Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Bikin Bangga! Guru dan Murid MTsN 1 Banyuwangi Kawinkan Gelar Juara Liga Puisi #4

Tim Redaksi Radar Banyuwangi • Jumat, 31 Oktober 2025 | 12:45 WIB
SANG JUARA: Nuhbatul Fakhiroh (kanan) dan Azkiya Kiska Alkholid ketika tampil membacakan puisi dalam babak final di Seblang Room Grha Pena Banyuwangi, Rabu (30/10).
SANG JUARA: Nuhbatul Fakhiroh (kanan) dan Azkiya Kiska Alkholid ketika tampil membacakan puisi dalam babak final di Seblang Room Grha Pena Banyuwangi, Rabu (30/10).

RADARBANYUWANGI.ID - Guru dan murid MTs Negeri 1 Banyuwangi berhasil meraih juara pertama ajang Liga Puisi #4 yang digelar Jawa Pos Radar Banyuwangi di Gedung Graha Pena, Rabu (30/10).

Sang guru, Nuhbatul Fakhiroh meraih juara 1 kategori guru. Sedangkan anak didiknya, Azkiya Kiska Alkholid, menyabet juara 1 kategori SMP/MTs.

Gelaran Liga Puisi #4 yang diselenggarakan oleh Jawa Pos Radar Banyuwangi bekerja sama dengan Dinas Pendidikan Banyuwangi berakhir, Rabu (30/10).

Dari 279 peserta ajang literasi bergengsi ini, melahirkan para juara dari empat kategori, mulai jenjang SD, SMP, SMA, hingga guru.

Namun, ada yang menarik di antara para pemenang tahun ini. Pasangan guru dan murid dari MTsN 1 Banyuwangi sama-sama merebut juara pertama. Nuhbatul Fakhiroh juara 1 kategori guru, dan Azkiya Kiska Alkholid, juara 1 kategori SMP.

Ada senyum haru yang tak bisa disembunyikan dari wajah Nuhbatul. Ia memeluk Azkiya erat, seolah kemenangan itu bukan sekadar hasil lomba, melainkan buah dari perjalanan panjang antara seorang guru dan murid.

”Tidak ekspek sebenarnya bisa juara, apalagi di ajang  Liga Puisi ini merupakan kompetensi bergengsi di Banyuwangi,” ujar Nuhbatul saat ditemui usai pengumuman, Rabu (29/10).

Bagi Nuhbatul, keberhasilan ini bukan kejutan, melainkan hasil dari proses yang panjang dan penuh strategi.

Bahkan sebelum buku kumpulan puisi dibagikan ke peserta, ia sudah menyiapkan anak didiknya.  

”Seminggu sebelum buku puisi datang, saya latih dulu vokal dan artikulasi anak-anak. Jadi saat buku terbit, anak-anak sudah siap tampil,” tuturnya.

Liga Puisi kali ini memang berbeda dari event sebelumnya. Peserta tak sekadar membaca puisi, tapi membawakan karya dari buku antologi yang mereka tulis sendiri.

Ada dua buku yang lahir dari workshop yang diadakan sejak bulan Mei. Pasca  pelatihan singkat menulis puisi, lahirlah dua buku antologi puisi, yaitu

”Pahlawan Tanda Tanya” karya para guru dan “Bel Masa Depan dan Penggaris Mimpi” karya para murid.

“Latihannya di sela-sela pulang sekolah. Kadang sore, kadang malam. Banyak yang awalnya tidak mau ikut, tapi akhirnya mengerucut jadi lima anak yang benar-benar serius. Dari lima itu, satu yang bisa sampai final dan juara. Saya bersyukur sekali,” kenangnya.

Dalam memilih judul puisi untuk dirinya serta anak didiknya dalam ajang Liga Puisi, Nuhbatul tak sekadar pilih judul. 

”Saya sesuaikan dengan karakter, kondisi fisik, dan mental anak. Tidak boleh terlalu berat. Kalau saya sendiri, justru memilih puisi karya murid karena lebih menantang,” ujarnya.

Ia  tampil membawakan puisi berjudul ”Hujan di Kebun Cahaya” di babak awal dan ”Indonesia di Papan Tulis” di babak final.

Namun, baginya, kemenangan pribadi bukan tujuan utama, tetapi membantu para anak didiknya meraih prestasi lah yang meruapakn harapannu.

 “Guru yang berhasil itu bukan karena dia juara, tapi karena muridnya bisa berprestasi dan bisa meraih juara juga,” pungkasnya.

Di sisi lain, Azkiya masih belum percaya dengan pencapaiannya. Gadis berwajah lembut itu tersenyum malu saat ditanya perasaannya.

 “Saya nggak menyangka bisa juara. Saya cuma nurut apa yang diajarkan Bu Nuhbatul,” ujarnya polos.

Menariknya, Liga Puisi ini adalah lomba pertama bagi Azkiya dalam belajar dan membaca puisi.

Sebelumnya dia belum pernah ikut lomba baca puisi, jadi ini pengalaman pertama bagi dia.  

Sama seperti gurunya, Azkiya juga menjalani latihan intens. Mulai dari latihan vokal, artikulasi, hingga ekspresi yang menjadi pondasinya sebelum tampil di ajang Liga Puisi.

“Yang paling sulit itu mengatur ekspresi dan volume suara. Tapi pas tampil di depan juri, saya nggak terlalu gugup karena sudah terbiasa melatih mental yang dibimbing guru saya tampil di taman Blambangan dan di sekolah,” jelasnya.

Di babak penyisihan, Azkiya membawakan puisi ”Saksi Luka Bangsa” dan menutup penampilannya di babak final dengan ”Puisi Jerit yang Terkubur.”

“Rasanya masih belum puas hanya mendapat juara di Liga Pusis saja, jadi ke depannya ingin ikut lagi,’’ ujarnya penuh semangat. (M. Ksatria Raya/aif)

Editor : Ali Sodiqin
#juara #radar banyuwangi #Guru dan Murid #liga puisi #MTsN 1 Banyuwangi