RADARBANYUWANGI.ID – Ruang perpustakaan yang dahulu ramai kini banyak yang sunyi. Rak-rak buku berdiri megah, namun pengunjung sepi. Fenomena ini terjadi di berbagai daerah, termasuk Banyuwangi, menandakan bahwa budaya membaca buku semakin tergeser oleh teknologi dan informasi instan.
Padahal, seperti yang disebutkan oleh UNESCO dalam laporan 2024, kemampuan literasi erat kaitannya dengan cara berpikir kritis dan daya tangkap pelajar dalam bersosialisasi. Ketika budaya membaca buku melemah, pemahaman mendalam dan kemampuan menyelesaikan masalah pun ikut menurun.
Bahkan data dari Perpusnas RI tahun 2023 menunjukkan bahwa hanya sekitar 17% pelajar yang secara rutin mengunjungi perpustakaan. Sisanya lebih banyak mengandalkan sumber instan seperti TikTok, YouTube Shorts, atau rangkuman AI.
Salah satu pustakawan di Banyuwangi, Siti Nur Hasanah, mengaku ruang baca di tempatnya kini hanya ramai saat ada tugas wajib dari guru. “Anak-anak datang kalau disuruh cari referensi tugas. Di luar itu, jarang,” tuturnya.
Hal ini menimbulkan istilah baru: “literasi instan” memahami satu topik hanya dari potongan teks atau video kurang dari semenit. Konsep ini terdengar efisien, namun berbahaya. Pelajar kehilangan kedalaman berpikir, serta kemampuan berdebat, berdiskusi, dan memahami konteks sosial yang lebih luas.
Sementara itu, perpustakaan sebagai ruang publik justru punya potensi besar. Selain sebagai gudang buku, ia bisa berfungsi sebagai ruang refleksi, diskusi komunitas, bahkan laboratorium ide kreatif.
Sayangnya, tanpa strategi nasional yang konkret dalam menghidupkan kembali budaya baca, ruang-ruang ini akan terus sunyi. Program revitalisasi perpustakaan memang berjalan di beberapa daerah, namun tanpa dorongan langsung dari sekolah dan keluarga, minat baca sulit ditanamkan sejak dini.
Penting bagi semua pihak untuk menyadari bahwa literasi bukan sekadar kemampuan membaca. Ia adalah cara berpikir. Dan buku, adalah alatnya. Ketika pelajar terbiasa membaca buku panjang dan mendalam, ia akan terbiasa pula berpikir panjang dan mendalam, kualitas yang makin langka di tengah era serba cepat seperti sekarang.
Penulis: Devi Fathihatul Asliha | magang jurnalistik Radar Banyuwangi
Ikuti terus berita ter-update Radar Banyuwangi di Google News
Editor : Ali Sodiqin