Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Bikin Produk Choco Deles, Tim Mahasiswa Untag Banyuwangi Tembus Ajang Nasional KMI Expo

Tim Redaksi Radar Banyuwangi • Sabtu, 25 Oktober 2025 | 12:39 WIB
Photo
Photo

RADARBANYUWANGI.ID - Kelompok kewirausahaan mahasiswa Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Banyuwangi berhasil menembus ajang nasional KMI Expo (Kewirausahaan Mahasiswa Indonesia).

Mereka lolos pendanaan Program Pembinaan Mahasiswa Wirausaha (P2MW) dari Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi.

Kelompok tersebut terdiri dari empat mahasiswa dari campuran program studi (prodi). Mereka adalah Farin Mifta Rahmayanti (Prodi Administrasi Publik), Abdul Hamid (Agroteknologi), Fadila Putri Widiana dan Gadis Alfiya Kadrun Nada dari Prodi Manajemen.

Kelompok kewirausahaan Untag Banyuwangi terdiri Farin Mifta Rahmayanti, Abdul Hamid, Fadila Putri Widiana, dan Gadis Alfiya Kadrun Nada berhasil menembus ajang nasional KMI Expo.
Kelompok kewirausahaan Untag Banyuwangi terdiri Farin Mifta Rahmayanti, Abdul Hamid, Fadila Putri Widiana, dan Gadis Alfiya Kadrun Nada berhasil menembus ajang nasional KMI Expo.

Kelompok dari mahasiswa ini membuat suatu inovasi produk bisnis bernama ”Choco Deles” yang merupakan produk olahan dari cokelat produksi petani Glenmore.

Uniknya, pada cokelat produksi mahasiswa kampus merah putih ini memiliki keunggulan pada nilai budaya yang disisipkan pada kemasan mereka.

“Dari setiap kemasan produk cokelat yang kami produksi ini memiliki barcode. Apabila di-scan langsung keluar konten seperti artikel tentang asal usul budaya yang ada di Banyuwangi,” ungkap Farin,  perwakilan dari kelompok.

Ide memproduksi ”Choco Deles” tidak lahir secara instan, namun melalui berbagai inkubasi yang kerap diberikan dari pihak kampus dan program Wirausaha Merdeka dari Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Kemendibudristek) Republik Indonesia.

“Awalnya kami dari inkubasi wirausaha yang diadakan oleh kampus setiap tahunnya kami belajar dan diarahkan untuk menambahkan nilai pada produk setelah itu kami ikut juga progam wirausaha merdeka dan lolos. Di sana kami belajar langsung dengan praktisi para pembuat cokelat,” tambah Farin.

Dari situ, mereka akhirnya mendapatkan ide untuk membuat bisnis berupa cokelat khas Banyuwangi. Produk ini tak hanya khas dari rasa dan bahan baku, tapi juga keunikan nilai budaya Banyuwangi.

“Produk ini tidak hanya memberikan kenikmatan saat mengonsumsi cokelat khas Banyuwangi, tetapi juga menambah wawasan terhadap budaya Banyuwangi,” imbuh Farin.

Lebih jauh Farin mengungkapkan, untuk dapat lolos hingga tahap ini cukup susah. Persiapan untuk menyusun prototipe hingga seleksi pendanaan cukup memakan waktu lama dan berbagai tahapan penjurian.

“Sejak bulan Desember tahun lalu, kami  mulai menyusun konsep bisnis ini. Setelah itu kami matangkan terus. Kami uji coba dan pada akhirnya bulan Juli 2025 kami daftarkan P2MW. Setelah melalui berbagai penjurian, kami dinyatakan lolos pada bulan Agustus,” ungkapnya dengan penuh haru.

Farin dan timnya mengaku terkejut saat diumumkan lolos mendapatkan pendanaan dan KMI Expo untuk tahap selanjutnya.

“Kaget banget, karena lawan kami juga dari kampus terkenal di kota besar yang idenya juga tak kalah menarik,” tuturnya dengan senyum bangga.

Farurrozi, dosen pendamping kewirausahaan Untag Banyuwangi menjelaskan, Untag Banyuwangi tidak membiarkan mahasiswanya berjalan sendiri.

Dari pihak universitas telah menyiapkan dosen pembimbing dan mentor praktisi yang mendampingi dari tahap pembuatan proposal, pelaksanaan usaha hingga evaluasi mingguan.

“Selaku pembimbing, kami fokus pada penyusunan proposal. Nah, setelah proposal lolos dan didanai, barulah nanti akan ada pendamping atau mentor dari dosen dan praktisi yang terlibat langsung untuk mendampingi setiap kelompok,” terang Rozi.

Pendampingan itu bukan sekadar administrasi. Para mentor turut membantu mahasiswa memahami pasar, mengatur strategi promosi, hingga memantau keberlanjutan bisnis mereka.

Mahasiswa dilatih agar setelah lulus, mereka tidak hanya mencari kerja, tetapi bisa menciptakan lapangan kerja baru

Yang menarik, tidak semua usaha mahasiswa berorientasi pada keuntungan semata. Dalam proposal P2MW, setiap peserta wajib menunjukkan dampak sosial dan lingkungan dari bisnisnya.

“Ada produk yang menggunakan bahan limbah, ada juga yang menonjolkan sisi budaya Banyuwangi,” tutur Rozi.

Untag memfasilitasi minat wirausaha melalui inkubator bisnis dan UKM kewirausahaan yang aktif membina mahasiswa dari semester tiga hingga tujuh.

“Kami punya mata kuliah berjenjang. Mulai dari kreativitas dan inovasi, Dasar kewirausahaan, bisnis plan, hingga digital marketing,” jelas Rozi.

Melalui pembelajaran dan pendampingan itu, mahasiswa didorong mengembangkan ide hingga siap diuji di tingkat nasional.

Tidak heran jika kampus ini juga dikenal sebagai salah satu Kampus Kewirausahaan di Banyuwangi. Program P2MW dan KMI Expo bukan sekadar ajang kompetisi. Bagi Untag Banyuwangi, ini adalah cara menumbuhkan jiwa mandiri dan tangguh pada mahasiswa.

“Harapan kami, usaha ini bisa berdampak bagi masyarakat. Walaupun masih tahap awal, semoga bisa menyerap tenaga kerja dan melahirkan pengusaha muda baru dari Banyuwangi,” pungkas Rozi. (Dalila Adinda/aif)

Editor : Ali Sodiqin
#KMI Expo #untag banyuwangi