Khutbah Jumat: Perjuangan Santri di Masa Kemerdekaan hingga Lahirnya Hari Santri Nasional
Ali Sodiqin• Jumat, 24 Oktober 2025 | 15:43 WIB
ILUSTRASI Khutbah Jumat Hari Santri Nasional 22 Oktober 2025.
Khutbah Pertama
Khutbah Pembuka (Khutbatul Hajah):
الحمد لله نحمده ونستعينه ونستغفره، ونعوذ بالله من شرور أنفسنا ومن سيئات أعمالنا، من يهده الله فلا مضل له ومن يضلل فلا هادي له، أشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له، وأشهد أن محمداً عبده ورسوله. اللهم صل وسلم وبارك على نبينا محمد، وعلى آله وصحبه أجمعين.
أما بعد، فيا أيها الناس، اتقوا الله حق تقاته، ولا تموتن إلا وأنتم مسلمون. قال الله تعالى في كتابه الكريم:
وَجَاهِدُوا فِي اللَّهِ حَقَّ جِهَادِهِ
“Berjihadlah kamu di jalan Allah dengan jihad yang sebenar-benarnya.” (QS. Al-Hajj: 78)
Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah,
Pada hari ini, marilah kita menundukkan kepala sejenak, mengenang perjuangan para santri, ulama, dan pejuang Islam yang telah mengorbankan segalanya untuk kemerdekaan bangsa Indonesia.
Santri bukan hanya mereka yang belajar di pesantren, tapi juga mereka yang mengamalkan ilmunya, berjuang dengan akhlak dan keikhlasan demi agama dan tanah air.
Sejarah mencatat bahwa pada masa penjajahan, banyak pesantren menjadi pusat perlawanan terhadap kolonialisme. Para kiai dan santri tidak hanya berdakwah di mimbar, tetapi juga turun ke medan perang.
Salah satu tonggak penting perjuangan santri adalah “Resolusi Jihad” yang dikeluarkan oleh Hadratus Syaikh KH. Hasyim Asy’ari pada tanggal 22 Oktober 1945.
Beliau menyerukan bahwa membela tanah air dari penjajahan adalah kewajiban agama (fardhu ‘ain) bagi setiap muslim di Indonesia.
Seruan ini menggugah semangat umat Islam di seluruh negeri, terutama para santri dan pejuang di Surabaya. Hasilnya, meletuslah pertempuran 10 November 1945, yang kita kenal sebagai Hari Pahlawan. Dan api semangat itu bermula dari para santri, dari pesantren, dari keikhlasan mereka untuk berjuang tanpa pamrih.
Maka, perjuangan santri adalah perjuangan iman dan kemerdekaan, perjuangan ilmu dan amal, perjuangan doa dan darah.
Khutbah Kedua
الحمد لله حمد الشاكرين، والصلاة والسلام على سيد الأنبياء والمرسلين، نبينا محمد، وعلى آله وصحبه أجمعين.
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,
Sebagai bentuk penghormatan terhadap jasa besar para santri, pemerintah Republik Indonesia pada tahun 2015 menetapkan tanggal 22 Oktober sebagai Hari Santri Nasional, melalui Keputusan Presiden Nomor 22 Tahun 2015.
Hari Santri bukan hanya simbol, tetapi pengingat peran besar dunia pesantren dalam perjuangan kemerdekaan dan pembangunan moral bangsa.
Santri telah menunjukkan bahwa cinta tanah air adalah bagian dari iman — “Hubbul wathan minal iman.”
Hari ini, semangat itu harus kita lanjutkan.
Santri masa kini harus menjadi pejuang ilmu, pejuang moral, dan pejuang kebangsaan. Jika dulu santri mengangkat bambu runcing, maka sekarang santri mengangkat pena, teknologi, dan akhlak mulia.
Marilah kita meneladani semangat para santri dan ulama yang mengajarkan bahwa jihad bukan sekadar perang fisik, tetapi juga berjuang melawan kebodohan, kemiskinan, dan perpecahan umat.
Jaga ukhuwah islamiyah, ukhuwah wathaniyah, dan ukhuwah insaniyah.
Semoga Allah menjadikan bangsa ini aman, damai, dan diberkahi dengan generasi santri yang berilmu dan berakhlak.
اللهم اغفر للمسلمين والمسلمات، والمؤمنين والمؤمنات، الأحياء منهم والأموات. اللهم اجعل بلدنا هذا بلداً آمناً مطمئناً، سخاءً رخاءً، وسائر بلاد المسلمين.
عباد الله، إن الله يأمر بالعدل والإحسان وإيتاء ذي القربى، وينهى عن الفحشاء والمنكر والبغي، يعظكم لعلكم تذكرون. فاذكروا الله العظيم يذكركم، واشكروه على نعمه يزدكم، ولذكر الله أكبر، والله يعلم ما تصنعون.