RADARBANYUWANGI.ID - Warisan literasi kuno di Banyuwangi terus mendapat perhatian serius. Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Dispusip) Banyuwangi mencatat sudah ada 73 naskah kuno yang berhasil ditemukan, 20 di antaranya telah didigitalisasi, termasuk salinan isi dari Lontar Sritanjung yang menjadi ikon identitas kultural daerah.
“Salah satu tugas kami adalah mengumpulkan naskah kuno. Hingga saat ini sudah ada 73 naskah yang berhasil didata secara bertahap,” ujar Kepala Dispusip Banyuwangi, Zen Kostolani.
Kondisi naskah yang ditemukan bervariasi. Ada yang masih berada di tangan pemilik pribadi, ada pula yang kondisinya sangat terbatas sehingga tidak bisa dilihat secara langsung dan lain sebagainya. “Kami menghadapi beragam situasi. Ada pemilik yang membuka akses penuh, ada pula yang membatasi karena faktor berbagai macam faktor,” jelasnya.
Dari 73 naskah yang terkumpul, sekitar 20 sudah tersalin ke dalam format digital. Salinan itu kini bisa diakses masyarakat melalui website resmi Dispusip Banyuwangi. “Dengan digitalisasi, setiap lembar naskah bisa dinikmati tanpa harus menyentuh fisik manuskrip. Ini bagian dari upaya menjaga sekaligus memperluas akses bagi publik,” kata Zen.
Ia menegaskan, setiap naskah memiliki nilai mendalam yang tidak sekadar teks. Di dalam naskah kuno ada pesan tersurat dan tersirat yang diwariskan leluhur. ”Dengan digitalisasi, kita memastikan pesan itu tetap hidup dan bisa dipelajari lintas generasi,” tambahnya.
Dalam upaya pelestarian manuskrip, Dispusip Banyuwangi tidak bekerja sendiri. Sejumlah organisasi seperti Masyarakat Pernaskahan Nusantara (Manassa) dan Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN) Osing turut mendukung.
Ketua Manassa Munawar Holil menegaskan, pentingnya kesadaran menjaga warisan budaya sejak dini. “Manuskrip adalah literasi leluhur yang sering kita abaikan. Baru ketika budaya kita diambil negara lain, kita merasa kehilangan. Padahal, naskah ini adalah tonggak peradaban dan literasi budaya kita,” tegasnya.
Seperti Lukisan Monalisa di Prancis mampu menarik jutaan wisatawan yang tidak hanya berpacu pada wisata alam saja. Tidak semua orang datang ke Banyuwangi hanya ingin melihat keindahan alam. ”Wisata budaya, termasuk manuskrip, juga patut kita rawat agar bisa menjadi daya tarik orang yang datang,” tambahnya.
Ketua AMAN Osing, Wiwin Indiarti menilai pelestarian manuskrip sebagai upaya menghidupkan kembali narasi budaya melalui tulisan. “Merawat dan melestarikan manuskrip bukan sekadar menjaga benda tua, tapi menghidupkan kembali identitas. Salah satunya dengan menkonservasi Lontar Sritanjung. Naskah yang sudah menjadi ikon nasional pada 2024 itu kini dipersiapkan untuk di ajukan ke dalam Memory Of The World Program (MOWCAP),” jelasnya.
Dengan langkah ini, naskah-naskah kuno Banyuwangi bukan hanya tersimpan sebagai arsip daerah, tetapi juga bisa menjadi rujukan akademik, pendidikan, sekaligus memperkaya identitas budaya bangsa. ”Di layar-layar gawai anak-anak Banyuwangi hari ini, kisah zaman dulu yang tertulis rapi oleh para leluhur salah satunya kisah dari Sritanjung. Ceritanya tentang kesetiaan dan keharuman cinta kembali bernyawa, melampaui waktu dan menjaga tetap terhubung dengan akarnya,’’ kata Wiwin. (mg6-M Ksatria Raya/aif)
Editor : Ali Sodiqin