Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Banyuwangi Gaet ISI Surakarta! DKB Resmi Dukung Penguatan Kampus Seni Berbasis Budaya Lokal

Ali Sodiqin • Rabu, 10 September 2025 | 11:45 WIB
ISI Surakarta Gandeng DKB untuk memperkuat Ekosistem Seni dan Budaya Banyuwangi.
ISI Surakarta Gandeng DKB untuk memperkuat Ekosistem Seni dan Budaya Banyuwangi.

RADARBANYUWANGI.ID – Pemkab Banyuwangi memfasilitasi penandatanganan nota kesepahaman (MoU) antara Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta dengan Dewan Kesenian Blambangan (DKB), Selasa (9/9) di lounge Pemkab Banyuwangi.

Kerja sama ini menegaskan komitmen penguatan ekosistem seni dan budaya di Banyuwangi, terutama melalui dukungan akademik dan praktisi lokal.

Sejumlah tokoh hadir dalam acara tersebut. Antara lain Pj Sekkab Banyuwangi Guntur Priambodo, Kepala Dinas Pendidikan Suratno, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Taufiq Rohman, budayawan Aekanu Haryanto, Ketua Dewan Kesenian Blambangan Hasan Basri, Majelis Kehormatan DKB sekaligus Direktur Jawa Pos Radar Banyuwangi Samsudin Adlawi, serta Rektor ISI Surakarta I Nyoman Sukerna.

Ketua DKB Hasan Basri mengatakan, DKB akan berperan aktif mendukung ISI Surakarta dalam proses perkuliahan di kampus Banyuwangi. Dukungan itu mencakup penyusunan kurikulum hingga merekomendasikan praktisi seni lokal sebagai tenaga pengajar.

“Saat ini sudah ada delapan praktisi mengajar dari Banyuwangi yang aktif di ISI. Empat orang di prodi etnomusikologi dan empat lainnya di prodi tari. Ke depan jumlahnya bisa bertambah sesuai kebutuhan,” ujarnya.

Hasan menambahkan, kurikulum yang diterapkan di ISI Surakarta kampus Banyuwangi memang berorientasi pada kekhasan budaya lokal. Meski nomenklatur mata kuliah masih sama dengan kampus induk di Surakarta, kontennya telah disesuaikan dengan tradisi Banyuwangi.

“ISI berkomitmen bahwa kampus Banyuwangi akan tetap berwarna Banyuwangi. Kurikulumnya dibicarakan bersama dengan para seniman lokal. Jadi meskipun nama mata kuliah masih sama dengan Surakarta, isinya berbeda. Fokusnya pada budaya Banyuwangi, Jawa Timur, Nusantara, hingga musik global,” jelasnya.

Sebagai contoh, Hasan menyebut perbedaan karakter tari antara Banyuwangi dan Surakarta. Di Surakarta banyak dijumpai tari keprajuritan yang gagah karena pengaruh keraton. Sementara di Banyuwangi tarian lebih menonjolkan perpaduan peran laki-laki dan perempuan.

“Tari keprajuritan sulit ditemukan di Banyuwangi. Yang ada tarian khas laki-laki dan perempuan. Ini semua menyesuaikan konten lokal,” tambahnya.

Rektor ISI Surakarta, I Nyoman Sukerna, dalam kesempatan tersebut menegaskan bahwa kolaborasi dengan DKB menjadi langkah penting menjaga agar kampus ISI di Banyuwangi benar-benar berakar pada kekayaan budaya daerah.

Semangat ”Seduluran Selawase” atau persaudaraan abadi pun digaungkan sebagai simbol komitmen kerja sama yang berkelanjutan.

Dengan sinergi akademisi, seniman, dan pemerintah daerah, kerja sama ISI Surakarta dan DKB diharapkan mampu memperkuat posisi Banyuwangi sebagai pusat pengembangan seni budaya yang khas sekaligus terbuka terhadap perkembangan global. (cw5-Dalila Adinda/aif)

Editor : Ali Sodiqin
#sinergi #budaya #ISI Banyuwangi #dkb #Kampus Baru #Seniman #isi surakarta #akademisi