Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Juri Liga Puisi 2025 Sebut Kualitas Peserta Meningkat Dibanding Sebelumnya, Ini Alasannya

Tim Redaksi Radar Banyuwangi • Rabu, 29 Oktober 2025 | 13:15 WIB
KATEGORI SLTA DAN GURU: Tim juri yang terdiri Mahendra, Iqbal Baraas, dan Fatah Yasin Noor menilai penampilan peserta Liga Puisi di ruang Seblang.
KATEGORI SLTA DAN GURU: Tim juri yang terdiri Mahendra, Iqbal Baraas, dan Fatah Yasin Noor menilai penampilan peserta Liga Puisi di ruang Seblang.

RADARBANYUWANGI.ID - Babak penyisihan Liga Puisi#4 yang digelar oleh Jawa Pos Radar Banyuwangi bekerja sama dengan Dinas Pendidikan Banyuwangi berakhir, Selasa (28/10).

Setelah melalui penilaian yang cukup ketat, terpilih lima finalis di empat kategori. Total ada 20 finalis yang akan berlomba hari ini untuk menjadi yang terbaik.

Salah satu juri kategori SMA dan guru, Fatah Yasin Noor, mengungkapkan bahwa kualitas peserta tahun ini mengalami peningkatan dibandingkan tahun sebelumnya.

“Untuk tahun ini lebih bagus dan ada peningkatan dibanding tahun lalu, meskipun jumlah pesertanya lebih sedikit,” ujarnya.

Fatah menilai banyak peserta di Liga Puisi yang menonjol ketiak membaca terutama dari sisi vokal dan artikulasi.  

“Rata-rata peserta bagus dari segi vokal. Tapi dalam membaca puisi, penghayatan juga penting. Tidak harus selalu teriak untuk meluapkan emosi, yang utama adalah ekspresi dan penguasaan intonasi,” jelasnya.

Sementara itu, juri lainnya, Iqbal Baraas, budayawan sekaligus dosen Universitas Ibrahimy Genteng, menyoroti beberapa peserta yang masih kurang tepat dalam memahami makna puisi yang dibacakan.

”Ada beberapa peserta yang salah tafsir saat membaca puisi orang lain. Kalau salah tafsir otomatis pembacaan jadi kurang tepat. Membaca puisi harus berbeda dengan membaca cerpen, karena perlu ekspresi dan penghayatan,” ujarnya.

Iqbal menambahkan, secara umum kualitas peserta meningkat dibandingkan pada Liga Puisi tahun lalu walupun secara jumlah lebih sedikit.  

“Tahun ini catatannya positif. Kualitas vokal lebih bagus meskipun jumlah peserta menurun. Hanya sekitar 20 persen peserta yang penampilannya kurang maksimal,” imbuhnya.

Iqbal juga terkesan dengan salah satu peserta di kategori SMA yang difabel, tetapi bisa tampil konsisten dan memiliki olah vokal yang sangat baik.

Juri lainnya Mahendra menilai ajang Liga Puisi Banyuwangi memiliki daya tarik tersendiri.

“Masih banyak pelatih yang belum mau melepaskan muridnya untuk berekspresi. Seharusnya cukup diarahkan, lalu biarkan mereka mengeksplor sendiri,” katanya.

Mahendra juga memberi catatan agar peserta ke depan lebih fokus pada penghafalan naskah agar tidak mempengaruhi penampilan ketika membaca Puisi.

“Sebaiknya peserta tidak perlu membawa buku saat tampil. Karena itu bisa memberi jeda ketika membaca puisi dan mengganggu penghayatan,” ujar tingkat nasional asal Madura ini.

Meski demikian, ia menilai potensi peserta Liga Puisi sangat kuat, terutama dari segi olah vokal.

Event Liga Puisi ini menarik sekali dan semoga bisa terus berlanjut. Tidak banyak daerah yang punya ajang sebesar ini, yang melibatkan peserta mulai dari murid hingga guru,” pungkasnya.

Juri kategori SD dan SMP, Abdullah Fauzi menyoroti pentingnya interpretasi dan kesesuaian antara pemahaman puisi, ekspresi, dan penampilan.

“Interpretasi itu kunci. Cara membawakan dan ekspresi harus sesuai dengan maknanya. Kostum pun bisa mendukung penghayatan,” terangnya.

Menurut Fauzi, peserta SMP menunjukkan banyak penampilan menonjol dengan pembawaan yang lebih matang daripada siswa SD.  

“Banyak yang tampil bagus, terutama di kategori SMP. Mungkin karena pengalaman mereka sudah lebih banyak dibandingkan peserta darianak-anak SD, ” ujarnya. (cw6-M Ksatria Raya/aif)

Editor : Ali Sodiqin
#radar banyuwangi #liga puisi