RADARBANYUWANGI.ID - Dinas Pendidikan (Dispendik) Banyuwangi menggelar lomba Gerakan Sekolah Sehat (GSS) tingkat SMP yang berlangsung sejak 24 Juli hingga 11 September.
Seluruh SMP negeri maupun swasta di Banyuwangi ikut serta dalam ajang ini sebagai implementasi program fasilitas sekolah sehat.
Pada tahap akhir, lima sekolah terpilih sebagai finalis setelah melalui proses seleksi dan kunjungan lapangan.
SMPN 3 Banyuwangi akhirnya keluar sebagai juara pertama, disusul SMPN 2 Genteng di posisi kedua, SMPN 1 Cluring sebagai juara ketiga.
Selain itu, SMPN 1 Purwoharjo berada di posisi keempat dan SMPN 1 Glagah di urutan kelima.
Kepala Dispendik Banyuwangi Suratno menyebutkan bahwa GSS merupakan langkah strategis untuk menanamkan kesadaran pentingnya hidup sehat sejak dini.
“Dalam program GSS, kami fokus mengedukasi di lingkungan sekolah untuk meningkatkan kesehatan peserta didik. Edukasi ini berfokus pada lima pilar utama,” ujarnya.
Kelima pilar itu adalah sehat bergizi, sehat fisik, sehat imunisasi, sehat jiwa, dan sehat lingkungan sekolah.
Kepala Bidang (Kabid) SMP Dispendik Banyuwangi Didik Eko Wahyudi menambahkan, GSS mencakup berbagai program yang sudah berjalan di sekolah, di antaranya Adiwiyata, Usaha Kesehatan Sekolah (UKS), Rapor Kesehatan, serta pemantauan perkembangan kesehatan siswa.
“Semua program tersebut menjadi bagian dalam implementasi GSS yang berjalan berkesinambungan di sekolah-sekolah,” terangnya.
Wakil Kepala SMPN 3 Banyuwangi Bidang Kurikulum Hairul mengungkapkan bahwa komitmen bersama seluruh warga sekolah menjadi kunci utama SMPN 3 Banyuwangi meraih juara GSS.
“Mulai kepala sekolah, guru, tenaga kependidikan, siswa, komite, orang tua, hingga masyarakat sekitar ikut bergerak bersama. Budaya sehat sudah kami jalankan bukan hanya ketika ada lomba, tapi menjadi kebiasaan sehari-hari,” jelasnya.
Menurut Hairul, SMPN 3 Banyuwangi menguatkan lima pilar sekolah sehat melalui berbagai program nyata, mulai kebersihan kelas, kantin sehat, koperasi ramah lingkungan, gerakan zero plastik, hingga pengolahan sampah berkelanjutan dengan misi sampah berhenti di sekolah.
“Ini bukan hasil instan, melainkan buah dari budaya sehat yang telah terbentuk hampir empat tahun terakhir. Ada lebih dari sembilan inovasi yang kami lakukan dari total 19 inovasi sekolah dalam GSS, semuanya sudah dijalankan dan memberi dampak nyata,” pungkasnya. (cw6-M Ksatria Raya/sgt)
Editor : Ali Sodiqin