RADARBANYUWANGI.ID - Prestasi gemilang terus ditorehkan para siswa Banyuwangi.
Tidak hanya di tingkat nasional, sejumlah prestasi jenjang internasional juga berhasil direngkung para pelajar asal kabupaten the Sunrise of Java.
Salah satu prestasi tingkat dunia diraih Felicia Dahayu.
Pada 2024 lalu, Alumnus SDN 1 Pesanggaran yang kini menempuh pendidikan di SMP Lazuardi Banyuwangi tersebut berhasil mengibarkan bendera merah putih serta membawa harum nama Banyuwangi dengan meraih medali emas dalam kompetisi coding internasional di Korea Selatan.
Prestasi mentereng juga ditorehkan Ataka Ahnaf, siswa kelas 5 SD Islam Al Khairiyah.
Saat masih duduk di bangku kelas 4 SD, iia sukses membawa pulang medali perak dalam kompetisi Satria Coding AI yang berlangsung di Binus University pada 25 Juli lalu.
Hebatnya lagi, ia juga mampu meraih prestasi tersebut di kategori SMP.
Sederet prestasi tersebut merupakan buah dari program pembelajaran matematika dengan metode Gampang, Asyik, dan Menyenangkan (Gasing) yang digencarkan Dinas Pendidikan Banyuwangi sejak 2023.
Program ini merupakan hasil kerja sama pemkab dengan Yayasan Surya Institute.
Keberhasilan siswa Banyuwangi berlanjut di ajang Olimpiade Gasing Nasional (OGN) yang digelar pada 22–24 September lalu.
Dalam kompetisi itu, para putra-putri Banyuwangi mendominasi dengan menyapu bersih gelar juara pertama di semua kategori.
Melalui ajang itu, Tristan Maheswara menambah daftar panjang siswa berprestasi asal Banyuwangi.
Betapa tidak, ia meraih juara pertama di dua kategori sekaligus, yakni individu dan tim.
"Alhamdulillah, senang bisa juara 1. Kuncinya terus belajar dan kompak bersama tim. Semoga ke depan bisa dipertahankan,” tuturnya.
Sementara itu, Ataka mengatakan, metode Gasing membuat proses belajar lebih mudah serta membuat ia berhasil berbicara banyak di tingkat Nasional.
“Pas belajar di sekolah ikut buku. Tapi kalau di Gasing sesuai namanya, yakni gampang, asyik, menyenangkan. Jadi lebih konkret dan mudah dipahami untuk dipelajari, ujarnya.
Senada, Felicia menilai metode Gasing jauh lebih menarik dibanding metode konvensional.
“Kalau metode biasa itu lebih monoton. Kalau Gasing lebih mudah dipahami dan belajarnya menyenangkan. Kalau memang merasa capai kita boleh istirahat, lalu lanjut lagi. Jangan ter-distract sama HP, ” pesannya.
Kepala Dinas Pendidikan (Dispendik) Banyuwangi Suratno memberikan apresiasi tinggi atas capaian para siswa tersebut.
Termasuk prestasi anak-anak Banyuwangi pada OGN 2025.
“Syukur dan selamat atas pencapaian luar biasa. Sukses menjadi penyelenggara sekaligus peraih juara menjadikan Banyuwangi barometer matematika Gasing di Indonesia. Semoga dari Banyuwangi, pendidikan Indonesia makin maju,” harapnya.
Sementara itu, Prof. Yohanes Surya, pengagas metode Gasing, menilai Banyuwangi sebagai daerah yang tepat untuk menyalakan semangat pendidikan Di Indonesia.
“Seperti ujung timur Jawa yang pertama kali menyambut matahari, semoga dari Banyuwangi pula lahir sinar harapan baru bagi bangsa,” ungkapnya. (cw6/sgt)
Editor : Lugas Rumpakaadi