RADARBANYUWANGI.ID – Istilah “Sabdatama” tidak hanya populer lewat musik, tetapi juga punya akar mendalam dalam sejarah Jawa.
Raden Ngabehi Ranggawarsita, pujangga besar Jawa abad ke-19, menulis Serat Sabdatama.
Karya itu berisi nasihat moral tentang menjauhi sifat buruk, menegakkan kebijaksanaan, serta menjaga diri agar tetap berada di jalan kebenaran.
Dalam tradisi sastra, Sabdatama dipandang sebagai pesan yang luhur dan abadi.
Namun, makna Sabdatama tidak berhenti di ranah sastra. Dalam kehidupan politik Yogyakarta modern, istilah ini hidup kembali lewat pernyataan resmi Sri Sultan Hamengkubuwono X.
Sultan pernah dua kali mengeluarkan Sabdatama, yakni pada 2012 dan 2015, untuk menegaskan posisi Kraton, Paku Alaman, serta hubungan dengan Undang-Undang Keistimewaan Yogyakarta.
Sabdatama dalam konteks ini bukan sekadar pidato. Ia adalah simbol legitimasi, pengingat bahwa Jogja memiliki keistimewaan yang diakui secara hukum dan tradisi.
Pidato itu juga menegaskan bahwa Kraton adalah penjaga nilai-nilai Mataram, yang tetap relevan meski dunia terus berubah.
Bagi warga Jogja, Sabdatama Sultan dipandang sebagai suara hati pemimpin yang tidak hanya berbicara tentang aturan, tetapi juga tentang filosofi hidup.
Pernyataan itu menjadi pengikat antara masa lalu dan masa kini, antara tradisi dan modernitas.
Dengan demikian, Sabdatama tampil dalam dua wajah: sebagai sastra yang penuh petuah, dan sebagai pidato politik yang mengikat.
Keduanya sama-sama mengajarkan kebijaksanaan, ketaatan pada nilai, serta keteguhan dalam menghadapi tantangan zaman. Inilah yang membuat istilah Sabdatama begitu dalam maknanya. (*)
Ikuti terus berita ter-update Radar Banyuwangi di Google News
Editor : Ali Sodiqin