keanggunan dan keindahan tropis Indonesia.

Padma Raksasa (Rafflesia arnoldii) – Puspa Langka yang menjadi simbol keunikan dan kekuatan alam Nusantara.

Tiga Satwa Nasional

Komodo (Varanus komodoensis) – Satwa Nasional mewakili kekuatan satwa darat.

Ikan Siluk Merah (Scleropages formosus) – Satwa Pesona dari perairan Indonesia yang melambangkan kemakmuran.

Elang Jawa (Spizaetus bartelsi) – Satwa Langka yang melambangkan kebebasan dan keberanian bangsa.

Tahun 2025 mengusung tema “Menjaga Kekayaan Hayati Nusantara”.

Tema ini menekankan pentingnya aksi nyata dari seluruh lapisan masyarakat dalam melestarikan flora dan fauna Indonesia.

Berbagai kegiatan edukatif dan kampanye lingkungan digelar untuk mengajak masyarakat berpartisipasi, seperti:

- Menanam pohon dan bunga lokal di sekitar rumah,

- Mengurangi penggunaan plastik sekali pakai,

- Mengunjungi taman nasional tanpa merusak ekosistem,

- Membuat karya seni atau poster bertema lingkungan,

- Mengikuti diskusi atau seminar tentang keanekaragaman hayati.

HCPSN berfungsi sebagai pengingat nasional bahwa kelestarian alam adalah tanggung jawab bersama.

Di tengah ancaman perubahan iklim dan kepunahan spesies, kesadaran individu menjadi kunci utama.

Melalui kegiatan peringatan ini, masyarakat diharapkan:

- Tidak membeli produk dari hewan liar atau tumbuhan langka,

- Mendukung konservasi hutan dan satwa,

- Berpartisipasi dalam penelitian dan edukasi lingkungan,

- Mendorong kebijakan hijau dan ramah lingkungan di komunitasnya.

Sebagai bentuk apresiasi global, Google Doodle tahun 2025 turut menampilkan ilustrasi khusus bertema flora dan fauna Indonesia.

Doodle tersebut menggambarkan keragaman hayati dari darat, laut, dan udara, sekaligus simbol harmoni antara manusia dan alam.

Tampilan ini menjadi pengingat bahwa kekayaan alam Indonesia tidak hanya berharga bagi bangsa sendiri, tetapi juga diakui dunia.

Editor : Lugas Rumpakaadi
#flora #5 November #indonesia #Fauna #hari cinta puspa dan satwa nasional