RADARBANYUWANGI.ID – Politeknik Negeri Banyuwangi (Poliwangi) melalui program hibah dari Direktorat Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (DPPM) Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains dan Teknologi, sukses menggelar program pengabdian yang berfokus pada penguatan wirausaha berbasis pengolahan pangan beku di Desa Tambong, Kecamatan Kabat, Banyuwangi.
Program yang menyasar Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Rekso Wijoyo ini bertujuan untuk memberdayakan masyarakat melalui pelatihan produksi dimsum dan bakso ayam, serta digitalisasi usaha untuk memperluas jangkauan pasar.
Inisiasi program ini berawal dari koordinasi erat antara Pemerintah Desa Tambong, yang diwakili oleh Kepala Desa Tambong Agus Hermawan, S.Sos., dan tim pengabdian Poliwangi.
Direktur BUMDes Rekso Wijoyo, Sholikah, turut menyambut baik inisiatif ini sebagai peluang strategis untuk mengembangkan sektor usaha baru di desa.
Menyadari tingginya minat masyarakat Tambong terhadap camilan, tim Poliwangi melihat celah pasar yang menjanjikan pada makanan sehat dan praktis, yaitu pangan beku (frozen food).
Program pengabdian ini merupakan bagian dari Pendanaan Bantuan Operasional Perguruan Tinggi Negeri Program Pengabdian kepada Masyarakat Batch II Tahun 2025 yang diselenggarakan oleh DPPM.
Kegiatan yang dilaksanakan pada Bulan September 2025 oleh tim pengabdian Poliwangi yang solid. Tim inti dipimpin oleh Novilia Kareja, S.E., M.A. dan Astri Iga Siska, S.Pi., M.P. dari Program Studi Pengembangan Produk Agroindustri, serta Ruth Ema Febrita, S.Pd., M.Kom dari Program Studi Teknologi Rekayasa Perangkat Lunak.
Didukung juga oleh mahasiswa berdedikasi; Zihan Krisna Nur Rohmah, Shella Arum Robadiyah, Ali Mashuri, Mohamad Miftahussifa Zakki Atqiy dari Jurusan Pertanian dan Muhammad Aldyn Ismail Putra dari Jurusan Bisnis dan Informatika.
Ketua tim pengabdian Poliwangi Novilia Kareja mengatakan kegiatan ini bertujuan untuk mentransformasi potensi lokal menjadi kekuatan ekonomi yang nyata. Dengan membekali masyarakat dengan keterampilan mengolah pangan beku.
“Program ini diharapkan dapat menciptakan kemandirian wirausaha, membuka lapangan kerja baru, dan meningkatkan pendapatan keluarga,” jelasnya.
Pelaksanaan program dimulai dengan koordinasi bersama Direktur BUMDes Rekso Wijoyo, Sholikah. Tim pengabdian Poliwangi memahami bahwa ketersediaan bahan baku lokal dan antusiasme masyarakat menjadi modal utama.
Tim selanjutnya merancang kurikulum pelatihan yang praktis dan aplikatif. “Pelatihan ini tidak hanya berfokus pada teknik pengolahan, tetapi juga pada aspek higienitas dan standarisasi produk,” terang Novilia.
Selanjutnya, peserta diajarkan cara membuat dimsum dan bakso ayam yang lezat, dengan tambahan parutan wortel untuk meningkatkan nilai gizi. Setiap peserta terlibat langsung dalam praktik mandiri, memastikan mereka benar-benar menguasai proses produksi dari hulu ke hilir.
“Antusiasme para ibu-ibu peserta sangat luar biasa, terbukti dari semangat mereka saat mencoba setiap tahapan pembuatan,” kata Novilia.
Selain pendampingan produksi, tim pengabdian Poliwangi juga memberikan pendampingan digitalisasi usaha. Tahap ini menjadi kunci untuk memperluas jangkauan pasar produk BUMDes Rekso Wijoyo.
“Melalui pelatihan pemasaran digital, produk olahan ini diharapkan dapat menjangkau konsumen di luar Desa Tambong, melalui platform e-commerce dan media sosial,” ungkap Astri Iga Siska anggota tim inti pengabdian Poliwangi.
Program ini menjadi bukti nyata sinergi antara akademisi dan komunitas desa dalam menciptakan dampak positif. Keberhasilan program ini tidak hanya diukur dari produk yang dihasilkan, tetapi juga dari semangat kewirausahaan yang tumbuh di masyarakat Tambong.
“BUMDes Rekso Wijoyo diharapkan menjadi motor penggerak ekonomi yang mandiri dan inovatif, membuka jalan bagi desa-desa lain untuk mencontoh langkah serupa dalam memberdayakan masyarakatnya,” cetusnya.
Untuk memastikan keberlanjutan program, tim pengabdian Poliwangi juga menyediakan bantuan berupa alat-alat penunjang produksi, seperti chopper, freezer, set kompor, dan vacuum sealer.
“Bantuan ini sangat krusial untuk menunjang skala produksi yang lebih besar dan menjaga kualitas produk olahan agar dapat bertahan lama,” pungkas Astri Iga Siska. (*)
Editor : Ali Sodiqin