Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

ISI Surakarta Resmi Hadir di Banyuwangi, Cetak Generasi Emas Seni dan Budaya!

Tim Redaksi Radar Banyuwangi • Kamis, 11 September 2025 | 13:00 WIB
BANGUN SINERGI: (dari kiri) Bupati Ipuk, PJ Sekkab Guntur Priambodo, dan Rektor ISI Surakarta  Prof. Dr. I Nyoman Sukerna menunjukkan dokumen kerja sama.
BANGUN SINERGI: (dari kiri) Bupati Ipuk, PJ Sekkab Guntur Priambodo, dan Rektor ISI Surakarta Prof. Dr. I Nyoman Sukerna menunjukkan dokumen kerja sama.

RADARBANYUWANGI.ID - Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta resmi membuka kelas di Banyuwangi, Rabu (10/9).

Kehadiran ISI merupakan langkah besar yang dinilai akan memperkuat ekosistem seni dan budaya di ujung timur Pulau Jawa. Bupati Ipuk Fiestiandani hadir untuk memimpin prosesi inagurasi.

Peresmian ditandai dengan prosesi potong pita dan penempelan plakat lambang ISI oleh Bupati Ipuk Fiestiandani di lobi gedung baru yang berlokasi di eks Kantor Badan Pertanahan Nasional (BPN) Banyuwangi, Jalan Dr. Sutomo, Rabu (10/9).  

Acara inagurasi berlangsung khidmat sekaligus meriah dan dihadiri berbagai tokoh penting daerah.

Turut hadir Pj Sekkab Guntur Priambodo, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Taufiq Rohman, budayawan Aekanu Haryanto, Ketua Dewan Kesenian Blambangan (DKB) Hasan Basri, Majelis Kehormatan DKB sekaligus Direktur Radar Banyuwangi Samsudin Adlawi, serta Rektor ISI Surakarta Prof. Dr. I Nyoman Sukerna. Kehadiran para tokoh ini sekaligus menjadi penanda kuatnya dukungan lintas sektor terhadap keberadaan ISI di Banyuwangi.

Rektor ISI Surakarta Prof. Nyoman Sukerna menjelaskan, Banyuwangi dipilih sebagai lokasi kelas jauh ISI karena memiliki potensi seni dan budaya yang luar biasa.

Menurutnya, Banyuwangi sudah lama dikenal sebagai daerah dengan tradisi budaya yang hidup dan dinamis. Namun, potensi itu perlu ditopang dengan pendidikan tinggi seni formal agar semakin berkembang.

“Perguruan tinggi seni harus melakukan transformasi, terobosan, serta membangun link and match dengan dunia kerja. Mahasiswa ISI disiapkan menjadi insan seni yang tidak hanya terampil, tetapi juga adaptif terhadap perkembangan zaman. Penguasaan soft skill, inovasi, serta kemampuan praktis menjadi target utama agar mereka bisa berkontribusi nyata, baik di dunia seni maupun dunia kerja yang lebih luas,” ujarnya.

Ia menambahkan, meski baru membuka dua program studi (ethnomusikologi dan tari), ke depan ISI Surakarta kelas Banyuwangi akan terus berkembang.

“Ibu Bupati tadi juga menyampaikan dukungannya. Kami berharap nantinya bisa ada tambahan prodi seperti film, televisi, batik, hingga 22 prodi yang dimiliki ISI,’’ kata Nyoman Sukerna.

Dia menambahkan, Banyuwangi menjadi pilihan pertama ISI Surakarta karena potensinya yang luar biasa.

Nyoman Sukerna ingin segera melahirkan lulusan yang peduli pada warisan leluhur sekaligus siap membawa seni ke level yang lebih tinggi.

”Meski saat ini baru dua prodi, kami bersama pemerintah daerah akan terus berupaya memberikan fasilitas tambahan. Bertahap, tetapi pasti, ISI Surakarta di Banyuwangi akan berkembang lebih besar,” ungkapnya.

Bupati Ipuk Fiestiandani menyebut momen ini sebagai hari bersejarah bagi Banyuwangi.

Ia menilai kehadiran ISI Surakarta di Banyuwangi bukan hanya tentang berdirinya sebuah kampus, tetapi juga wujud nyata dari mimpi panjang para seniman daerah yang ingin memiliki ruang akademik untuk memperkuat eksistensi seni dan budaya.

Ipuk berharap mahasiswa ISI Banyuwangi tidak hanya menjadi pelaku seni, tetapi juga akademisi yang memperkuat dunia seni dan budaya di daerah. Banyuwangi adalah laboratorium hidup, kaya dengan warisan budaya tak benda.

”Kehadiran ISI sangat strategis, karena tanpa inovasi seni bisa stuck. Dengan inovasi, seni Banyuwangi akan terus hidup dan berkembang,” kata Ipuk.

Ipuk menegaskan pendirian ISI Surakarta kelas Banyuwangi adalah bagian dari cita-cita besar untuk memperkuat DNA seni masyarakat Banyuwangi.

Ia berharap, ke depan, mahasiswa yang belajar di kampus ini mampu melahirkan penelitian, inovasi, sekaligus karya-karya kreatif yang mengangkat seni dan budaya Banyuwangi ke panggung nasional maupun internasional.

Dengan peresmian ini, Banyuwangi semakin menegaskan diri sebagai pusat kebudayaan dan pendidikan seni di Jawa Timur.

Kehadiran ISI Surakarta kelas Banyuwangi diharapkan bisa melahirkan seniman sekaligus akademisi yang berperan besar dalam menjaga, mengembangkan, dan mempromosikan kekayaan Seni dan Budaya di Banyuwangi. (cw5-Dalila Adinda/aif)

Editor : Ali Sodiqin
#budaya #ISI Banyuwangi #seni #isi surakarta #banyuwangi