RADARBANYUWANGI.ID – Inovasi teknologi kini menjangkau dapur para pelaku UMKM di pedesaan Banyuwangi, Jawa Timur.
Di Desa Labanasem, Kecamatan Kabat, yang dikenal sebagai sentra penghasil bahan pangan lokal, jenang dodol menjadi salah satu produk unggulan yang digemari banyak kalangan.
Namun, di balik cita rasa legit dan kenyalnya, proses pembuatan jenang dodol selama ini menyimpan tantangan besar.
Pengadukan manual dengan tenaga manusia memerlukan waktu lama, tenaga besar, dan sering kali menghasilkan tingkat kematangan yang tidak merata.
Melihat hal itu, Dosen Politeknik Negeri Banyuwangi (Poliwangi) turun tangan lewat Program Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM).
Mereka berkolaborasi dengan kelompok UMKM Desa Labanasem untuk menghadirkan solusi nyata berupa mesin pengaduk jenang dodol berbasis sistem kontrol otomatis.
Teknologi Tepat Guna untuk UMKM Desa
Mesin pengaduk ini dirancang agar mampu mengaduk adonan secara konstan dengan suhu dan kecepatan yang dapat diatur sesuai kebutuhan. Dengan begitu, hasil adonan menjadi lebih merata, higienis, dan berkualitas tinggi.
“Melalui pengembangan mesin pengaduk otomatis berbasis sistem kontrol ini, kami berharap proses produksi jenang dodol menjadi lebih efisien, higienis, dan bernilai jual tinggi,” ujar Ketua Tim PKM Poliwangi, Choirul Anam, saat ditemui usai uji coba mesin, Senin (28/10).
Dengan sistem otomatisasi tersebut, waktu produksi bisa dipangkas hingga setengahnya. Para pelaku UMKM pun tidak lagi kelelahan harus mengaduk adonan secara manual berjam-jam di atas tungku panas.
Sinergi Kampus dan Desa
Pemerintah Desa Labanasem menyambut hangat inovasi ini. Mereka menilai program tersebut menjadi contoh nyata sinergi antara dunia pendidikan dan masyarakat dalam membangun ekonomi desa.
“Program ini bukan hanya membantu efisiensi, tapi juga meningkatkan daya saing produk lokal agar bisa menembus pasar kabupaten hingga nasional,” kata salah satu perangkat desa setempat.
Selain itu, penerapan teknologi ini dinilai sejalan dengan semangat pemberdayaan ekonomi masyarakat berbasis potensi lokal.
Dari Dapur Tradisional ke Industri Pangan Modern
Kolaborasi ini diharapkan menjadi tonggak transformasi bagi UMKM Labanasem menuju industri pangan modern yang tetap berpijak pada kearifan lokal.
“Kami ingin UMKM di Labanasem bertransformasi menuju industri pangan modern berbasis teknologi, tanpa meninggalkan nilai tradisional yang menjadi kekuatannya,” tambah Choirul Anam.
Dengan efisiensi tinggi dan kualitas yang meningkat, jenang dodol khas Labanasem berpeluang besar memperluas jangkauan pasar hingga luar Banyuwangi — bahkan membuka peluang ekspor produk olahan berbasis pertanian desa.
Langkah Nyata untuk Kemandirian Ekonomi Desa
Inovasi ini membuktikan bahwa teknologi tepat guna tidak hanya milik industri besar, tapi juga dapat menjadi pendorong utama bagi pertumbuhan ekonomi di tingkat desa.
Melalui kolaborasi berkelanjutan antara kampus, pemerintah desa, dan pelaku UMKM, Desa Labanasem kini bersiap menjadi ikon pengolahan pangan inovatif Banyuwangi.
Editor : Ali Sodiqin“Program ini menjadi langkah nyata dalam mendukung pemberdayaan ekonomi masyarakat desa melalui inovasi teknologi yang berkelanjutan,” pungkas Anam. (*)